RADARSOLO.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri mulai pasang kuda-kuda menghadapi puncak musim kemarau 2026.
Langkah ini diwujudkan dengan menyiapkan skema penyaluran bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang teridentifikasi rawan kekeringan.
Meskipun hingga akhir Juli belum menerima permohonan resmi dari masyarakat, BPBD mencatat sejumlah sumber air di beberapa wilayah kecamatan mulai mengalami penurunan debit.
Baca Juga: Pemkot Solo Cetak SDM Siap Kerja, 160 Warga Ikuti Pelatihan Barista hingga Masakan Nusantara
Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri Fuad Wahyu Pratama menjelaskan, pematangan persiapan dropping air bersih merupakan upaya respons cepat antisipatif bila sewaktu-waktu pasokan air bersih warga menipis.
Beberapa kawasan yang dilaporkan mulai merasakan penyusutan pasokan air meliputi Kecamatan Giriwoyo, Giritontro, dan Karangtengah.
"Ini sudah mulai persiapan dropping air bersih untuk antisipasi apabila ada permintaan bantuan air dari wilayah," ujar Fuad Wahyu Pratama.
Berdasarkan pemetaan komprehensif BPBD Wonogiri, terdapat 7 kecamatan yang masuk dalam kategori rawan kekeringan, yaitu:
- Pracimantoro
- Paranggupito
- Giritontro
- Nguntoronadi
- Eromoko
- Giriwoyo
- Manyaran
Secara keseluruhan, ada 19 desa yang berpotensi terdampak dengan estimasi populasi mencapai 16.883 jiwa.
Fuad menerangkan, krisis air bersih umumnya tidak melanda seluruh area desa secara merata, melainkan terkonsentrasi di dusun atau lingkungan tertentu yang kondisi geologisnya terbilang lebih rentan.
Baca Juga: Dinkes Boyolali Temukan 907 Kasus TBC Baru hingga Juli 2026, Penemuan Suspek Pecah Rekor
Kendati demikian, jika durasi musim kemarau berlangsung lebih panjang dari proyeksi awal, cakupan dampaknya berisiko meluas hingga mencakup 14 kecamatan.
Mengacu pada data prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau di wilayah "Kota Sukses" diprediksi berlangsung pada Agustus 2026 dengan kondisi curah hujan yang lebih kering dari biasanya.
Menyikapi hal tersebut, masyarakat diimbau untuk mulai melakukan penghematan konsumsi air bersih secara bijak.
Selain risiko krisis air bersih, BPBD Wonogiri turut menyoroti peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang musim kemarau.
Baca Juga: KPK Sisir Rumah Pejabat Hingga Sopir Eks Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya
Warga diminta ekstra waspada dan tidak membakar sampah sembarangan tanpa pengawasan, memastikan kobaran api benar-benar padam, serta membuang puntung rokok pada tempatnya.
Terkait dukungan operasional penanganan kekeringan, pihak BPBD memastikan ketersediaan alokasi dana darurat yang siap digelontorkan untuk pemenuhan hak dasar masyarakat.
"Ada anggaran sekira Rp 300 juta untuk mendukung penyaluran bantuan air bersih. Warga yang mulai mengalami kesulitan air bisa segera melapor melalui pemerintah desa atau kecamatan," pungkas Fuad. (al)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com