RADARSOLO.COM-Orang tua Rafasya Maliq Ibrahim (10), asal Kecamatan Wonogiri Kota yang sakit infeksi usus buka suara.
Ayah kandung dan ibu tiri Rafasya membantah adanya dugaan penelantaran anak.
ER (37) ibu tiri Rafasya menceritakan pada awal 2025 lalu Rafasya sempat mengeluhkan sakit perut.
Saat itu, sang anak diperiksakan di klinik dan sempat kembali bugar.
"Selang beberapa waktu sambat lagi sakit perut tambah tidak mau makan dan kondisinya turun. Saya bawa ke spesialis anak. Saya bawa ke PKU Nambangan (RS Muhammadiyah Selogiri,red)," ujar dia Kamis (17/9/2026) malam.
Hasil emeriksaan medis mengarah ke TB paru.
Saat itu, Rafasya ikut tinggal dengan ER serta suaminya di Kelurahan Wonoboyo, Kecamatan Wonogiri Kota.
Namun, dua bulan menjalani pengobatan kondisinya tak kunjung membaik.
ER menuturkan, kondisi Rafasya juga diperparah dengan gizi buruk.
"Setelah itu terapi gizi buruk. Sebenarnya harus rawat inap untuk pemberian susu setiap dua jam. Rafa nggak mau rawat inap. Dokternya bilang yang berjuang berarti ibunya yang buatin susu tiap dua jam. Oke, demi anak," papar ER.
Setelah itu, dia menyebut Rafasya kerap meminta untuk diantar ke tempat kakek dan neneknya. ER meminta agar asupan makanan dijaga.
"Setiap kondisinya mendingan minta ke tempat mbahnya. Waktu itu masih di Giriwono," kata ER.
Namun, imbuh ER, suatu ketika anaknya mengeluhkan sakit jetika buang air kecil.
Kemudian setelah diobatkan oleh kakek dan neneknya, feses anaknya keluar dari jalur yang tak semestinya (lewat urin).
"Saya tahunya dari tenaga medis di dekat sana. Dokter anaknya diinfo juga. Saya tanya anaknya ternyata benar, saya bawa pulang. Itu sekitar Agustus 2025," urai ER.
RS Muhammadiyah Selogiri, kata dia, belum bisa mendeteksi apa sakit anaknya.
Saat itu, pengobatan awal dibayar mandiri. Setelah itu, akhirnya BPJS didaftarkan baru secara mandiri.
Rafasya kemudian dirujuk ke RSUP dr. Sardjito Jogjakarta. Kemudian mendapatkan sejumlah perawatan dan operasi. Termasuk langkah kolostomi dan langkah medis lainnya
"Saat itu kami membersamai anak juga. Tidak menelantarkan," tegas ER.
Sudah kerap Rafasya masuk ruang operasi. Termasuk pengambilan sampel di bagian tubuhnya.
ER menegaskan, tak ada penelantaran anak yang terjadi. Dia dan suaminya merawat Rafasya.
Disinggung informasi soal kontrol yang berhenti tiga bulan terakhir, ER mengatakan kontrol terakhir dilakukan pada Juli lalu.
"Saya koordinasi dengan dokter katanya fokusnya medikasi sambil makan makanan bergizi. Kata dokter kontrol kalau ada keluhan. Rujukan perpanjangan terus," papar dia.
Menurut dia, saat kontrol di RSUP dr. Sardjito hanya dilakukan medikasi. Tidak ada obat yang diberikan.
"Njenengan bisa konfirmasi ke Sardjito. Setiap kali ke sana saya minta obat apa, antibiotik, penambah nafsu makan, tidak ada. Anak harus dimotivasi agar mau makan. Poinnya di situ," terangnya.
Lalu mengapa Rafasya tak dirawat saja di rumah ER dan suaminya?
TL (40) ayah kandung Rafasya menambahkan, sang anak sejak kecil sangat dekat dengan kakek dan nenek dari mendiang ibunya.
"Sejak kecil sudah dekat dengan kakek dan neneknya," beber dia.
Soal rumah kakek dan nenek Rafasya di Kelurahan Giruwono yang dijual, TL mengatakan sepengetahuannya rumah itu sudah dijual sejak lama, sebelum Rafasya sakit.
Hanya saja, kakek dan neneknya masih menempati rumah itu sebelum kini mengontrak di Desa Sendang.
Sebelumnya diberitakan, Rafasya Maliq Ibrahim (10) asal Kecamatan Wonogiri Kota mengalami infeksi usus.
Namun, anak laki-laki yang seharusnya mendapatkan perawatan secara khusus itu malah diduga ditelantarkan.
Baca Juga: TheeWave Resmi Jadi Couple, Kini Muncul Bareng di MV “Brightest Sky”
Bocah itu kini tak bisa beraktivitas dan hanya terbaring di ranjang.
Apa yang dialami Rafasya mencuri perhatian pihak-pihak terkait.
Anggota DPRD Wonogiri hingga Pemkab Wonogiri turut memberikan atensi kepada anak tersebut. (al)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com