RADARSOLO.COM - Turunnya volume air Waduk Gajah Mungkur (WGM) yang melintasi kawasan Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri, kembali menyingkap keberadaan batu nisan kuno yang selama ini tenggelam di dasar waduk.
Munculnya deretan makam tersebut mengingatkan warga lokal pada sosok Eyang Raden Santri.
Tokoh yang dikenal sebagai sesepuh Kampung Sentono, Desa Ngungkingsari, sebelum kawasan permukiman tersebut terendam proyek pembangunan WGM.
Baca Juga: Pamsimas Mengering Total saat Puncak Kemarau, Warga Banyuanyar Boyolali Antre Air hingga Beli Tangki
Tokoh masyarakat Kelurahan Wuryantoro, Suparso, 77, menuturkan, areal pemakaman yang kembali terlihat di dasar waduk tersebut semula merupakan kompleks pemakaman umum warga setempat. Sekaligus makam keluarga Eyang Raden Santri.
"Dulunya itu makam kampung. Sesepuhnya, namanya Eyang Raden Santri. Lalu makam itu juga makam keluarganya, anak cucu, dan juga jadi makam umum," ujar Suparso.
Kisah Legenda Pertemuan dengan Wali Songo
Suparso menceritakan kisah tutur masyarakat tentang Eyang Raden Santri yang semula adalah seorang petani biasa.
Pada suatu hari, sewaktu mencangkul untuk membuat saluran irigasi di sawahnya, Eyang Raden Santri dihampiri oleh seorang pria misterius yang berjalan melintasi parit tersebut.
Merasa khawatir saluran airnya rusak, Eyang Raden Santri sempat menegur sosok tersebut.
Namun, setelah dicek, saluran air tidak mengalami kerusakan sedikit pun. Karena merasa heran dan asing, ia lalu mengejar pria tersebut.
Baca Juga: Keluarga di Boyolali Cemas Tunggu Kepastian Nasib Danang dan Deni Penumpang Kapal Virgo Transport 8
Sosok misterius itu lantas mengajak Eyang Raden Santri menuju tepi Sungai Bengawan Solo dan membuatkan sebuah rakit kayu.
Pria tersebut berpesan agar Eyang Raden Santri tidak beranjak turun sebelum rakit yang ditumpanginya berhenti secara alami.
Eyang Raden Santri kemudian hanyut menyusuri aliran Bengawan Solo selama beberapa hari hingga rakitnya berlabuh di kawasan Desa Sendangijo, Kecamatan Selogiri.
Warga setempat menemukan Eyang Raden Santri dalam kondisi lemas akibat terombang-ambing tanpa asupan makanan.
"Di sana Eyang Raden Santri diislamkan, diajari baca surat-surat Al-Qur'an. Setelah itu, dia disuruh pulang dan menyiarkan agama Islam," beber Suparso.
Suparso memperkirakan bahwa sosok pria misterius yang membawa Eyang Raden Santri menyusuri aliran sungai merupakan bagian dari jajaran Wali Songo.
"Pria yang diikuti Eyang Raden Santri itu, kita prediksi adalah Wali Songo. Entah Sunan Kalijogo atau Sunan Giri," lanjutnya.
Setibanya kembali di Kampung Sentono, Eyang Raden Santri aktif mendakwahkan ajaran agama Islam hingga menjadi figur pimpinan yang amat dihormati warga.
Relokasi Kerangka Sebelum Proyek Waduk
Pada masa lalu, makam Eyang Raden Santri ramai dikunjungi oleh para peziarah.
Namun, mega proyek pembangunan Waduk Gajah Mungkur pada kurun waktu 1974–1981 menenggelamkan sebanyak 51 desa yang tersebar di tujuh kecamatan, termasuk wilayah Kampung Sentono.
Baca Juga: Cuaca Kering dan Polusi Debu Kemarau, Kasus ISPA di Boyolali Melonjak Drastis
Sebelum proses penggenangan air dilakukan, kerangka jenazah telah dipindahkan pihak keluarga ke area pemakaman baru di daerah Balat, di dekat Kantor Kelurahan Wuryantoro.
Menurut Suparso, kerangka Eyang Raden Santri pun turut dipindahkan.
"Nisannya yang lama dibuang, di sana dibuat nisan yang baru yang lebih bagus. Termasuk Eyang Raden Santri yang kerangkanya juga dipindah. Kalau makam yang itu (WGM) sudah kosong, sudah dipindah semua," jelasnya. (al)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com