RADARSOLO.COM - Batik remekan menjadi salah satu motif khas Wonogiri yang hingga kini masih dipertahankan para perajin.
Motif tersebut memiliki ciri berupa pecahan atau retakan tidak beraturan yang membentuk garis-garis pada kain.
Salah satu perajin yang masih mengembangkan motif tersebut adalah Aris Supriyadi, pelaku usaha batik tulis dan cap di Tirtomoyo, Wonogiri.
Baca Juga: Sambut Hari Batik Nasional, Motif Rajawali Kembang Sragen Makin Diminati
Menurut dia, motif remekan sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu dan tidak lepas dari sejarah perkembangan batik di Wonogiri.
"Tirtomoyo tidak lepas dari Keraton Solo. Dulu ada beberapa abdi keraton yang membawa mori ke sini untuk dibatik, kemudian dibawa dan dijual ke Solo. Saat sampai Solo, malamnya pecah dan menghasilkan retakan. Dari situ menjadi ciri khas yang kemudian dikenal sebagai batik Wonogiren," beber Aris.
Seiring perkembangan zaman, pola remekan kini justru dibuat secara sengaja.
Kain yang telah diberi malam diremek secara manual dengan cara digepuk-gepuk untuk menghasilkan pecahan sesuai karakter motif.
Pengembangan juga dilakukan pada ragam motif.
Jika sebelumnya banyak menggunakan motif bunga maupun hewan, kini perajin mengombinasikannya dengan unsur tumbuhan, seperti daun janggelan dan mete.
Baca Juga: 31 ASN Karanganyar Kembali Dimutasi: Ajudan Bupati Naik Kelas Jadi Lurah, Dua Camat Kunci Bergeser
Aris mengatakan, motif remekan masih memiliki peminat.
Bahkan, sejumlah perajin telah menjangkau pembeli dari luar negeri melalui pesanan individu maupun dalam jumlah banyak.
"Sudah pernah ke Timur Tengah. Ada juga yang sampai Meksiko dan Rusia. Akhir 2024 lalu ada pesanan dari Singapura dan mereka datang langsung ke Tirtomoyo. Kalau dikatakan ekspor mungkin belum ya," paoar dia.
Batik remekan diproduksi menggunakan teknik tulis maupun cap. Harganya bervariasi, bergantung bahan baku, motif, dan teknik yang digunakan.
Produk dengan motif remekan dibanderol mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disdag KUKM) Wonogiri Wahyu Widayati mengatakan, motif remekan merupakan bagian dari warisan batik khas Wonogiri yang perlu terus dilestarikan.
"Ini peninggalan nenek moyang yang dilestarikan para perajin yang terus tumbuh. Pemerintah mendorong mereka agar terus berkembang," kata Wahyu.
Menurut dia, pelestarian batik tidak hanya berkaitan dengan seni dan budaya.
Pengembangan batik juga menjadi bagian dari ekonomi kreatif yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemkab Wonogiri memberikan pembinaan melalui pelatihan kepada perajin. Materinya mencakup pengembangan motif dan kreativitas, peningkatan kualitas pewarnaan, hingga kemasan.
Baca Juga: Manfaatkan Turnover Lawan, Muhi Tundukkan Smaracatur: Persaingan DBL Solo 2026 Memanas
Batik juga didorong untuk dikombinasikan dengan produk kerajinan lain, seperti tas.
Selain pembinaan, perajin diberi kesempatan mengikuti pameran di tingkat lokal, regional hingga nasional.
Pemkab juga mendorong pelaku UMKM batik memanfaatkan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan pasar.
"Pemasaran digital sudah zamannya sekarang. Banyak yang memasarkan lewat digital dan pelatihan juga diberikan," pungkasnya. (al)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com