RADARSOLO.COM- Pelaku usaha batik di Wonogiri menghadapi penurunan pesanan belakangan ini.
Sejumlah perajin disebut dalam mode bertahan di tengah lesunya penjualan.
Salah satunya dirasakan Mawan Tri Hananto, salah satu pemilik usaha batik di Kecamatan Ngadirojo.
Menurut dia, penurunan pesanan telah berlangsung sekira satu tahun terakhir.
"Saat ini jujur kondisinya agak turun. Pesanan dan penjualan batik sedang menurun," ujar Mawan.
Dia tak bisa memastikan penyebab pasti penurunan. Namun, Mawan menduga masyarakat kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
"Jadi mungkin punya uang, tapi menahan untuk tidak mengeluarkan uangnya," beber dia.
Mawan menuturkan, Sidobatik selama ini mengandalkan pesanan custom, utamanya dari instansi maupun lembaga.
Sekali pemesanan biasanya minimal 15 potong. Namun, pesanan tersebut kini semakin jarang.
Jika sebelumnya produksi bisa mencapai 500 hingga 1.000 potong per bulan, kini jumlah tersebut sulit dicapai.
Bahkan, produksinya terkadang tidak sampai 100 potong dalam sebulan.
"Dulu per bulan bisa 500 sampai 1.000 potong, sekarang tidak sampai. Turun sampai kadang 100 potong saja tidak sampai," kata dia.
Lesunya pesanan juga berdampak kepada para pekerja. Sidobatik saat ini memiliki sekitar 20 hingga 25 karyawan.
Mawan mengatakan sistem pembayaran yang menyesuaikan jumlah produksi membuat penghasilan pekerja ikut terdampak ketika pesanan menurun.
Baca Juga: Honda ADV 160 vs Yamaha NMAX Turbo, Sama-Sama Canggih tapi Beda Teknologi, Pilih Mana?
"Saya sudah minta agar teman-teman (karyawan) cari pekerjaan lain untuk sampingan. Karena kondisinya saat ini tidak bisa diandalkan," kata dia.
Berbagai upaya untuk mendongkrak penjualan telah dilakukan, termasuk melalui pemasaran online dan menawarkan harga yang kompetitif.
Namun, upaya tersebut belum mampu mengembalikan jumlah pesanan seperti sebelumnya.
Meski demikian, Mawan menilai peminat batik sebenarnya masih ada.
Menurut dia, batik tidak sekadar produk fashion, tetapi juga bagian dari budaya yang tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
Baca Juga: Hasil Uji Coba Persika Karanganyar vs Donggala United di Boyolali, Modal Berharga Menatap Liga 3
"Peminat batik saya rasa masih banyak. Ini fashion budaya yang tidak bisa ditinggalkan," tegas dia.
Dia berharap daya beli masyarakat kembali meningkat sehingga pasar batik ikut bergairah.
Dengan begitu, hal tersebut juga berdampak positif ke karyawannya.
Hal serupa disampaikan Aris Supriyadi, pelaku usaha batik tulis dan cap di Kecamatan Tirtomoyo.
Baca Juga: Panen Buah Matoa, Warga Ngemplak Boyolali Dikeroyok Kawanan Tawon
Dia menyebut sejumlah perajin kini masih berupaya mempertahankan usahanya di tengah pesanan yang belum kembali seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Teman-teman perajin dalam mode bertahan. Pesanan agak lesu, tidak seperti tahun-tahun lalu. Tapi mungkin kalau yang levelnya nasional masih bertahan," tuturnya. (al)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com