RADARSOLO.COM - Minyak jelantah rumah tangga dan usaha mikro di Wonogiri mulai dibidik sebagai sumber tambahan penghasilan.
TP PKK Wonogiri meluncurkan Gerakan Serentak Jelantah Menjadi Rupiah (Gertak Jerapah) untuk mendorong masyarakat mengumpulkan minyak bekas pakai tersebut.
Itu juga menjadi salah satu tindak lanjut dari program TP PKK Provinsi Jawa Tengah yang diharapkan menjadi gerakan nyata.
Baca Juga: Stasiun Klaten Masuk 6 Besar Pintu Masuk Wisman di Wilayah Daop 6 Yogyakarta, Pemkab Siapkan Apik
Ketua TP PKK Wonogiri Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno mengatakan, selama ini, jelantah masih kerap dibuang begitu saja.
Padahal, jika dikumpulkan dan dikelola melalui mekanisme yang tepat, limbah tersebut masih memiliki nilai ekonomi.
"Jangan membuang minyak jelantah sembarangan. Kumpulkan dan salurkan melalui mekanisme yang telah disiapkan," ujar dia.
Menurut wanita yang aktab disapa Yayuk itu, jelantah dari rumah tangga maupun UMKM nantinya dapat disalurkan melalui bank sampah atau TP PKK di masing-masing wilayah.
Hasil pengelolaannya diharapkan tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Peluncuran Gertak Jerapah digelar di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri.
Baca Juga: Pulang Kampung ke Jatipuro, Bupati Klaten Hamenang Serap Aspirasi Soal Normalisasi Saluran Irigasi
Dalam kesempatan tersebut, TP PKK Wonogiri juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Bank Sampah Berseri Desa Krandegan, Kecamatan Bulukerto.
Bank sampah tersebut menjadi salah satu mitra dalam pengelolaan jelantah.
Bank Sampah Berseri juga mendapat bantuan alat Biodrop dari Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (Forsepsi) Jawa Tengah.
Yayuk berharap pengelolaan jelantah tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Baca Juga: Sampah Haul Solo Tembus 30 Ton, Pemkot Siapkan Relawan Sampah Kelurahan
Ke depan, pola pengumpulan dan penyaluran jelantah diharapkan berjalan rutin di setiap kecamatan dengan melibatkan TP PKK, bank sampah, kader lingkungan, kader Posyandu, pemerintah, dan masyarakat.
"Harapannya setiap kecamatan bisa memiliki pola pengelolaan jelantah yang berjalan rutin dan berkelanjutan," ujarnya.
Dia menilai gerakan tersebut juga bisa menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Di sisi lain, limbah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat dimanfaatkan menjadi sumber pendapatan tambahan. (al)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com