Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

BMKG Jateng: Dampak El Nino, Kemarau Panjang hingga Awal 2024

Ragil Listiyo • Jumat, 25 Agustus 2023 | 16:41 WIB
DAMPAK KEMARAU:  Kondisi air Waduk Cengklik di Ngemplak, Boyolali,  sudah surut hingga menyisakan area kering kemarin (22/8).
DAMPAK KEMARAU: Kondisi air Waduk Cengklik di Ngemplak, Boyolali, sudah surut hingga menyisakan area kering kemarin (22/8).

RADARBOYOLALI.COM – Fenomena El Nino membawa pengaruh panjangnya musim kemarau tahun ini. Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah memprediksi, musim kemarau di wilayah Jateng akan berlangsung hingga akhir 2023 sampai awal 2024. 

Kepala BMKG Jawa Tengah Sukasno menyebut, kemarau tahun ini berbeda dengan tiga tahun sebelumnya. Terutama, di wilayah Jateng. Imbas dari fenomena El Nino, musim kemarau akan mundur dan berlangsung lebih lama. 

"Tiga tahun lalu kan fenomena La Nina dominan, sekarang El Nino," jelasnya kemarin (24/8). 

Sukasno menerangkan, dominannya kondisi El Nino akan membawa dampak pada kemarau lebih panjang dan lama dibandingkan tahun sebelumnya. BMKG memprediksi musim kemarau akan mundur sedikit. 

Biasanya musim kemarau sampai September hingga November. Lalu, Desember mulai musim penghujan. Dia memastikan informasi terkait cuaca akan diupdate lagi. BMKG akan merilis informasi kondisi cuaca untuk awal musim hujan. 

"Nanti September, Oktober, November kita lihat, akan muncul seperti apa. Tapi yang jelas El Nino diprediksikan sampai Januari 2024 masih kelihatan. Dan El Nino ini yang sangat memengaruhi banyaknya curah hujan di wilayah kita termasuk di Jawa Tengah," terangnya lebih lanjut. 

Sukasno menambahkan, dampak El Nino akan berpengaruh pada berkurangnya curah hujan seperti normal. Dia mencontohkan, pada Desember musim penghujan curah hujan mencapai 160, namun karena dampak El Nino, bisa turun di bawah 150. Saat ini, dampak El Nino telah terasa di Jateng. Seperti di beberapa wilayah di Boyolali yang sudah tiga bulan lebih tak ada hujan. 

Dampak kemarau panjang ini perlu diantisipasi. Sebab, fenomena El Nino ini rawan memicu kekeringan dan kebakaran hutan. Perlu antisipasi di lapangan.

“Kebakaran hutan terkait perilaku masyarakat. Misalnya tidak boleh membakar sampah atau apapun di daerah-daerah yang rawan kekeringan," pesannya. 

Masyarakat diminta memanfaatkan air hujan yang terjadi di musim kemarau ini dengan cara ditampung. Karena meski musim kemarau, bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Masih akan ada hujan harian. 

"Cuma di musim kemarau ini tidak sebanyak seperti tiga tahun lalu. Manfaatkan hujan harian ini untuk ditabung. Jadi kalau ada hujan sehari dua hari, sudah dimanfaatkan semaksimal mungkin. Ditampung," tandasnya. (rgl/bun)

Editor : Damianus Bram
#BMKG #kekeringan #el nino #musim kemarau