RADARSOLO.COM- Warga dan petani di sentra kopi Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali kembali menggelar tradisi Wiwit Kopi, Kamis (27/6/2024).
Di balik tradisi yang mengawali masa panen kopi tersebut menyimpan banyak filosofi,
Pantauan radarsolo.com, ubo rampe dan sesaji diusung ke kebun kopi milik Nyoto, 61. Sejumlah penari menjadi cucuk lampah.
Tiba di lokasi, ibu-ibu nampak memetik biji kopi yang mulai matang lalu dimasukkan ke tomblok atau wadah dari anyaman bambu. Selanjutnya, seluruh biji kopi lainnya ikut dipanen.
Tradisi Wiwit Kopi ini dipertahankan Nyoto sejak 1999. Dia memiliki kebun kopi seluas 1 hektare yang kini dijadikan pusat pelaksanaan Wiwit Kopi.
Ratusan batang kopi robusta yang tumbuh subur di lahan tersebut dirawat Nyoto sejak puluhan tahun silam.
"Ini (Wiwit Kopi) melestarikan kebudayaan orang tua. Turun-temurun sejak nenek moyang. Pesan dari kakek moyang dulu begitu. Kalau mau panen di ladang diadakan pesta wiwitan," terang Nyoto.
Apa saja ubo rampe yang dibawa ke kebun kopi, Nyoto menyebut antara lain kembang tamping, tunggukan, bunga, dan sebagainya.
Ubo rampe tersebut sebagai bentuk syukur pada rezeki panen yang diberikan Tuhan.
Dalam merawat pohon kopi robusta, Nyoto menggunakan pupuk kandang. Itu salah satu yang menjadikan pohon kopinya tetap subur.
"Saya punya pohon kopi tinggalan nenek. Mungkin umurnya sudah 100 tahuh. Tapi buahnya tetap sama dengan tanaman yang muda. Makanya tidak saya matikan," jelasnya.
Sementara itu, Kades Banyuanyar Komarudin menjelaskan, tradisi Wiwit Kopi merupakan unggulan wisata desa setempat.
Saat ini, di Desa Banyuanyar terdapat 44,3 hektare lahan kopi. "Mayoritas di sini menanam kopi robusta, sekitar 95 persen. Lalu 4 persen kopi arabica, dan sisanya kopi nangka," ungkap dia.
Kopi nangka menjadi komoditas cukup langka. Populasinya hanya 1 persen saja di Desa Banyuanyar.
Kopi jenis ini merupakan peninggalan Belanda. Rasanya memang mirip dengan nangka. "Kopi nangka akan kami branding secara khusus agar makin dikenal masyarakat," tutur kades Banyuanyar. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono