RADARSOLO.COM – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 H, puluhan lapak jasa penukaran uang baru mulai menjamur di sepanjang Jalan Raya Boyolali–Semarang, tepatnya di wilayah Kelurahan Banaran, Boyolali.
Antusiasme warga untuk mendapatkan uang pecahan kecil sebagai tradisi membagi "Fitrah" atau "angpau" Lebaran ini menjadi peluang usaha musiman yang menjanjikan.
Sejumlah penjaja jasa menyiapkan standing banner bertuliskan “Jasa Penukaran Uang Baru”, lengkap dengan berbagai pecahan yang tersedia, mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 10.000.
Salah satu pemilik lapak, Mahardika (28), mengaku bahwa menjelang Lebaran, omzetnya bisa mencapai Rp 35 hingga Rp 50 juta per hari hanya dari transaksi penukaran uang baru.
“Kalau Lebaran kurang seminggu sampai malam takbiran biasanya rata-rata segitu. Tapi kalau puasanya masih lama, paling Rp 10 juta per hari. Soalnya bank masih banyak yang buka,” ujar Mahardika saat ditemui Kamis (27/3/2025).
Dari setiap transaksi penukaran Rp 100 ribu, Mahardika mengambil keuntungan sekitar 10 persen. Namun, besaran margin itu bisa berubah tergantung waktu.
“Kalau masih jauh dari Lebaran biasanya 5 persen. Tapi kalau sudah mepet Lebaran, bisa sampai 15 persen. Bahasanya, mereka beli tenaga kita buat antre di bank,” jelasnya sambil tersenyum.
Ia mengaku bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta per hari selama puncak musim penukaran. Meski demikian, Mahardika menyebut ini hanyalah usaha musiman.
“Kalau enggak musim begini, saya kerja serabutan,” imbuh pria asal Sriwedari, Solo, ini.
Menurut Mahardika, di sepanjang jalur Boyolali–Semarang terdapat sekitar 20 lapak jasa penukaran uang yang beroperasi sejak awal Ramadan.
“Enggak semua orang tahu atau sempat tukar uang di bank. Jadi banyak yang pilih tukar di lapak kayak gini,” tambahnya.
Ahmadi (36), salah satu pengguna jasa tukar uang, mengaku terpaksa menukar di pinggir jalan karena tidak kebagian antrean di bank.
“Cuma dibatasi tiga antrean per hari, sedangkan yang mau tukar banyak. Akhirnya saya tukar di sini,” kata warga Boyolali ini.
Ahmadi mengaku tak mempermasalahkan biaya tambahan.
“Ya enggak apa-apa, daripada enggak kebagian uang baru sama sekali,” ujarnya. (dam)
Editor : Damianus Bram