RADARSOLO.COM - Petani dan peternak di Kabupaten Boyolali kembali dikuatkan semangat dan keyakinannya untuk membangkitkan sektor pertanian dan peternakan daerah.
Upaya pemulihan ini dilakukan setelah sebelumnya mereka terdampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyebabkan ratusan ternak mati dan menimbulkan trauma berkepanjangan.
Sebagai bentuk ikhtiar bersama, Majelis Jati Sumo Negoro (JSN) Cengkir Gading Boyolali, Koperasi Tani Ternak Sejahtera Boyolali, Desa Sejahtera Astra, serta Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) IPB University menggelar pelatihan bertema “Integrasi Agroforestri: Beternak, Bertani, Berkebun serta Praktik Pembuatan Kompos”.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu (21/12/2025) di Kauman, Wonosegoro, Boyolali.
Pelatihan ini menjadi bagian dari agenda rutin Ngaji Ekonomi – Ngaji Tani Ternak yang diinisiasi Jatisumonegoro.
Dengan fokus khusus pada penerapan integrasi antara pertanian, peternakan, dan perkebunan.
Sejumlah narasumber dihadirkan, antara lain Ahli Bioteknologi Pertanian Ir Andreas Gunapradangga, Ketua Koperasi Tani Ternak Sejahtera Wahid Ikhsani Putra.
Kemudian, Kepala Desa Kauman Widodo, Ketua Kelompok Tani Hutan Muh Ihsan Setiawan, serta perwakilan JSN Nur Hasan.
Kegiatan ini diikuti sekitar 60 petani dan peternak hutan yang berasal dari berbagai desa, seperti Kauman, Lemah Ireng, Guo, dan Sawahan.
Bahkan, peserta juga datang dari luar Boyolali, di antaranya Salatiga, Semarang, Rembang, Pemalang, hingga Tegal.
Seluruh perangkat Desa Kauman turut hadir dan mengikuti jalannya acara.
Pembina Yayasan Jatisumonegoro, Habib Syarief Hidayatullah Al Husaini Bin Lutfi Bin Yahya mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan saat ini.
Terutama atas terjadinya bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah seperti Sumatra dan Guci.
Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga kawasan hutan dengan pendekatan konservasi yang tetap memberi nilai ekonomi.
Ia mencontohkan, kawasan hutan dapat ditanami komoditas konservasi bernilai ekonomi seperti alpukat, kopi, durian, nangka, dan tanaman buah lainnya.
Tanaman tersebut berfungsi menjaga keseimbangan alam, mengurangi risiko banjir dan longsor, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan.
“Pelatihan ini penting agar masyarakat memahami bagaimana mengintegrasikan peternakan, pertanian, dan pengelolaan lahan hutan. Banyak kawasan hutan yang perlu segera diselamatkan,” tegasnya.
Sementara itu, Andreas Gunapradangga menjelaskan bahwa penerapan agroforestri perlu didukung dengan pemanfaatan kompos dari limbah ternak serta sistem tumpang sari.
Menurutnya, sela-sela tanaman hutan bisa dimanfaatkan untuk menanam komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, kacang, dan sayuran yang mampu memberikan tambahan pendapatan dalam waktu relatif cepat.
Namun demikian, Andreas menekankan bahwa pengelolaan hutan rakyat tidak cukup hanya dengan integrasi sektor.
Diperlukan kolaborasi lintas pihak, mulai dari pemerintah, swasta, perguruan tinggi, hingga masyarakat sebagai pengelola langsung di lapangan.
Ketua Koperasi Tani Ternak Sejahtera, Wahid Ikhsani Putra menegaskan bahwa integrasi agroforestri merupakan kunci menuju usaha tani yang berkelanjutan.
Ia mendorong peternak untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian agar memiliki mental produsen.
“Integrasi dan ekonomi sirkular perlu diterapkan agar usaha menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Ia mencontohkan, limbah ternak yang selama ini terbuang, baik padat maupun cair, dapat diolah menjadi pupuk kompos dan pupuk hayati.
Melalui pelatihan ini, petani diajak memanfaatkan sumber daya di sekitar mereka untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Konsep tersebut, lanjut Wahid, bertujuan mencetak petani-peternak berbasis ekologi, yakni kegiatan usaha tani yang tetap menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.
Pendekatan ini disebutnya sebagai Inoagropreneurship, perpaduan inovasi, konservasi, dan kewirausahaan pertanian.
Kepala Desa Kauman, Widodo menyampaikan bahwa wilayahnya memiliki potensi lahan yang besar.
Mulai dari 100 hektare sawah padi, 100 hektare lahan jagung, hingga 200 hektare kawasan hutan desa.
Ia berharap kegiatan pendampingan semacam ini dapat dilakukan secara berkelanjutan agar kesejahteraan petani terus meningkat.
Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Tani Hutan Kauman Bisa, Muh Ihsan Setiawan.
Menurutnya, pelatihan ini membuka wawasan baru bagi para anggota kelompok tani yang berjumlah 344 kepala keluarga dan mengelola lahan cukup luas.
Ia menilai pelatihan dan pendampingan berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pertanian yang lestari.
Sementara itu, Direktur DPMA IPB University Dr Handian Purwawangsa menegaskan, peningkatan kapasitas petani merupakan fondasi utama transformasi sektor pertanian.
Ia menilai petani perlu dibekali keterampilan teknis agar tidak bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia.
“Pelatihan ini diarahkan agar petani mampu memproduksi pupuk hayati secara mandiri, sehingga biaya produksi bisa ditekan dan kesuburan tanah tetap terjaga,” ujarnya.
Selain itu, IPB University juga membekali peserta dengan teknik budidaya komoditas unggulan agroforestri seperti durian, alpukat, dan kopi, yang dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.
Di sisi lain, Nur Hasan, peserta Ngaji Ekonomi, menyebut program Ngaji Tani Ternak sebagai salah satu program unggulan JSN Jatisumonegoro.
“Dengan adanya rutinan ini, bisa menjadi media belajar dan praktik langsung untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul,” ucap Nur Hasan. (*/ida/ria)
Editor : Syahaamah Fikria