Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kisah Dina Permata Sari: Program JKN Jadi Sandaran Utama Perjuangan Ibunda Melawan Kanker Paru Stadium 4

Angga Purenda • Kamis, 12 Februari 2026 | 16:25 WIB

 

Dina Permata Sari, seorang guru di SMA Negeri 1 Teras, Kabupaten Boyolali yang mengandalkan program JKN untuk pengobatan ibundanya melawan kanker paru stadium 4.
Dina Permata Sari, seorang guru di SMA Negeri 1 Teras, Kabupaten Boyolali yang mengandalkan program JKN untuk pengobatan ibundanya melawan kanker paru stadium 4.

RADARSOLO.COM - Perjuangan melawan kanker bukanlah perkara mudah.

Terlebih lagi bila harus dijalani sambil tetap menjalankan kewajibannya sebagai tenaga pendidik.

Namun, bagi Dina Permata Sari, seorang guru di SMA Negeri 1 Teras, Kabupaten Boyolali, rasa optimis untuk kesembuhan sang ibunda sempat tak pernah padam.

Kunci semangat Dina dalam mendampingi orang tuanya adalah dukungan keluarga.

Begitu juga dedikasi tenaga kesehatan serta jaminan biaya dari Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan.

Ibunda Dina sendiri didiagnosis menderita kanker paru-paru stadium 4 pada tahun 2021.

Sejak saat itu, rangkaian pengobatan yang panjang dan intens. Termasuk kemoterapi, harus dijalani secara rutin.

Dina mengungkapkan bahwa seluruh biaya pengobatan ibunya bergantung sepenuhnya pada jaminan dari BPJS Kesehatan.

Mengingat jika tanpa ada program JKN dikhawatirkan biaya pengobatannya bisa membengkak.

”Selama menjalani kemoterapi ibu saya selalu menggunakan program JKN dari BPJS Kesehatan. Semua proses pengobatan ibu saya dari awal, termasuk pemeriksaan rutin, kemoterapi semuanya ditanggung,” tutur Dina, Kamis (12/2/2026).

Selama mendampingi sang ibu di rumah sakit, Dina mengaku tidak menemui kendala yang berarti.

Baca Juga: Kisah Endang Lawan Saraf Terjepit: Berkat Program JKN, Biaya Pengobatan Dijamin Penuh BPJS Kesehatan

Ia justru merasa sangat terbantu dengan sistem komunikasi pihak rumah sakit yang dinilai kooperatif.

”Biasanya sebelum kemoterapi, ibu saya selalu dicek dulu oleh perawat atau dokter. Jika obat kemoterapi sudah tersedia, kami pasti akan langsung dikontak dan diberikan informasi. Selama ini semuanya berjalan lancar sehingga kami tidak merasa khawatir akan proses perawatan, khususnya ibu saya yang pada saat itu kami jalani,” urainya.

Lebih lanjut, Dina menyadari bahwa biaya pengobatan kanker sangatlah besar jika harus ditanggung secara mandiri.

Baginya, JKN memberikan akses pengobatan yang cepat tanpa membedakan status sosial.

”Baik dari rumah sakit maupun BPJS Kesehatan sangat responsif menanggapi keluhan yang saya hadapi. Saya sangat mengapresiasi pihak rumah sakit dan BPJS Kesehatan karena telah memberikan pengobatan yang cepat, mudah, dan setara,” ucapnya.

Pengalaman tersebut membuat Dina semakin menyadari pentingnya prinsip gotong royong dalam Program JKN.

Ia berharap masyarakat semakin sadar untuk menjadi peserta aktif. Bukan hanya demi diri sendiri, melainkan untuk membantu sesama melalui subsidi silang.

"Kita harus menyadari, terutama semua kalangan, untuk membayar iuran setiap bulannya. Karena itu dapat menciptakan subsidi silang dengan peserta lain yang kurang mampu untuk membantu biaya pengobatannya," harap Dina. (ren)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#kanker #kemoterapi #jaminan kesehatan nasional #biaya pengobatan #program jkn #BPJS Kesehatan Boyolali