Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kasus DBD di Boyolali Turun Drastis di Awal 2026, Dinkes Catat Nol Kematian

Abdul Khofid Firmanda Putra • Rabu, 25 Februari 2026 | 14:53 WIB

Ilustrasi nyamuk demam berdarah.
Ilustrasi nyamuk demam berdarah.

RADARSOLO.COM–Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali mencatat tren positif dalam pengendalian kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di awal tahun 2026.

Berdasarkan data periode Januari hingga Februari 2026, terjadi penurunan kasus yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Hingga Februari 2026, tercatat hanya ada 20 kasus DBD di seluruh wilayah Boyolali dengan angka kematian nol.

Tren Penurunan dari Tahun ke Tahun

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Boyolali Teguh Tri Kuncoro menjelaskan, bahwa penurunan ini terlihat sangat mencolok jika disandingkan dengan data tahun 2025.

Pada periode Januari-Februari 2025, kasus DBD mencapai 159 kasus.

"Secara akumulatif, total kasus DBD di Boyolali tahun 2025 ada 354 kasus dengan 4 kematian. Sedangkan pada tahun 2024 mencapai 1.046 kasus dengan 14 kematian," jelas Teguh, Rabu (25/2/2026).

"Artinya, baik jumlah kasus maupun angka kematian dari tahun 2024 hingga Februari 2026 terus mengalami penurunan," imbuh dia.

Faktor Cuaca dan Kebersihan Lingkungan

Teguh menyebutkan bahwa fluktuasi kasus DBD sangat dipengaruhi oleh siklus musim penghujan.

Kondisi lingkungan yang memicu adanya genangan air menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak.

"Data menunjukkan pada musim penghujan kasus cenderung lebih banyak dibanding musim kemarau. Terkait angka kematian, sebenarnya tidak ada bulan-bulan khusus yang menonjol, namun banyaknya jumlah kasus memang berpengaruh langsung pada jumlah kematian," tambahnya.

Baca Juga: Lantik 128 Kasek SDN Dan SMPN Baru di Menara Wijaya, Bupati Sukoharjo Etik Suryani Sentil Jam Kosong

Gencarkan Gerakan 3M Plus

Dinkes Boyolali menegaskan bahwa upaya pencegahan dini tetap menjadi kunci utama untuk mempertahankan tren penurunan ini.

Masyarakat diimbau tidak lengah dan tetap menjaga kebersihan lingkungan, terutama dalam memutus rantai perkembangbiakan nyamuk.

Upaya pencegahan yang dinilai paling efektif adalah melalui gerakan 3M Plus:

"Upaya pencegahan dan penanganan dini menjadi kunci dalam menurunkan angka kasus DBD secara berkelanjutan di Boyolali," pungkas Teguh. (fid)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#nol kematian #aedes aegypti #nyamuk #dinkes boyolali #demam berdarah dengue #DBD