Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

“Anak-anak harus dididik sesuai dengan zamannya. Anak didik saat ini merupakan generasi Z yang sudah menjadi bagian dari dunia digital. Mereka telah akrab dengan dunia digital. Saatnya, para guru, menyesuaikan diri,” ujar Kabid PSMA Dinas Pendidikan Sumbar Mahyan. Hal itu diungkapkan di sela-sela pembukaan Bimtek Creative Learning in Digital Age Tahap IV di Ballroom Pusako Hotel, Bukittinggi, Jumat malam (26/5).
Mahyan menyebut, upaya percepatan digitalisasi pendidikan sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman guru. Kini guru dan murid masih ada jurang pengetahuan terkait dunia digital. Semua itu harus dijembatani.
Maka dari itu dia mengimbau agar guru tidak hanya menjadi teladan dalam pembentukan karakter, tetapi menjadi teladan dalam soal penguasaan perangkat-perangkat digital. Dalam bimtek itu, para guru SMA dan SMK se-Kota Payakumbuh difasilitasi merancang bahan ajar berbasis digital, seperti dalam bentuk audiovisual
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPRD Sumbar Supardi mengatakan, pendidikan berbasis digital merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya membangun Payakumbuh sebagai Smart City.
Legislator asal Partai Gerindra itu menuturkan, Payakumbuh adalah kota non industri. Perkembangan kota itu dapat dilakukan dengan memaksimalkan potensi sumber daya manusianya.
“Payakumbuh adalah satu sentra ekonomi kreatif berbasis digital di Sumbar. Situasi positif ini mesti terus didorong dengan melahirkan lebih banyak lagi generasi muda yang kreatif lewat sistem pendidikan berbasis digital,” kata Supardi.
Politikus asal Kota Payakumbuh itu bermimpi kota galamai--demikian sebutan lain dari Kota Payakumbuh disebut bisa melahirkan kreator dan inovator. “Mari kita dorong siswa agar menjadi pencipta, kreator, penghasil sesuatu yang baru, penemu mesin-mesin baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya,“ ujar Supardi.
Belajar Dari Sejarah
Devis Adeviyoza, salah seorang guru peserta bimtek, mengaku harus belajar dari sejarah. Dulu ketika teknologi logam masuk ke Nusantara, masyarakat penganut peradaban batu yang tidak mampu beradaptasi. Mereka tersingkir dan terasingkan.
“Kita akan tersingkir dan terasing, jika memalingkan muka dari perkembangan dunia saat ini,” kata guru mata pelajaran sejarah di SMA Raudathul Jannah Payakumbuh itu.
Maka dari itu Devis Adeviyoza bersama guru lainnya sangat bersemangat mengikuti bimtek itu. Setidaknya dapat menerapkan digitalisasi dalam mata pelajaran yang diampu di sekolah. Banyak tools digital dikenali dan ikuasai demi membuat murid lebih menggemari pelajaran sejarah.
“Jika sejarah diajarkan dengan cara yang membuat murid mudah bosan, sejarah akan diabaikan, dan kita akan kehilangan pijakan lalu bingung menatap masa depan,” tutupnya. (*)
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement
