24.7 C
Surakarta
Sunday, 4 December 2022

Cukai Naik, Harga Tembakau Turun, Petani di Lereng Merapi-Merbabu Pun Merugi

BOYOLALI – Kenaikan cukai rokok tak berimbas positif pada harga tembakau. Hal itu juga dialami petani tembakau lereng Merapi-Merbabu. Mereka mengeluh hasil tanam tembakau hanya mampu menutup modal tanam dan operasional.

Petani tembakau asal Desa Samiran, Selo, Suparno mengamini penurunan harga tembakau terjadi tahun ini. Setelah dihantam pandemi Covid-19, petani juga dihadapkan dengan kenaikan cukai rokok. Bukannya berimbas positif pada penambahan harga beli tembakau, tahun ini justru semakin ringsek. Harga tembakau kualitas tinggi hanya laku Rp 55 ribu per kilogram (kg).

”Saat ini, jual tembakau kering rajangan (irisan,red) hanya laku Rp 50 ribu per kilogram. Kalau yang nomor satu kualitasnya sampai Rp 55 ribu per kilogram. Turun harganya dibanding tahun kemarin. Yang kualitas tinggi nomor satu bisa Rp 65 ribu per kilogram. Faktornya ya karena cukai naik,” ungkapnya pada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (1/9).

Kenaikan cukai tembakau ini justru merugikan petani. Apalagi, kebijakan pemerintah untuk kenaikan cukai rokok ini terjadi tiap tahunnya. Alhasil, petani dan perajang tidak mendapatkan untung. Sedangkan hasil panen hanya mampu menutup modal dan operasional selama enam bulan menunggu panen daun tembakau. Selama enam bulan tersebut harus ada biaya perawatan.

”Ya impas. Tanaman saya ada 5 ribu batang pohon tembakau. Sedangkan modal saya antara Rp 20an juta. Kalau nanti dijual seperti itu, paling dikurangi operasional dan lainnya, paling pol hanya menerima Rp 30 juta. Dadi ya, petani ngampet ra isoh apa-apa (jadi ya, petani menahan nggak bisa apa-apa). Gampangannya itu setengah tahun baru panen. Jadi nggo urip (untuk hidup) setengah tahun ya kurang to,” keluhnya.

Meski demikian, petani tidak kesulitan menjual tembakaunya. Lantaran ada program kemitraan dengan perusahaan tembakau. Sehingga petani menjadi pemasok tetap tiap tahunnya. Di sisi lain, Boyolali menjadi salah satu daerah penghasil tembakau terbesar. Petani juga akan menerima manfaat dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Yang nantinya disalurkan untuk kesejahteraan petani.

”Kami memang jualnya tembakau rajangan kering. Jadi program kemitraan dengan perusahaan rokok. Sehingga gak pusing harus jual ke mana,” katanya.

Senada diungkapkan petani tembakau asal Tarubatang, Selo, Semi. Dia mulai menanam tembakau sejak April lalu. Saat ini dia mulai memanem daun tembakau yang ditanam satu petak lahan.

”Satu petak lahan saya tanami tembakau. Tapi nggak semua ladang saya gunakan. Yang lain juga saya tanami tomat. Jadi sembari nunggu panen daun tembakau kan hampir setengah tahun. Maka saya tanami tomat biar bisa panen berkala buat mencukupi kebutuhan sehari-hari,” terangnya. (rgl/adi/dam)

BOYOLALI – Kenaikan cukai rokok tak berimbas positif pada harga tembakau. Hal itu juga dialami petani tembakau lereng Merapi-Merbabu. Mereka mengeluh hasil tanam tembakau hanya mampu menutup modal tanam dan operasional.

Petani tembakau asal Desa Samiran, Selo, Suparno mengamini penurunan harga tembakau terjadi tahun ini. Setelah dihantam pandemi Covid-19, petani juga dihadapkan dengan kenaikan cukai rokok. Bukannya berimbas positif pada penambahan harga beli tembakau, tahun ini justru semakin ringsek. Harga tembakau kualitas tinggi hanya laku Rp 55 ribu per kilogram (kg).

”Saat ini, jual tembakau kering rajangan (irisan,red) hanya laku Rp 50 ribu per kilogram. Kalau yang nomor satu kualitasnya sampai Rp 55 ribu per kilogram. Turun harganya dibanding tahun kemarin. Yang kualitas tinggi nomor satu bisa Rp 65 ribu per kilogram. Faktornya ya karena cukai naik,” ungkapnya pada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (1/9).

Kenaikan cukai tembakau ini justru merugikan petani. Apalagi, kebijakan pemerintah untuk kenaikan cukai rokok ini terjadi tiap tahunnya. Alhasil, petani dan perajang tidak mendapatkan untung. Sedangkan hasil panen hanya mampu menutup modal dan operasional selama enam bulan menunggu panen daun tembakau. Selama enam bulan tersebut harus ada biaya perawatan.

”Ya impas. Tanaman saya ada 5 ribu batang pohon tembakau. Sedangkan modal saya antara Rp 20an juta. Kalau nanti dijual seperti itu, paling dikurangi operasional dan lainnya, paling pol hanya menerima Rp 30 juta. Dadi ya, petani ngampet ra isoh apa-apa (jadi ya, petani menahan nggak bisa apa-apa). Gampangannya itu setengah tahun baru panen. Jadi nggo urip (untuk hidup) setengah tahun ya kurang to,” keluhnya.

Meski demikian, petani tidak kesulitan menjual tembakaunya. Lantaran ada program kemitraan dengan perusahaan tembakau. Sehingga petani menjadi pemasok tetap tiap tahunnya. Di sisi lain, Boyolali menjadi salah satu daerah penghasil tembakau terbesar. Petani juga akan menerima manfaat dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Yang nantinya disalurkan untuk kesejahteraan petani.

”Kami memang jualnya tembakau rajangan kering. Jadi program kemitraan dengan perusahaan rokok. Sehingga gak pusing harus jual ke mana,” katanya.

Senada diungkapkan petani tembakau asal Tarubatang, Selo, Semi. Dia mulai menanam tembakau sejak April lalu. Saat ini dia mulai memanem daun tembakau yang ditanam satu petak lahan.

”Satu petak lahan saya tanami tembakau. Tapi nggak semua ladang saya gunakan. Yang lain juga saya tanami tomat. Jadi sembari nunggu panen daun tembakau kan hampir setengah tahun. Maka saya tanami tomat biar bisa panen berkala buat mencukupi kebutuhan sehari-hari,” terangnya. (rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/