alexametrics
23.3 C
Surakarta
Wednesday, 17 August 2022

Bawaslu Boyolali Edukasi Pemilih lewat Film dan Buku

BOYOLALI – Pendidikan pemilihan umum (pemilu) pada masyarakat bisa dilakukan lewat film maupun buku. Seperti yang dilakukan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Boyolali yang me-launching dan bedah buku Sejarah Pengawas Pemilu serta pemutaran film Endho.

”Buku sejarah pengawasan pemilu ini dapat merangkum berbagai fenomena dan sejarah para pengawas pemilu di Boyolali dari 2004. Selain itu, kami juga memutar film Endho yang menceritakan proses penelusuran informasi terhadap laporan pelanggaran pemilu,” kata Ketua Bawaslu Kabupaten Boyolali Taryono, kemarin (2/8).

Taryono ingin menggugah partisipasi masyarakat. Sebab, film ini menggambarkan bagaimana Bawaslu berkerja setelah mendapatkan laporan dari masyarakat. Tujuannya agar masyarakat ikut aktif dalam melakukan pengawasan. Serta berani melaporkan ketika menemukan dugaan pelanggaran pemilu.

Sedangkan buku Sejarah Pengawasan Pemilu juga memuat kejadian unik. Seperti kejadian saat Pemilihan Bupati (Pilbup) 2005 saat ada panwascam yang diseret warga. Saat itu, salah seorang anggota Pawascam Simo Sunaryanto berupaya menghentikan distribusi bantuan semen pada warga. Bantuan tersebut diberikan untuk membangun jalan desa.

Padahal hal tersebut merupakan salah satu indikasi bentuk politik uang yang dilakukan tidak secara langsung pada individu pemilih. Namun, terkoordinir dalam satu lingkungan. Pawascam yang mencoba menghentikan aksi tersebut justru mendapat hal tak mengenakan.

”Mirisnya, anggota pawascam tersebut malah diseret warga. Karena dianggap mengahalang-halangi kegiatan distribusi bantuan. Hal ini termasuk salah satu contoh pelanggaran dari praktik politik uang,” terangnya.

Kordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan antar Lembaga (Hubal) Bawaslu Boyolali, Rubiyanto mengatakan buku menjadi media edukasi kepemiluan.

”Buku ini juga merangkum peristiwa-peristiwa penting pengawasan, lika-liku sejarah pengawasan dan lainnya,” katanya. (rgl/adi/dam)

BOYOLALI – Pendidikan pemilihan umum (pemilu) pada masyarakat bisa dilakukan lewat film maupun buku. Seperti yang dilakukan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Boyolali yang me-launching dan bedah buku Sejarah Pengawas Pemilu serta pemutaran film Endho.

”Buku sejarah pengawasan pemilu ini dapat merangkum berbagai fenomena dan sejarah para pengawas pemilu di Boyolali dari 2004. Selain itu, kami juga memutar film Endho yang menceritakan proses penelusuran informasi terhadap laporan pelanggaran pemilu,” kata Ketua Bawaslu Kabupaten Boyolali Taryono, kemarin (2/8).

Taryono ingin menggugah partisipasi masyarakat. Sebab, film ini menggambarkan bagaimana Bawaslu berkerja setelah mendapatkan laporan dari masyarakat. Tujuannya agar masyarakat ikut aktif dalam melakukan pengawasan. Serta berani melaporkan ketika menemukan dugaan pelanggaran pemilu.

Sedangkan buku Sejarah Pengawasan Pemilu juga memuat kejadian unik. Seperti kejadian saat Pemilihan Bupati (Pilbup) 2005 saat ada panwascam yang diseret warga. Saat itu, salah seorang anggota Pawascam Simo Sunaryanto berupaya menghentikan distribusi bantuan semen pada warga. Bantuan tersebut diberikan untuk membangun jalan desa.

Padahal hal tersebut merupakan salah satu indikasi bentuk politik uang yang dilakukan tidak secara langsung pada individu pemilih. Namun, terkoordinir dalam satu lingkungan. Pawascam yang mencoba menghentikan aksi tersebut justru mendapat hal tak mengenakan.

”Mirisnya, anggota pawascam tersebut malah diseret warga. Karena dianggap mengahalang-halangi kegiatan distribusi bantuan. Hal ini termasuk salah satu contoh pelanggaran dari praktik politik uang,” terangnya.

Kordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan antar Lembaga (Hubal) Bawaslu Boyolali, Rubiyanto mengatakan buku menjadi media edukasi kepemiluan.

”Buku ini juga merangkum peristiwa-peristiwa penting pengawasan, lika-liku sejarah pengawasan dan lainnya,” katanya. (rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/