alexametrics
31.1 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Tradisi Tungguk Tembakau di Desa Senden, Boyolali

Gunungan Tembakau Jadi Ungkapan Syukur Panen Pertama

BOYOLALI – Masyarakat lereng Gunung Merbabu dan Merapi di Desa Senden, Kecamatan Selo kembali menggelar tradisi tungguk tembakau, Kamis (4/8). Tradisi ini menandai dimulainya panen tembakau tahun ini.

Dimulai dengan tirakatan di malam jelang panen. Tiap dusun di Desa Senden akan menyiapkan gunungan sedekah bumi. Lengkap dengan ingkung ayam dan tumpeng nasi. Ratusan masyarakat lantas melakukan kirab gunungan tembakau setinggi 1,5 meter. Kemudian diarak dari ladang dekat makam desa menuju panggung.

Bupati Boyolali M. Said Hidayat turut serta dalam memanen daun tembakau pertama. Kemudian daun-daun tersebut diletakan di gunungan daun tembakau dan diarak. Sepanjang jalan, dipenuhi stand UMKM mulai dari sayur segar, olahan, hingga bibit sayur. Beragam tarian tradisional juga ditarikan siswa SD dan masyarakat.

Kaur Kesra Desa Senden Selo sekaligus pendamping Budaya Desa Puryanto mengatakan, tradisi tungguk tembakau sudah berjalan bertahun-tahun. Ritual ini dijalankan seluruh petani tembakau.

”Mulai 2016 dikemas sedemikian rupa dan menjadi seperti festival. Setelah dua tahun pandemi, momen ini yang sangat ditunggu oleh masyarakat. Terutama petani tembakau baik di Desa Senden dan desa lainnya,” terangnya di lokasi, Kamis (4/8).

Ditanya soal harga tembakau, Puryanto mengaku cukup stabil. Sekitar Rp 50- Rp 55 ribu per kilogram untuk tembakau kering. Sedangkan hasil panen tembakau cukup bagus. Apalagi didukung cuaca panas yang mendukung pertumbuhan tembakau.

”Harapannya semoga panen tahun ini berjalan lancar dan kedepannya diberi hasil yang melimpah. Di sisi lain kami juga mengemas, potensi budaya yang ada di Desa Senden agar tersiarkan ke luar,” katanya.

Bupati Boyolali M. Said Hidayat mengatakan, tungguk tembakau merupakan kegiatan rutin tiap tahunnya.

”Inilah upaya pemerintah dan masyarakat menjaga kebersamaan rangkaian tradisi tumbuk tembakau. Kedepan akan kami jaga (tradisi ini,Red). Selama petani mampu bertani dengan baik maka kesejahteraan meningkat maka upaya penurunan kemiskinan bisa diwujudkan,” tandasnya. (rgl/adi/dam)

BOYOLALI – Masyarakat lereng Gunung Merbabu dan Merapi di Desa Senden, Kecamatan Selo kembali menggelar tradisi tungguk tembakau, Kamis (4/8). Tradisi ini menandai dimulainya panen tembakau tahun ini.

Dimulai dengan tirakatan di malam jelang panen. Tiap dusun di Desa Senden akan menyiapkan gunungan sedekah bumi. Lengkap dengan ingkung ayam dan tumpeng nasi. Ratusan masyarakat lantas melakukan kirab gunungan tembakau setinggi 1,5 meter. Kemudian diarak dari ladang dekat makam desa menuju panggung.

Bupati Boyolali M. Said Hidayat turut serta dalam memanen daun tembakau pertama. Kemudian daun-daun tersebut diletakan di gunungan daun tembakau dan diarak. Sepanjang jalan, dipenuhi stand UMKM mulai dari sayur segar, olahan, hingga bibit sayur. Beragam tarian tradisional juga ditarikan siswa SD dan masyarakat.

Kaur Kesra Desa Senden Selo sekaligus pendamping Budaya Desa Puryanto mengatakan, tradisi tungguk tembakau sudah berjalan bertahun-tahun. Ritual ini dijalankan seluruh petani tembakau.

”Mulai 2016 dikemas sedemikian rupa dan menjadi seperti festival. Setelah dua tahun pandemi, momen ini yang sangat ditunggu oleh masyarakat. Terutama petani tembakau baik di Desa Senden dan desa lainnya,” terangnya di lokasi, Kamis (4/8).

Ditanya soal harga tembakau, Puryanto mengaku cukup stabil. Sekitar Rp 50- Rp 55 ribu per kilogram untuk tembakau kering. Sedangkan hasil panen tembakau cukup bagus. Apalagi didukung cuaca panas yang mendukung pertumbuhan tembakau.

”Harapannya semoga panen tahun ini berjalan lancar dan kedepannya diberi hasil yang melimpah. Di sisi lain kami juga mengemas, potensi budaya yang ada di Desa Senden agar tersiarkan ke luar,” katanya.

Bupati Boyolali M. Said Hidayat mengatakan, tungguk tembakau merupakan kegiatan rutin tiap tahunnya.

”Inilah upaya pemerintah dan masyarakat menjaga kebersamaan rangkaian tradisi tumbuk tembakau. Kedepan akan kami jaga (tradisi ini,Red). Selama petani mampu bertani dengan baik maka kesejahteraan meningkat maka upaya penurunan kemiskinan bisa diwujudkan,” tandasnya. (rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/