alexametrics
33.5 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Gubernur Ganjar Dorong Restorasi Sendang Pitu

BOYOLALI – Kemolekan Sendang Pitu di Desa Cabeankunti, Cepogo tak lekang oleh waktu. Meski disakralkan, sumber air di sendang ini menjadi penghidupan warga sekitar. Untuk itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung adanya penataan Sendang Pitu ini. Apalagi, situs pertitaan ini berdiri di tanah kas desa (TKD).

”Itu bisa desa yang menata. Di sini juga buat tirakatan, seumpama di atas sendang ditutup dengan kaca atau jaring, agar airnya tetap terjaga bersih. Apalagi banyak yang menggunakan untuk spiritual,” terang Ganjar saat hadir di Ruwat Rawat Patirtan Sendang Pitu, Kamis (4/8).

Ganjar juga mendorong agar desa menggandeng perguruan tinggi, pemda, maupun DPRD. Sehingga semua lini menyengkuyung dan bisa dibuat wisata.

”Karena situsnya bagus. Sehingga ada sejarawan yang bisa menceritakan, memanfaatkan air dengan baik, sehingga orang akan datang ke sini akan menikmati. Ikut memakai ikut merawat. Mudah-mudahan dalam waktu pendek penataannya akan segera dilakukan,” imbuhnya.

Ganjar meminta masyarakat jika menemukan sumber mata air dilakukan konservasi. Jika ada petilasan pertitaan yang warga setempat tahu, maka dilestarikan. Melalui konservasi, menanam dan penghijauan kembali. Termasuk menjaga kebersihan aliran sungainya dan kawasan sumber mata air.

Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) Kusworo Rahadyan mengungkapkan, untuk pelestarian tradisi budaya Iriban Tuk atau sumber air. Sendang Pitu, Cabeankunti ini merupakan objek peninggalan arkeologi berupa petirtan. Di dalamnya juga ada tradisi di sekitar sumber mata air di kawasan Lereng Timur Merapi Merbabu Boyolali.

”Warga sekitar menyebutnya dengan Iriban Tuk, yaitu sebuah tradisi masyarakat untuk merawat Tuk baik secara fisik maupun spiritual. Acara Rawat Ruwat ini diharapkan membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber air dan peninggalan arkeologi,” katanya.

Sekadar informasi, Petirtaan Cabeankunti dibangun pada masa klasik Jawa Tengah, yakni sekitar abad VIII – X Masehi. Hal tersebut terlihat dari motif hias yang ada di Sendang Lerep. Kemudian, latar belakang keagamaan dapat dilihat dari relief binatang pada Sendang Lerep yang diperkirakan merupakan tantri. Atau cerita binatang berisi ajarab moral pada agama Buddha. Sehingga sendang Pitu difungsikan sebagai bangunan suci. (rgl/adi/dam)

BOYOLALI – Kemolekan Sendang Pitu di Desa Cabeankunti, Cepogo tak lekang oleh waktu. Meski disakralkan, sumber air di sendang ini menjadi penghidupan warga sekitar. Untuk itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung adanya penataan Sendang Pitu ini. Apalagi, situs pertitaan ini berdiri di tanah kas desa (TKD).

”Itu bisa desa yang menata. Di sini juga buat tirakatan, seumpama di atas sendang ditutup dengan kaca atau jaring, agar airnya tetap terjaga bersih. Apalagi banyak yang menggunakan untuk spiritual,” terang Ganjar saat hadir di Ruwat Rawat Patirtan Sendang Pitu, Kamis (4/8).

Ganjar juga mendorong agar desa menggandeng perguruan tinggi, pemda, maupun DPRD. Sehingga semua lini menyengkuyung dan bisa dibuat wisata.

”Karena situsnya bagus. Sehingga ada sejarawan yang bisa menceritakan, memanfaatkan air dengan baik, sehingga orang akan datang ke sini akan menikmati. Ikut memakai ikut merawat. Mudah-mudahan dalam waktu pendek penataannya akan segera dilakukan,” imbuhnya.

Ganjar meminta masyarakat jika menemukan sumber mata air dilakukan konservasi. Jika ada petilasan pertitaan yang warga setempat tahu, maka dilestarikan. Melalui konservasi, menanam dan penghijauan kembali. Termasuk menjaga kebersihan aliran sungainya dan kawasan sumber mata air.

Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) Kusworo Rahadyan mengungkapkan, untuk pelestarian tradisi budaya Iriban Tuk atau sumber air. Sendang Pitu, Cabeankunti ini merupakan objek peninggalan arkeologi berupa petirtan. Di dalamnya juga ada tradisi di sekitar sumber mata air di kawasan Lereng Timur Merapi Merbabu Boyolali.

”Warga sekitar menyebutnya dengan Iriban Tuk, yaitu sebuah tradisi masyarakat untuk merawat Tuk baik secara fisik maupun spiritual. Acara Rawat Ruwat ini diharapkan membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber air dan peninggalan arkeologi,” katanya.

Sekadar informasi, Petirtaan Cabeankunti dibangun pada masa klasik Jawa Tengah, yakni sekitar abad VIII – X Masehi. Hal tersebut terlihat dari motif hias yang ada di Sendang Lerep. Kemudian, latar belakang keagamaan dapat dilihat dari relief binatang pada Sendang Lerep yang diperkirakan merupakan tantri. Atau cerita binatang berisi ajarab moral pada agama Buddha. Sehingga sendang Pitu difungsikan sebagai bangunan suci. (rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/