alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Kasus Penyakit Mulut dan Kuku di Jateng di Bawah 50 Ternak

BOYOLALI – Penanganan ternak terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jawa Tengah (Jateng) tetap terkendali. Ada beberapa daerah di Jateng yang telah terpapar, namun kasus temuan ternak terindikasi PMK di bawah 50 ekor.

Dinas Perternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah mengimbau untuk pembatasan hewan ternak dari daerah suspek. Serta melakukan lokalisasi pada ternak terindikasi terpapar.

Sekretaris Dinas Perternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah Hariyanta Nugraha mengapresiasi penanganan kasus PMK di Boyolali. Sebab, pemkab bergerak cepat dengan melakukan lokalisasi ternak. Dilanjutkan dengan pengobatan dan pencegaham melalui penyemprotan disinfektan. Sehingga dalam waktu kurang dari satu minggu dari 15 sapi terpapar, sebanyak 13 sudah membaik.

“PMK bisa disembuhkan dan tidak berbahaya pada manusia. Sejauh ini kasus di Jatemg bisa dikendalikan. Memang sudah muncul d ibeberapa daerah, seperti Boyolali, Rembang empat ekor tapi sudah sembuh. Lalu Pemalang masih diambil sampel, Klaten juga ditemukan suspek karena hasilnya (uji laboratorium, Red) belum keluar. Kita di Jateng ternak PMK dan suspek masih di bawah 50 ternak,” terangnya saat ditemui di Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali, Kamis (12/5).

Jateng juga telah meluncurkan program Jogo Ternak. Masyarakat diminta proaktif dan melaporkan pada petugas jika ditemukan indikasi PMK. Peternak juga harus melakukan lokalisasi pada hewan yang terpapar. Sembari menunggu pemeriksaan dan penyuntikan vaksin serta vitamin. Tentu hingga hewan ternak dinyatakan bebas PMK.

“Kami juga sudah ada unit respons cepat. Dan instruksi penanganan PMK luar biasa. Jogo Ternak sudah kita luncurkan untuk tiap ada gejala bisa langsung direspons,” terangnya. (rgl/ria)






Reporter: Ragil Listiyo

BOYOLALI – Penanganan ternak terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jawa Tengah (Jateng) tetap terkendali. Ada beberapa daerah di Jateng yang telah terpapar, namun kasus temuan ternak terindikasi PMK di bawah 50 ekor.

Dinas Perternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah mengimbau untuk pembatasan hewan ternak dari daerah suspek. Serta melakukan lokalisasi pada ternak terindikasi terpapar.

Sekretaris Dinas Perternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah Hariyanta Nugraha mengapresiasi penanganan kasus PMK di Boyolali. Sebab, pemkab bergerak cepat dengan melakukan lokalisasi ternak. Dilanjutkan dengan pengobatan dan pencegaham melalui penyemprotan disinfektan. Sehingga dalam waktu kurang dari satu minggu dari 15 sapi terpapar, sebanyak 13 sudah membaik.

“PMK bisa disembuhkan dan tidak berbahaya pada manusia. Sejauh ini kasus di Jatemg bisa dikendalikan. Memang sudah muncul d ibeberapa daerah, seperti Boyolali, Rembang empat ekor tapi sudah sembuh. Lalu Pemalang masih diambil sampel, Klaten juga ditemukan suspek karena hasilnya (uji laboratorium, Red) belum keluar. Kita di Jateng ternak PMK dan suspek masih di bawah 50 ternak,” terangnya saat ditemui di Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali, Kamis (12/5).

Jateng juga telah meluncurkan program Jogo Ternak. Masyarakat diminta proaktif dan melaporkan pada petugas jika ditemukan indikasi PMK. Peternak juga harus melakukan lokalisasi pada hewan yang terpapar. Sembari menunggu pemeriksaan dan penyuntikan vaksin serta vitamin. Tentu hingga hewan ternak dinyatakan bebas PMK.

“Kami juga sudah ada unit respons cepat. Dan instruksi penanganan PMK luar biasa. Jogo Ternak sudah kita luncurkan untuk tiap ada gejala bisa langsung direspons,” terangnya. (rgl/ria)






Reporter: Ragil Listiyo

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/