alexametrics
33.8 C
Surakarta
Monday, 27 September 2021

Kerjasama dengan Keraton, Pemkab Boyolali Bangun Patung PB VI

BOYOLALI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali terus menyolek diri. Kali ini, ikon baru dipasang di Simpang Paku Buwono (PB) VI, Selo. Patung PB VI ini berdiri gagah tepat di depan Pasar Selo. Sedangkan desain patung setinggi empat meter ini diserahkan oleh Keraton Surakarta.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali, Lusia Dyah Suciati mengatakan kendati patung PB VI sudah terpasang, hanya peresmian belum dilakukan. Sehingga patung masih ditutup dengan kain hitam. Disamping itu, proses pengerjaan masih berlanjut. Rencananya tak hanya patung PB VI, namun hiasan lain juga akan dipasang.

“Saat ini masih proses pengerjaan pembangunan. Selain patung PB VI, juga dilengkapi taman, air mancur dan panggung (hiburan),” ungkapnya pada Minggu (12/9).

Lusi mengamini, pembangunan simpang PB VI memang berdiri di tanah Keraton Surakarta. Sehingga pemilihan PB VI sebagai ikon berdasarkan kesepakatan antara Bupati Boyolali dengan pihak Keraton Surakarta. Pemkab diizinkan membangun simpang diatas tanah Keraton Surakarta, namun, harus ada identitas PB VI di simpang tersebut.

Hal tersebut disepakati oleh Bupati dan pihak Keraton Surakarta. Sehingga desain patung PB VI diserahkan oleh Keraton. Sedangkan penganggaran untuk pembangunan berasal dari Pemkab Boyolali. Alhasil lapangan Selo, di Desa Samiran berganti wajah menjadi simpang PB VI.

Detail patung PB VI telah disetujui oleh Keraton. Mulai dari wajah, proporsional ketinggian hingga detail-detail baju bahkan filosofinya. Sedangkan tinggi patung PB VI sekitar 4 meter. Setelah disetuju pihak Keraton, pembuatan dan pemasangan patung dilakukan.

“Kita membuat simpang untuk merubah wajah Selo, dan disepakati. Tetapi ada permintaan, untuk ada identitas PB VI itu. Jadi kita ngikut saja keinginan Keraton,” bebernya.

Pembangunan Simpang PB VI dilakukan dalam tiga tahap, yakni pembangunan jalan, pembangunan kios dan penyempurnaan. Dilanjutkan dengan pembangunan dan pemasangan ikon patung PB VI, lengkap dengan taman, air mancur serta panggung hiburan.

Pegiat sejarah dari Boyolali, R Surojo, mengatakan pemilihan patung PB VI sebagai ikon baru di Selo ini memang ada sejarahnya. PB VI memang sering pergi ke Selo untuk bertemu dengan Pangeran Diponegoro sekitar tahun 1828. Pertemuan ini untuk menyusun strategi perang melawan penjajah Belanda.

Karena saat itu, masih dalam suasana perang Jawa. Pertemuan kedua tokoh ini dilakukan di Gua Raja yang terletak tidak jauh dari simpang PB VI. Tepatnya disebelah utara simpang. Sayangnya, pesanggrahan PB VI di Gua Raja sudah tidak ada.

“Menurut literasi, sesuai buku Peter Carrey, PB VI dulu sering ke Selo untuk melakukan pertemuan dengan Pangeran Diponegoro. PB VI membantu dalam menyuplai senjata, logistik,” ungkapnya.

Perlawanan tersebut berakhir takala PB VI dan Pangeran Diponegoro ditangkap diwaktu yang hampir bersamaan, pada 1830. Sehingga untuk mengenang PB VI, ikon baru ini tak hanya mempercantik wajah Boyolali, namun, juga menyimpan histori. (rgl/dam)


BOYOLALI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali terus menyolek diri. Kali ini, ikon baru dipasang di Simpang Paku Buwono (PB) VI, Selo. Patung PB VI ini berdiri gagah tepat di depan Pasar Selo. Sedangkan desain patung setinggi empat meter ini diserahkan oleh Keraton Surakarta.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali, Lusia Dyah Suciati mengatakan kendati patung PB VI sudah terpasang, hanya peresmian belum dilakukan. Sehingga patung masih ditutup dengan kain hitam. Disamping itu, proses pengerjaan masih berlanjut. Rencananya tak hanya patung PB VI, namun hiasan lain juga akan dipasang.

“Saat ini masih proses pengerjaan pembangunan. Selain patung PB VI, juga dilengkapi taman, air mancur dan panggung (hiburan),” ungkapnya pada Minggu (12/9).

Lusi mengamini, pembangunan simpang PB VI memang berdiri di tanah Keraton Surakarta. Sehingga pemilihan PB VI sebagai ikon berdasarkan kesepakatan antara Bupati Boyolali dengan pihak Keraton Surakarta. Pemkab diizinkan membangun simpang diatas tanah Keraton Surakarta, namun, harus ada identitas PB VI di simpang tersebut.

Hal tersebut disepakati oleh Bupati dan pihak Keraton Surakarta. Sehingga desain patung PB VI diserahkan oleh Keraton. Sedangkan penganggaran untuk pembangunan berasal dari Pemkab Boyolali. Alhasil lapangan Selo, di Desa Samiran berganti wajah menjadi simpang PB VI.

Detail patung PB VI telah disetujui oleh Keraton. Mulai dari wajah, proporsional ketinggian hingga detail-detail baju bahkan filosofinya. Sedangkan tinggi patung PB VI sekitar 4 meter. Setelah disetuju pihak Keraton, pembuatan dan pemasangan patung dilakukan.

“Kita membuat simpang untuk merubah wajah Selo, dan disepakati. Tetapi ada permintaan, untuk ada identitas PB VI itu. Jadi kita ngikut saja keinginan Keraton,” bebernya.

Pembangunan Simpang PB VI dilakukan dalam tiga tahap, yakni pembangunan jalan, pembangunan kios dan penyempurnaan. Dilanjutkan dengan pembangunan dan pemasangan ikon patung PB VI, lengkap dengan taman, air mancur serta panggung hiburan.

Pegiat sejarah dari Boyolali, R Surojo, mengatakan pemilihan patung PB VI sebagai ikon baru di Selo ini memang ada sejarahnya. PB VI memang sering pergi ke Selo untuk bertemu dengan Pangeran Diponegoro sekitar tahun 1828. Pertemuan ini untuk menyusun strategi perang melawan penjajah Belanda.

Karena saat itu, masih dalam suasana perang Jawa. Pertemuan kedua tokoh ini dilakukan di Gua Raja yang terletak tidak jauh dari simpang PB VI. Tepatnya disebelah utara simpang. Sayangnya, pesanggrahan PB VI di Gua Raja sudah tidak ada.

“Menurut literasi, sesuai buku Peter Carrey, PB VI dulu sering ke Selo untuk melakukan pertemuan dengan Pangeran Diponegoro. PB VI membantu dalam menyuplai senjata, logistik,” ungkapnya.

Perlawanan tersebut berakhir takala PB VI dan Pangeran Diponegoro ditangkap diwaktu yang hampir bersamaan, pada 1830. Sehingga untuk mengenang PB VI, ikon baru ini tak hanya mempercantik wajah Boyolali, namun, juga menyimpan histori. (rgl/dam)

Populer

Berita Terbaru