alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Menteri Pertanian: Wabah PMK Tidak Hambat Idul Adha

BOYOLALI – Wabah penyakit mukut dan kuku (PMK) dipastikan tidak menular kepada manusia. Hal tersebut ditegaskan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo saat berkunjung di Boyolali kemarin (13/5). Penanganan tepat dengan suntikam vitamin dan antibiotik dinilai berhasil mempercepat penyembuhan. Namun, jika ditemukan transmisi lokal maka tindakan darurat berupa lockdown akan dilakukan.

“PMK ada tapi banyak yang sembuh. Kami sudah melangkah dan hasilnya ada trend penyembuhan yang positif. Saya habis dari Aceh, ada temuan yang mati tapi setelah dikonfirmasi bukan PMK. Saya lega, (tindakan, Red) di Klaten dan Boyolali yang potensi ternak besar,” terangnya.

Dia meminta masyarakat tidak menciptakan kondisi panik. Berkaca pada temuan PMK puluhan tahun lalu, upaya penanganan dilakukan dengan pemusnahan masal. Namun, kali ini dia menekankan agar penanganan ternak terpapar dengan disuntikan vitamin, antibiotik dan penurunan suhu tubuh. Upaya tersebut dinilai manjur. Karena dalam dua hari sudah terjadi pemulihan.

“Kalau masih sakit, kami intervensi lagi (dengan suntikan, Red). Karena mungkin ada juga orang yang suka ada wabah, kalau peternak panik lalu jual harganya murah. Misal yang awalnya Rp 45 juta akhirnya dilepas Rp 10 juta. Tentu merugikan peternak. Maka kami tingkatkan preventif dan pencegahan,” katanya.

Syahrul juga meminta agar dilakukan validasi dab faktuakisasi data. Berapa ternak terpapar dan berapa kematian ternak. Perlu dipastikan apakah ternak yang mati dikarenakan PMK. Menurut dia, data ternak terpapar di Jawa Timur mencapai 2 ribuan sapi dan 33 mati. Ternyata setelah diverifikasi tidak semua sapi yang mati dikarenakan PMK.

Kementerian juga telah membentuk gugus tugas dalam penanganan PMK. Di tingkat daerah, pemda bisa menggandeng polres dan kodim dalam pendampingan tracing. Gugus tugas ini yang bertugas menyusun dan mengendalikan informasi. Agar tidak ada informasi yang bias yang memicu kepanikan.

“Kami juga ada tiga agenda. Yakni agenda darurat. Tindakan ini berupa lockdown dengan menutup daerah yang terpapar. Masuk radius merah maka masuk keluar (lalu lintas ternak, Red) harus steril. Dengan jarak 3 kilometer (KM) dari titik temuan. Orang yang masuk situ (daerah terpapar, Red) harus ada perlakuan teknis. Karena penularan PMK sangat cepat, lewat airbone dan bekas injakan kaki,” tegasnya.

Kemudian ada juga zona kuning yang merupakan daerah transisi. Serta daerah hijau yang ternaknya cukup aman dari wabah. Penerapan tindakan darurat ini akan berlangsung selama 15 hari. Sesuai dengan masa inkubasi virus PMK. Kemudian agenda terporari berupa vaksinasi dan penyembuhan lainnya. Masa penyembuhan ternak terpapar memakan waktu hingga tiga bulan.

“Jadi kita tidak boleh saling menyalahkan, karena transmisi PMK memang cepat. Mendengar paparan Klaten dan Boyolali saya jadi termotivasi. Karena salah satu yang harus bersih Jateng. Selain itu, terus sosialisasi, bahwa PMK tidak menular pada manusia, daging sapi PMK bisa dimakan kecuali jeroan, lalu lidahnya karena sumber penyakit di situ,” ujarnya.

Syahrul juga menjamin wabah PMK tidak akan berpengaruh pada Idhul Adha. Sebab, produktivitas ternak bebas PMK ada. Kemudian daging ternak terpapar PMK juga masih bisa dikonsumsi.

“Kami jamin Idul Adha tidak ada pengaruhnya. Karena produktivitas ada, ternak sapi juga cukup yang dipotong paling 6-10 persen. Paling hanya 1,7 juta ekor untuk Idhul Adha. Diambil saja yang baik-baik. Jadi PMK tidak boleh mengusik Idhul Adha,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Boyolali M. Said Hidayat mengatakan, ada dua kasus temuan di Kota Susu. Yakni 15 ekor sapi di Singosari, Mojosongo dan enam ekor ternak di Ngenden, Ampel. Saat ini kondisi ternak sudah membaik.

Kabid Keswan Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali Afiany Rifdania menjelaskan, temuan kasus terjadi di Singosari, Mojosongo pada 7 Mei lalu dengan 15 ekor sapi terpapar. Lalu pada 8 Mei ditemukan enam ternak terpapar di Ngenden, Ampel. Terdiri dari 3 sapi dan tiga ternak.

“Kasus di Ngenden, Ampel, kami tracing satu kandang ada tiga sapi dan tiga kambing. Untuk sapi sudah menunjukan gejala, jadi semua ternak kami ambil sampel. Ternyata hasilnya positif PMK. Yang berbahaya tiga kambing itu tanpa gejala. Jadi bisa menjadi transmisi,” katanya.

Penularàn di Ngenden, Ampel diduga berasal dari pemilik. Lantaran pemilik merupakan pedagang ternak yang kemungkinan membawa virus dari pasar. Saat ini kondisi 21 ternak yang terpapar sudah membaik. Pengobatan dilakukan dengan menyuntikan vitamin, antibiotik dan penurun suhu.

“Saat kami periksa, suhu sapi mencapai 39 derajat celcius. Ini panas juga. Makanya dalam penyembukan PMK ya harus sabar. Fasenya itu daei mulut, lalu kaki habis itu masuk fase sembuh atau mati. Untungnya di Boyolali kami cepat, gak sampai parah sakitnya,” pungkasnya. (rgl/bun/dam)

BOYOLALI – Wabah penyakit mukut dan kuku (PMK) dipastikan tidak menular kepada manusia. Hal tersebut ditegaskan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo saat berkunjung di Boyolali kemarin (13/5). Penanganan tepat dengan suntikam vitamin dan antibiotik dinilai berhasil mempercepat penyembuhan. Namun, jika ditemukan transmisi lokal maka tindakan darurat berupa lockdown akan dilakukan.

“PMK ada tapi banyak yang sembuh. Kami sudah melangkah dan hasilnya ada trend penyembuhan yang positif. Saya habis dari Aceh, ada temuan yang mati tapi setelah dikonfirmasi bukan PMK. Saya lega, (tindakan, Red) di Klaten dan Boyolali yang potensi ternak besar,” terangnya.

Dia meminta masyarakat tidak menciptakan kondisi panik. Berkaca pada temuan PMK puluhan tahun lalu, upaya penanganan dilakukan dengan pemusnahan masal. Namun, kali ini dia menekankan agar penanganan ternak terpapar dengan disuntikan vitamin, antibiotik dan penurunan suhu tubuh. Upaya tersebut dinilai manjur. Karena dalam dua hari sudah terjadi pemulihan.

“Kalau masih sakit, kami intervensi lagi (dengan suntikan, Red). Karena mungkin ada juga orang yang suka ada wabah, kalau peternak panik lalu jual harganya murah. Misal yang awalnya Rp 45 juta akhirnya dilepas Rp 10 juta. Tentu merugikan peternak. Maka kami tingkatkan preventif dan pencegahan,” katanya.

Syahrul juga meminta agar dilakukan validasi dab faktuakisasi data. Berapa ternak terpapar dan berapa kematian ternak. Perlu dipastikan apakah ternak yang mati dikarenakan PMK. Menurut dia, data ternak terpapar di Jawa Timur mencapai 2 ribuan sapi dan 33 mati. Ternyata setelah diverifikasi tidak semua sapi yang mati dikarenakan PMK.

Kementerian juga telah membentuk gugus tugas dalam penanganan PMK. Di tingkat daerah, pemda bisa menggandeng polres dan kodim dalam pendampingan tracing. Gugus tugas ini yang bertugas menyusun dan mengendalikan informasi. Agar tidak ada informasi yang bias yang memicu kepanikan.

“Kami juga ada tiga agenda. Yakni agenda darurat. Tindakan ini berupa lockdown dengan menutup daerah yang terpapar. Masuk radius merah maka masuk keluar (lalu lintas ternak, Red) harus steril. Dengan jarak 3 kilometer (KM) dari titik temuan. Orang yang masuk situ (daerah terpapar, Red) harus ada perlakuan teknis. Karena penularan PMK sangat cepat, lewat airbone dan bekas injakan kaki,” tegasnya.

Kemudian ada juga zona kuning yang merupakan daerah transisi. Serta daerah hijau yang ternaknya cukup aman dari wabah. Penerapan tindakan darurat ini akan berlangsung selama 15 hari. Sesuai dengan masa inkubasi virus PMK. Kemudian agenda terporari berupa vaksinasi dan penyembuhan lainnya. Masa penyembuhan ternak terpapar memakan waktu hingga tiga bulan.

“Jadi kita tidak boleh saling menyalahkan, karena transmisi PMK memang cepat. Mendengar paparan Klaten dan Boyolali saya jadi termotivasi. Karena salah satu yang harus bersih Jateng. Selain itu, terus sosialisasi, bahwa PMK tidak menular pada manusia, daging sapi PMK bisa dimakan kecuali jeroan, lalu lidahnya karena sumber penyakit di situ,” ujarnya.

Syahrul juga menjamin wabah PMK tidak akan berpengaruh pada Idhul Adha. Sebab, produktivitas ternak bebas PMK ada. Kemudian daging ternak terpapar PMK juga masih bisa dikonsumsi.

“Kami jamin Idul Adha tidak ada pengaruhnya. Karena produktivitas ada, ternak sapi juga cukup yang dipotong paling 6-10 persen. Paling hanya 1,7 juta ekor untuk Idhul Adha. Diambil saja yang baik-baik. Jadi PMK tidak boleh mengusik Idhul Adha,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Boyolali M. Said Hidayat mengatakan, ada dua kasus temuan di Kota Susu. Yakni 15 ekor sapi di Singosari, Mojosongo dan enam ekor ternak di Ngenden, Ampel. Saat ini kondisi ternak sudah membaik.

Kabid Keswan Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali Afiany Rifdania menjelaskan, temuan kasus terjadi di Singosari, Mojosongo pada 7 Mei lalu dengan 15 ekor sapi terpapar. Lalu pada 8 Mei ditemukan enam ternak terpapar di Ngenden, Ampel. Terdiri dari 3 sapi dan tiga ternak.

“Kasus di Ngenden, Ampel, kami tracing satu kandang ada tiga sapi dan tiga kambing. Untuk sapi sudah menunjukan gejala, jadi semua ternak kami ambil sampel. Ternyata hasilnya positif PMK. Yang berbahaya tiga kambing itu tanpa gejala. Jadi bisa menjadi transmisi,” katanya.

Penularàn di Ngenden, Ampel diduga berasal dari pemilik. Lantaran pemilik merupakan pedagang ternak yang kemungkinan membawa virus dari pasar. Saat ini kondisi 21 ternak yang terpapar sudah membaik. Pengobatan dilakukan dengan menyuntikan vitamin, antibiotik dan penurun suhu.

“Saat kami periksa, suhu sapi mencapai 39 derajat celcius. Ini panas juga. Makanya dalam penyembukan PMK ya harus sabar. Fasenya itu daei mulut, lalu kaki habis itu masuk fase sembuh atau mati. Untungnya di Boyolali kami cepat, gak sampai parah sakitnya,” pungkasnya. (rgl/bun/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/