alexametrics
32.7 C
Surakarta
Monday, 27 September 2021

Petani: Hujan Terus Tembakau Susah Kering, Harga Bisa Jatuh Lagi

BOYOLALI Sudah jatuh tertimpa tangga. Ungkapan itu menggambarkan nasib petani tembakau lereng Merapi dan Merbabu di Boyolali. Belum lama ini harga jual anjlok karena dampak pandemi. Ditambah lagi hujan yang mengguyur di wilayah itu menjadikan tembakau mereka sulit mengering.

Petani sampai harus turun ke daerah kota untuk menjemur tembakaunya. Sejak pagi, mobil pikap dengan susunan tembakau rajang berlalu-lalang di Jalan Boyolali-Blabak. Mereka waswas karena tempat yang biasa dipakai untuk menjemur sudah tertutup mendung sejak Subuh.

Ngelu (Pusing,red) pandemi ini harganya bluk (Anjlok,red). Sekarang tembakau rajang dengan kualitas super cuma laku Rp 35 – Rp 40 ribu perkilogram (Kg). Ini malah sulit cari panas (Sinar matahari,red),” beber Sumarjo, 37, petani tembakau asal Gedangan, Cepogo.

Tak hanya harga tembakau yang jatuh, sinar matahari untuk pengeringan juga sulit. Beberapa hari terakhir hujan turun dan membuat tembakau rajang tidak kering. Dia lantas mengajak keluarganya turun dan menjemur tembakau rajang di area perkantoran Pemkab Boyolali, tepatnya di lahan kosong depan tugu jagung

Tak hanya itu, tembakau rajang harus kering dalam sehari. Namun, karena sulit mendapat sinar matahari, penjemuran harus dilakukan lagi pada hari berikutnya. Hal tersebut membuat harga tembakau terancam jatuh lagi. Karena kualitas tembakau rajang tersebut menurun. Harga jual tembakau rajang yang gagal kering ini berkisar Rp 25- Rp 30 ribu.

Sumarjo mengaku, harga tembakau jatuh sejak dua tahun terakhir, terlebih sejak adanya pandemi. Bahkan dia mengaku sulit mendapat keuntungan. Balik modal tanam saja sudah disyukuri. Tahun ini, dia menanam seribu batang tembakau dengan harapan harga jual membaik.

”Ini saya bawa 80 widik, semoga bisa kering meski harganya pasti turun karena kualitasnya jadi jelek. Untuk seribu batang tembakau kita bisa dapat sekitar dua ton tembakau rajang,” katanya.

Senada diungkapkan Yadi, petani lainnya. Seharusnya tembakau rajang bisa kering dalam sehari. Namun, karena hujan dan mendung, petani harus rela merogoh kocek lagi untuk biaya menjemur di daerah Boyolali Kota hingga Jembungan, Banyudono.

”Ini saja kualitas tembakau sudah kurang bagus. Untungnya, kini tinggal panen tahap akhir saja,” katanya.

Yadi mengamini harga tembakau tak sebagus dua tahun lalu. Bahkan penurunan terjadi selama dua tahun terakhir. ”Petani bisa menjual tembakau ke tengkulak atau pedagang pengepul,” imbuhnya.(rgl/adi/dam)


BOYOLALI Sudah jatuh tertimpa tangga. Ungkapan itu menggambarkan nasib petani tembakau lereng Merapi dan Merbabu di Boyolali. Belum lama ini harga jual anjlok karena dampak pandemi. Ditambah lagi hujan yang mengguyur di wilayah itu menjadikan tembakau mereka sulit mengering.

Petani sampai harus turun ke daerah kota untuk menjemur tembakaunya. Sejak pagi, mobil pikap dengan susunan tembakau rajang berlalu-lalang di Jalan Boyolali-Blabak. Mereka waswas karena tempat yang biasa dipakai untuk menjemur sudah tertutup mendung sejak Subuh.

Ngelu (Pusing,red) pandemi ini harganya bluk (Anjlok,red). Sekarang tembakau rajang dengan kualitas super cuma laku Rp 35 – Rp 40 ribu perkilogram (Kg). Ini malah sulit cari panas (Sinar matahari,red),” beber Sumarjo, 37, petani tembakau asal Gedangan, Cepogo.

Tak hanya harga tembakau yang jatuh, sinar matahari untuk pengeringan juga sulit. Beberapa hari terakhir hujan turun dan membuat tembakau rajang tidak kering. Dia lantas mengajak keluarganya turun dan menjemur tembakau rajang di area perkantoran Pemkab Boyolali, tepatnya di lahan kosong depan tugu jagung

Tak hanya itu, tembakau rajang harus kering dalam sehari. Namun, karena sulit mendapat sinar matahari, penjemuran harus dilakukan lagi pada hari berikutnya. Hal tersebut membuat harga tembakau terancam jatuh lagi. Karena kualitas tembakau rajang tersebut menurun. Harga jual tembakau rajang yang gagal kering ini berkisar Rp 25- Rp 30 ribu.

Sumarjo mengaku, harga tembakau jatuh sejak dua tahun terakhir, terlebih sejak adanya pandemi. Bahkan dia mengaku sulit mendapat keuntungan. Balik modal tanam saja sudah disyukuri. Tahun ini, dia menanam seribu batang tembakau dengan harapan harga jual membaik.

”Ini saya bawa 80 widik, semoga bisa kering meski harganya pasti turun karena kualitasnya jadi jelek. Untuk seribu batang tembakau kita bisa dapat sekitar dua ton tembakau rajang,” katanya.

Senada diungkapkan Yadi, petani lainnya. Seharusnya tembakau rajang bisa kering dalam sehari. Namun, karena hujan dan mendung, petani harus rela merogoh kocek lagi untuk biaya menjemur di daerah Boyolali Kota hingga Jembungan, Banyudono.

”Ini saja kualitas tembakau sudah kurang bagus. Untungnya, kini tinggal panen tahap akhir saja,” katanya.

Yadi mengamini harga tembakau tak sebagus dua tahun lalu. Bahkan penurunan terjadi selama dua tahun terakhir. ”Petani bisa menjual tembakau ke tengkulak atau pedagang pengepul,” imbuhnya.(rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru