alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Atasi Kekeringan, Pemkab Boyolali Salurkan 2.019 Tangki Air

BOYOLALI – Meskipun tahun ini masuk kemarau basah, dropping air bersih dilakukan pada enam kecamatan. Sebanyak 2.019 tangki air bersih akan disalurkan bertahap mulai kemarin (14/9).

Dropping air bersih sebagai tindak lanjut dari SK Bupati Boyolali nomor 360/593 tahun 2021 tentang penetapan siaga darurat kekeringan. Ada 25 desa di enam kecamatan yang berpotensi rawan kekurangan air bersih. Pelepasan simbolis dropping air bersih dilakukan di halaman kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Boyolali Widodo Munir mengatakan, sesuai perkiraan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tahun ini masuk kemarau basah. Yakni musim kemarau, namun sesekali masih turun hujan. Mengantisipasi daerah rawan kekurangan air bersih, pemkab menyediakan 2019 tangki air.

”Kami sudah lakukan asesmen sebelumnya daerah-daerah yang rawan kekurangan air bersih. Mulai hari ini kita dropping 14 tangki di tiga kecamatan. Kecamatan Juwangi Wonoegoro dan Wonosamudro,” ungkapnya selepas acara, kemarin (14/9).

Munir menambahkan, enam kecamatan yang masuk daerah rawan kekeringan yakni, Juwangi, Wonosegoro, Wonosamudro, Kemusu, Musuk dan Tamansari. Pihaknya menggandeng corporate social responbility (CSR) untuk penyediaan air bersih, dengan total target 2.019 tangki.

”Kami mengganggarkan Rp 100 juta untuk 400 tangki air. Lainnya dibantu oleh CSR. Penyaluran air bersih juga kami lakukan bertahap. Jika ada yang meminta akan kami kirimkan. Karena sesuai asesmen saat ini, Kecamatan Selo tidak masuk daerah rawan kekurangan air bersih,” jelasnya.

Hal tersebut dikarenakan warga Selo cukup kreatif mencari sumber mata air. Selain itu, potensi sumber air bersih masih ditemukan di Merapi dan Merbabu. Warga mampu mengelola air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Sekda Boyolali, Masruri mengatakan 2.019 tangki air ini untuk mengantisipasi potensi kekurangan air bersih. Beberapa desa di daerah utara dan selatan telah mengalami kekurangan air bersih. Dia menekankan agar dropping air digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum.

”Desa yang mengandalkan dari sumber air. Kemudian banyak yang kurang air yang mengandalkan air sungai seperti di daerah utara. Kalau hujan tidak turun air bersih susah di dapat,” katanya.

Masruri menegaskan jangan sampai air sisa dropping dimasukan ke sumur. Karena akan terserap ke tanah dan sia-sia terutama di daerah Juwangi, Kemusu, Wonosamudro, Wonosegoro dan lainnya. Dia meminta, petugas dropping air bersabar menunggu warga mencari tempat tandon air.

”Lebih baik kita tunggu saja. Kalau ada desa yang minta kita berangkat agar bisa dihemat energinya. Karena potensi kekeringan ada dan masih dalam situasi PPKM level 3. Agar sasaran dropping tepat dan menimbang jarak serta transportasinya,” ungkapnya.

Sedangkan Kecamatan Selo tidak lagi masuk daerah kekeringan lagi. Selain memanfaatkan Pamsimas, masyarakat juga mencari sumber mata air. Meskipun sumber mata air menipis saat musìm kemarau, namun, bisa mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat.(rgl/adi/dam)


BOYOLALI – Meskipun tahun ini masuk kemarau basah, dropping air bersih dilakukan pada enam kecamatan. Sebanyak 2.019 tangki air bersih akan disalurkan bertahap mulai kemarin (14/9).

Dropping air bersih sebagai tindak lanjut dari SK Bupati Boyolali nomor 360/593 tahun 2021 tentang penetapan siaga darurat kekeringan. Ada 25 desa di enam kecamatan yang berpotensi rawan kekurangan air bersih. Pelepasan simbolis dropping air bersih dilakukan di halaman kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Boyolali Widodo Munir mengatakan, sesuai perkiraan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tahun ini masuk kemarau basah. Yakni musim kemarau, namun sesekali masih turun hujan. Mengantisipasi daerah rawan kekurangan air bersih, pemkab menyediakan 2019 tangki air.

”Kami sudah lakukan asesmen sebelumnya daerah-daerah yang rawan kekurangan air bersih. Mulai hari ini kita dropping 14 tangki di tiga kecamatan. Kecamatan Juwangi Wonoegoro dan Wonosamudro,” ungkapnya selepas acara, kemarin (14/9).

Munir menambahkan, enam kecamatan yang masuk daerah rawan kekeringan yakni, Juwangi, Wonosegoro, Wonosamudro, Kemusu, Musuk dan Tamansari. Pihaknya menggandeng corporate social responbility (CSR) untuk penyediaan air bersih, dengan total target 2.019 tangki.

”Kami mengganggarkan Rp 100 juta untuk 400 tangki air. Lainnya dibantu oleh CSR. Penyaluran air bersih juga kami lakukan bertahap. Jika ada yang meminta akan kami kirimkan. Karena sesuai asesmen saat ini, Kecamatan Selo tidak masuk daerah rawan kekurangan air bersih,” jelasnya.

Hal tersebut dikarenakan warga Selo cukup kreatif mencari sumber mata air. Selain itu, potensi sumber air bersih masih ditemukan di Merapi dan Merbabu. Warga mampu mengelola air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Sekda Boyolali, Masruri mengatakan 2.019 tangki air ini untuk mengantisipasi potensi kekurangan air bersih. Beberapa desa di daerah utara dan selatan telah mengalami kekurangan air bersih. Dia menekankan agar dropping air digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum.

”Desa yang mengandalkan dari sumber air. Kemudian banyak yang kurang air yang mengandalkan air sungai seperti di daerah utara. Kalau hujan tidak turun air bersih susah di dapat,” katanya.

Masruri menegaskan jangan sampai air sisa dropping dimasukan ke sumur. Karena akan terserap ke tanah dan sia-sia terutama di daerah Juwangi, Kemusu, Wonosamudro, Wonosegoro dan lainnya. Dia meminta, petugas dropping air bersabar menunggu warga mencari tempat tandon air.

”Lebih baik kita tunggu saja. Kalau ada desa yang minta kita berangkat agar bisa dihemat energinya. Karena potensi kekeringan ada dan masih dalam situasi PPKM level 3. Agar sasaran dropping tepat dan menimbang jarak serta transportasinya,” ungkapnya.

Sedangkan Kecamatan Selo tidak lagi masuk daerah kekeringan lagi. Selain memanfaatkan Pamsimas, masyarakat juga mencari sumber mata air. Meskipun sumber mata air menipis saat musìm kemarau, namun, bisa mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat.(rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru