23.1 C
Surakarta
Monday, 29 May 2023

Padusan di Umbul Pandeyan Sudah Ada Sejak Zaman Raja-Raja Keraton Kasunanan

RADARSOLO.ID-Tradisi padusan jelang Ramadan kembali digelar di Umbul Ngabeyan, kompleks Umbul Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Selasa (21/3/2023). Kegiatan ini sudah dilakukan sejak era pemerintahan Raja Keraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono (PB) X.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, arak-arakan kereta kuda yang membawa Bupati Boyolali M. Said Hidayat dan istri, perwakilan Keraton Kasunanan Surakarta GKR Wandansari Koes Moertiyah atau dikenal Gusti Moeng, Kapolres Boyolali AKBP Petrus Parningotan Silalahi, serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD) bergerak dari Kecamatan Banyudono menuju Umbul Ngabeyan.

Tiba di lokasi, peserta kirab disambut tari Gambyong. Dilanjutkan siraman oleh bupati dan istri kepada Mas dan Mbak Boyolali. Setelah itu, Mas dan Mbak Boyolali masuk ke Umbul Ngabeyan untuk membasahi kepala dan bermain air yang merepresentasikan keceriaan.

Menurut Gusti Moeng, Umbul Ngabeyan merupakan tempat pemandian raja yang dibangun pada era PB X, sedangkan terkait padusan, tradisi ini juga dilaksanakan sejak zaman raja-raja. “Dahulu keraton menjadi pusat pemerintahan. Kalau Sinuhun belum padusan, rakyatnya juga belum padusan,” jelasnya.

Padusan, kata Gusti Moeng, merupakan simbol penyucian diri sebelum menunaikan ibadah puasa Ramadan. Tidak hanya secara lahiriah, tapi juga batiniah.

Di tempat yang sama, Bupati Boyolali M. Said Hidayat menjelaskan, tradisi ini menjadi wiwitan alias pembuka padusan. Diharapkan seluruh elemen masyarakat bisa menjaga dan melestarian kebudayaan yang menjadi kekayaan lokal.

“Kami berharap bisa terus menjaga naluri budaya kita. Adat-istiadat yang menjadi kekayaan tradisi lokal kita, harus secara bersama kita pertahankan,” ucapnya.

Terpisah, pegiat sejarah Boyolali Surojo mengatakan, padusan berasal dari kata adus atau dalam bahasa Jawa berarti mandi. Padusan ada sejak zaman Hindu. Saat itu, para kesatria yang akan melakukan ritual khusus, terlebih dahulu membersihkan badan atau mandi. Dengan harapan ritual berjalan lancar.

Ketika berganti kerajaan Islam, tradisi ini tetap ada dan bagi sebagian orang dimaknai sebagai simbol penyucian diri. Disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini sebagai tradisi mandi besar menjelang Ramadan.

“Karena dulu mandinya langsung di sumber air atau umbul, maka sekarang pun masyarakat tetap memilih padusan di sumber air atau pemandian,” pungkasnya. (rgl/wa)

 






Reporter: Ragil Listiyo

RADARSOLO.ID-Tradisi padusan jelang Ramadan kembali digelar di Umbul Ngabeyan, kompleks Umbul Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Selasa (21/3/2023). Kegiatan ini sudah dilakukan sejak era pemerintahan Raja Keraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono (PB) X.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, arak-arakan kereta kuda yang membawa Bupati Boyolali M. Said Hidayat dan istri, perwakilan Keraton Kasunanan Surakarta GKR Wandansari Koes Moertiyah atau dikenal Gusti Moeng, Kapolres Boyolali AKBP Petrus Parningotan Silalahi, serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD) bergerak dari Kecamatan Banyudono menuju Umbul Ngabeyan.

Tiba di lokasi, peserta kirab disambut tari Gambyong. Dilanjutkan siraman oleh bupati dan istri kepada Mas dan Mbak Boyolali. Setelah itu, Mas dan Mbak Boyolali masuk ke Umbul Ngabeyan untuk membasahi kepala dan bermain air yang merepresentasikan keceriaan.

Menurut Gusti Moeng, Umbul Ngabeyan merupakan tempat pemandian raja yang dibangun pada era PB X, sedangkan terkait padusan, tradisi ini juga dilaksanakan sejak zaman raja-raja. “Dahulu keraton menjadi pusat pemerintahan. Kalau Sinuhun belum padusan, rakyatnya juga belum padusan,” jelasnya.

Padusan, kata Gusti Moeng, merupakan simbol penyucian diri sebelum menunaikan ibadah puasa Ramadan. Tidak hanya secara lahiriah, tapi juga batiniah.

Di tempat yang sama, Bupati Boyolali M. Said Hidayat menjelaskan, tradisi ini menjadi wiwitan alias pembuka padusan. Diharapkan seluruh elemen masyarakat bisa menjaga dan melestarian kebudayaan yang menjadi kekayaan lokal.

“Kami berharap bisa terus menjaga naluri budaya kita. Adat-istiadat yang menjadi kekayaan tradisi lokal kita, harus secara bersama kita pertahankan,” ucapnya.

Terpisah, pegiat sejarah Boyolali Surojo mengatakan, padusan berasal dari kata adus atau dalam bahasa Jawa berarti mandi. Padusan ada sejak zaman Hindu. Saat itu, para kesatria yang akan melakukan ritual khusus, terlebih dahulu membersihkan badan atau mandi. Dengan harapan ritual berjalan lancar.

Ketika berganti kerajaan Islam, tradisi ini tetap ada dan bagi sebagian orang dimaknai sebagai simbol penyucian diri. Disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini sebagai tradisi mandi besar menjelang Ramadan.

“Karena dulu mandinya langsung di sumber air atau umbul, maka sekarang pun masyarakat tetap memilih padusan di sumber air atau pemandian,” pungkasnya. (rgl/wa)

 






Reporter: Ragil Listiyo

Populer

Berita Terbaru

spot_img