alexametrics
21.5 C
Surakarta
Thursday, 30 June 2022

Disdagperin Sarankan Proses Jual Beli Dilakukan Secara Online

Penutupan Pasar Hewan di Boyolali Diperpanjang

BOYOLALI – Penutupan pasar hewan untuk mencegah penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali diperpanjang hingga 4 Juli mendatang. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Boyolali menyarankan agar jual beli hewan dilakukan secara online.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Hewan Disdagperin Boyolali Sapto Hadi Darmono mengatakan, penutupan ini berlaku untuk seluruh pasar hewan di Kota Susu, diambil berdasarkan rapat koordinasi lintas sektoral.

”Pertimbangan pertama karena perkembangan PMK di Boyolali untuk data di disnakan. Kemudian hampir semua pasar hewan di kabupaten sekitar di Jawa Tengah ditutup. Sehingga dengan penutupan serentak itu bisa mengandalikan wabah PMK,” jelasnya, Selasa (21/6).

Penutupan pasar ini juga memberikan dampak positif. Sebab mampu mengurangi mobilitas ternak yang sakit agar tidak dijual ke pasar. Diharapkan potensi paparan ternak bisa dikendalikan. Selain itu, disnakan bisa lebih fokus pada pengobatan ternak dakit dan edukasi ke peternak maupun petani.

Sapto mengamini, H-18 Idhul Adha biasanya pasar hewan sangat ramai. Di situasi normal, minggu-minggu ini menjadi puncak jual beli hewan kurban. Karena masih ada wakru untuk pengiriman hewan kurban. Pedagang juga masih bisa melakukan stok hewan kurban yang dibeli di pasar hewan.

”Kalau misal normal saat ini titik yang sangat ramai. Karena untuk pengiriman masih bisa, penyetok juga masih bisa. Potensi pasar juga tinggi dan akan ramai. Kami selalu koordinasi dan edukasikan ke pedagang. Harapan kami mendekati hari kurban kesediaan sapi tercukupi. Kami harap pedagang sapi dan kanbing berdagang dengan online dulu. Dengan syarat ternak-ternak yang dijual sehat,” katanya.

Kepala Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali, Lusia Dyah Suciati mengatakan, data hingga hingga 21 Juni kasus suspek mencapai 3.088 ekor. Sedangkan kasus positif PMK 32 ekor, sembuh 633 ekor dan mati sebanyak 24 ekor. Wabah PMK tersebar merata di 22 kecamatan di Boyolali. Ada tiga zona merah PMK, yakni Kecamatan Mojosongo, Ampel, dan Andong. Sedangkan 19 kecamatan lainnya berada di zona kuning.

Perpanjangan penutupan ini dilakukan setelah melihat kondisi di wilayah yang perbatasan. Selain itu, kondisi peningkatan penyebaran PMk dan tingkat kesembuhan yang juga meningkat cukup signifikan. Pihaknya juga memberi motivasi kepada para peternak agar tidak berputus asa dan terus beternak. (rgl/adi/dam)

BOYOLALI – Penutupan pasar hewan untuk mencegah penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali diperpanjang hingga 4 Juli mendatang. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Boyolali menyarankan agar jual beli hewan dilakukan secara online.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Hewan Disdagperin Boyolali Sapto Hadi Darmono mengatakan, penutupan ini berlaku untuk seluruh pasar hewan di Kota Susu, diambil berdasarkan rapat koordinasi lintas sektoral.

”Pertimbangan pertama karena perkembangan PMK di Boyolali untuk data di disnakan. Kemudian hampir semua pasar hewan di kabupaten sekitar di Jawa Tengah ditutup. Sehingga dengan penutupan serentak itu bisa mengandalikan wabah PMK,” jelasnya, Selasa (21/6).

Penutupan pasar ini juga memberikan dampak positif. Sebab mampu mengurangi mobilitas ternak yang sakit agar tidak dijual ke pasar. Diharapkan potensi paparan ternak bisa dikendalikan. Selain itu, disnakan bisa lebih fokus pada pengobatan ternak dakit dan edukasi ke peternak maupun petani.

Sapto mengamini, H-18 Idhul Adha biasanya pasar hewan sangat ramai. Di situasi normal, minggu-minggu ini menjadi puncak jual beli hewan kurban. Karena masih ada wakru untuk pengiriman hewan kurban. Pedagang juga masih bisa melakukan stok hewan kurban yang dibeli di pasar hewan.

”Kalau misal normal saat ini titik yang sangat ramai. Karena untuk pengiriman masih bisa, penyetok juga masih bisa. Potensi pasar juga tinggi dan akan ramai. Kami selalu koordinasi dan edukasikan ke pedagang. Harapan kami mendekati hari kurban kesediaan sapi tercukupi. Kami harap pedagang sapi dan kanbing berdagang dengan online dulu. Dengan syarat ternak-ternak yang dijual sehat,” katanya.

Kepala Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali, Lusia Dyah Suciati mengatakan, data hingga hingga 21 Juni kasus suspek mencapai 3.088 ekor. Sedangkan kasus positif PMK 32 ekor, sembuh 633 ekor dan mati sebanyak 24 ekor. Wabah PMK tersebar merata di 22 kecamatan di Boyolali. Ada tiga zona merah PMK, yakni Kecamatan Mojosongo, Ampel, dan Andong. Sedangkan 19 kecamatan lainnya berada di zona kuning.

Perpanjangan penutupan ini dilakukan setelah melihat kondisi di wilayah yang perbatasan. Selain itu, kondisi peningkatan penyebaran PMk dan tingkat kesembuhan yang juga meningkat cukup signifikan. Pihaknya juga memberi motivasi kepada para peternak agar tidak berputus asa dan terus beternak. (rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/