alexametrics
21.5 C
Surakarta
Thursday, 30 June 2022

Pemkab Boyolali Atur Proses Pelaksanaan Kurban

Hewan Ternak Bergejala PMK Ringan, Tetap Bisa Dipotong

BOYOLALI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali telah mengatur proses pelaksanaan kurban di tengah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Boyolali nomor 1311 Tahun 2022. Salah satunya, lokasi penyembelihan hewan kurban wajib disterilisasi dengan disinfektan. Selain itu, ternak bergejala PMK ringan sah untuk dipotong.

SE Bupati 1311 Tahun 2022 tentang Pelaksanaan Kurban dan Pemotongan Hewan di Tengah Wabah PMK. Pemkab meminta pelaksanaan kurban tetap memperhatikan upaya pencegahan PMK, sehat serta memenuhi kaidah agama. Beberapa hal yang diatur seperti memastikan hewan kurban memenuhi persyaratan syariat Islam, administrasi, dan teknis.

Hewan kurban harus dinyatakan sehat berdasarkan sertifikat veteriner (SV) atau surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). Kemudian mengacu pada Fatwa MUI Nomor 32 Tahun 2022, hewan kurban yang terpapar PMK dengan kategori ringan masih bisa disembelih. Seperti mengalami lepuh ringan pada celah kuku, lesu, tidak nafsu makan, dan mengeluarkan air liur lebih banyak dari biasanya.

Bupati Boyolali M. Said Hidayat menjelaskan, meski bergejala ringan, tetap dinyatakan sah. Namun, harus memerhatikan faktor risiko dan dampak yang timbul. Kemudian jika sapi kurban mengalami gejala parah sampai kondisi pincang, kuku terlepas, dan sangat kurus, maka hewan tersebut dinyatakan tidak sah untuk kurban.

”Pemotongan hewan kurban dipusatkan di rumah pemotongan hewan ruminasia (RPH-R) Ampel. Namun, jika penuh, bisa dilakukan luar RPH-R. Tapi wajib memperhatikan persyaratan higenitas sanitasi,” terang bupati, kemarin (22/6).

Panitia kurban wajib menyediakan fasilitas penampungan limbah dan tidak boleh keluar dari area pemotongan. Setelahnya wajib disemprot disinfektan dan limbah bisa dibakar. Selain itu, panitia harus menyediakan lahan untuk pembersihan dan disinfeksi kendaraan, peralatan kurban, orang, hewan maupun limbah.

Adapun pendistribuasian daging kurban dan jeroan dalam waktu kurang dari lima jam. Panitia juga melakukan perebusan bagian kepala, jeroan, kaki, ekor dan tulang. Sedangkan bagian kulit dilakukan penggaraman. Jika daging diedarkan di luar Boyolali, maka harus direbus terlebih dahulu selama minimal 30 menit.

”Panitia melaporkan ke Disnakan Boyolali jika ada hewan kurban sakit atau diduga sakit,” tandasnya. (rgl/adi/dam)

BOYOLALI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali telah mengatur proses pelaksanaan kurban di tengah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Boyolali nomor 1311 Tahun 2022. Salah satunya, lokasi penyembelihan hewan kurban wajib disterilisasi dengan disinfektan. Selain itu, ternak bergejala PMK ringan sah untuk dipotong.

SE Bupati 1311 Tahun 2022 tentang Pelaksanaan Kurban dan Pemotongan Hewan di Tengah Wabah PMK. Pemkab meminta pelaksanaan kurban tetap memperhatikan upaya pencegahan PMK, sehat serta memenuhi kaidah agama. Beberapa hal yang diatur seperti memastikan hewan kurban memenuhi persyaratan syariat Islam, administrasi, dan teknis.

Hewan kurban harus dinyatakan sehat berdasarkan sertifikat veteriner (SV) atau surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). Kemudian mengacu pada Fatwa MUI Nomor 32 Tahun 2022, hewan kurban yang terpapar PMK dengan kategori ringan masih bisa disembelih. Seperti mengalami lepuh ringan pada celah kuku, lesu, tidak nafsu makan, dan mengeluarkan air liur lebih banyak dari biasanya.

Bupati Boyolali M. Said Hidayat menjelaskan, meski bergejala ringan, tetap dinyatakan sah. Namun, harus memerhatikan faktor risiko dan dampak yang timbul. Kemudian jika sapi kurban mengalami gejala parah sampai kondisi pincang, kuku terlepas, dan sangat kurus, maka hewan tersebut dinyatakan tidak sah untuk kurban.

”Pemotongan hewan kurban dipusatkan di rumah pemotongan hewan ruminasia (RPH-R) Ampel. Namun, jika penuh, bisa dilakukan luar RPH-R. Tapi wajib memperhatikan persyaratan higenitas sanitasi,” terang bupati, kemarin (22/6).

Panitia kurban wajib menyediakan fasilitas penampungan limbah dan tidak boleh keluar dari area pemotongan. Setelahnya wajib disemprot disinfektan dan limbah bisa dibakar. Selain itu, panitia harus menyediakan lahan untuk pembersihan dan disinfeksi kendaraan, peralatan kurban, orang, hewan maupun limbah.

Adapun pendistribuasian daging kurban dan jeroan dalam waktu kurang dari lima jam. Panitia juga melakukan perebusan bagian kepala, jeroan, kaki, ekor dan tulang. Sedangkan bagian kulit dilakukan penggaraman. Jika daging diedarkan di luar Boyolali, maka harus direbus terlebih dahulu selama minimal 30 menit.

”Panitia melaporkan ke Disnakan Boyolali jika ada hewan kurban sakit atau diduga sakit,” tandasnya. (rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/