alexametrics
21.9 C
Surakarta
Wednesday, 28 July 2021

Tak Mau Istri Dimakamkan dengan Prokes Covid

Warga Ngemplak Tega Bohongi Sopir Ambulans

SOLO – Seorang sopir ambulans dari Relawan Persatuan Driver Ambulans Solo Raya (PEDAS) dibohongi oleh keluarga pasien yang meninggal karena terpapar Covid-19. Pihak keluarga mengatakan kalau jenasah tidak terpapar korona.

Ya, hal inilah yang dialami Dwi Ardian, Kamis (22/7). Melalui sambungan telepon, pria ini mengatakan awalnya mendapat informasi ada warga meninggal yang bermukim di Griya Persada RT 7 RW 10 Sawahan, Ngemplak, Boyolali.

“Saat itu saya telpon dengan suaminya, atas nama Joko. Kemudian dia mengatakan kalau sang istri meninggal dengan status Non Covid. Karena saat itu saya sedang mengantarkan pasien, saya antar dulu pasien ke Rumah Sakit. Setelah itu saya langsung menuju kesana. Saat mau mendekat ke rumah duka, saya curiga, kok jalan kearah rumahnya banyak yang ditutup portal, jadi saya sempat mutar-muter,” ujarnya.

Singkat cerita, setelah tiba dirumah duka. Dwi masih curiga, sebab dirumah tidak ada satupun warga yang melayat. Kemudian Dwi didatangi oleh Joko. “Dia mengatakan kalau jenasah minta dihantarkan ke Blora. Lalu saya tanya kenapa? kemudian Joko bilang karena warga sekitar menolak,” katanya.

Setelah itu, Dwi mencari informasi dari anggota Polsek setempat yang kebetulan berada dilokasi. Kecurigaan Dwi terkuak setelah anggota Polsek memberi informasi kalau ternyata jenasah istri Joko yang diketahui berinisial KH terkonfirmasi terpapar Covid-19 dari hasil tes PCR di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngipang.

“Katanya tadi yang bersangkutan sempat dirawat selelama tiga hari di Ngipang sebelum akhirnya meninggal. Tapi menolak untuk dimakamkan dengan prokes Covid. Bahkan dapat info dari Polisi yang ada di rumah duka, bahwa keluarga juga melakukan pemukulan terhadap nakes di Ngipang,” ujarnya.

Dwi pun berinisiatif mencari informasi lebih lanjut. Dari hasil mengobrol dengan warga sektiar, ternyata warga menolak jenasah dikebumikan di TPU setempat karena pihak keluarga menolak pemulasaran jenasah dengan SOP Covid.

“Dari situ kemudian saya memutuskan untuk balik kanan. Sebenarnya kami dari relawan tidak akan menolak mengantarkan jenasah, asalkan keluarga jujur dengan keadaan yang terjadi. Serta mau mengikuti prosedur yang ada. Kalau terpapar ya sudah katakan sejujurnya,” pungkas Dwi. (atn/dam)


SOLO – Seorang sopir ambulans dari Relawan Persatuan Driver Ambulans Solo Raya (PEDAS) dibohongi oleh keluarga pasien yang meninggal karena terpapar Covid-19. Pihak keluarga mengatakan kalau jenasah tidak terpapar korona.

Ya, hal inilah yang dialami Dwi Ardian, Kamis (22/7). Melalui sambungan telepon, pria ini mengatakan awalnya mendapat informasi ada warga meninggal yang bermukim di Griya Persada RT 7 RW 10 Sawahan, Ngemplak, Boyolali.

“Saat itu saya telpon dengan suaminya, atas nama Joko. Kemudian dia mengatakan kalau sang istri meninggal dengan status Non Covid. Karena saat itu saya sedang mengantarkan pasien, saya antar dulu pasien ke Rumah Sakit. Setelah itu saya langsung menuju kesana. Saat mau mendekat ke rumah duka, saya curiga, kok jalan kearah rumahnya banyak yang ditutup portal, jadi saya sempat mutar-muter,” ujarnya.

Singkat cerita, setelah tiba dirumah duka. Dwi masih curiga, sebab dirumah tidak ada satupun warga yang melayat. Kemudian Dwi didatangi oleh Joko. “Dia mengatakan kalau jenasah minta dihantarkan ke Blora. Lalu saya tanya kenapa? kemudian Joko bilang karena warga sekitar menolak,” katanya.

Setelah itu, Dwi mencari informasi dari anggota Polsek setempat yang kebetulan berada dilokasi. Kecurigaan Dwi terkuak setelah anggota Polsek memberi informasi kalau ternyata jenasah istri Joko yang diketahui berinisial KH terkonfirmasi terpapar Covid-19 dari hasil tes PCR di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngipang.

“Katanya tadi yang bersangkutan sempat dirawat selelama tiga hari di Ngipang sebelum akhirnya meninggal. Tapi menolak untuk dimakamkan dengan prokes Covid. Bahkan dapat info dari Polisi yang ada di rumah duka, bahwa keluarga juga melakukan pemukulan terhadap nakes di Ngipang,” ujarnya.

Dwi pun berinisiatif mencari informasi lebih lanjut. Dari hasil mengobrol dengan warga sektiar, ternyata warga menolak jenasah dikebumikan di TPU setempat karena pihak keluarga menolak pemulasaran jenasah dengan SOP Covid.

“Dari situ kemudian saya memutuskan untuk balik kanan. Sebenarnya kami dari relawan tidak akan menolak mengantarkan jenasah, asalkan keluarga jujur dengan keadaan yang terjadi. Serta mau mengikuti prosedur yang ada. Kalau terpapar ya sudah katakan sejujurnya,” pungkas Dwi. (atn/dam)

Populer

Berita Terbaru