alexametrics
23.4 C
Surakarta
Thursday, 7 July 2022

5 Sapi Lempoh yang Turun di Pasar Hewan Jelok Terindikasi PMK: Tak Ada SKKH

BOYOLALI – Kemunculan sapi lempoh alias tergeletak di Pasar Hewan Jelok, Cepogo pada Kamis (23/6) pagi langsung ditindaklanjuti Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali. Ada lima sapi yang menunjukan gejala penyakit mulut dan kuku (PMK). Sapi-sapi asal Lumajang, Jawa Timur tersebut dipastikan tak memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).

Kabid Keswan Disnakan Boyolali  Afiany Rifdania mengatakan, satgas PMK langsung turun ke lokasi begitu mendapat laporan adanya sapiu lempoh. Setelah dicek, ditemukan lima sapi dengan gejala PMK. Saat dilakukan pengecekan, Afy melihat ada delapan sapi. Lima sapi ditaruh di kebun luar rumah, sedangkan tiga sapi diletakan di kandang.

“Kondisinya sudah ndeprok (tergeletak,Red), hipersalivasi dan sudah mengarah PMK. Nak ndeprok ki jelas kukune rusak (kalau sudah tergeletak jelas kukunya rusak,Red). Yang lima itu yang bergejala,” katanya, Kamis.

Sapi-sapi tersebut berasal dari daerah wabah, yakni Provinsi Jawa Timur. Afy memastikan, tidak ada SKKH dari sapi-sapi tersebut. Sebab, jika ada SKKH, sapi terpapar baru menunjukan gejala klinis setelah beberapa hari kemudian. Dikarenakan kemungkinan tertular saat perjalanan. Selain itu, dalam pemeriksaan untuk memperoleh SKKH, sapi juga harus terlihat sehat. Sementara, sapi-sapi dari Lumajang itu diperkirakan sudah mengalami gejala klinis jauh-jauh hari

Wong itu kondisi sudah ndeprok kok. Itu enggak ada (SKKH,red). Wong ditanyain juga enggak ada kok. Enggak ada SKKH itu ilegal. Kita tadi juga koordinasi dengan PMI, pasarnya sudah disemprot dan sapi sudah diobati. Kalau saran saya ya dikembalikan. Jangan nambahi kasus di Boyolali,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolsek Cepogo AKP Agung Setiawan mengatakan, pihaknya langsung mengecek ke lokasi. Dia mengamini kondisi sapi sudah mengarah pada gejala PMK. Karena sapi hanya bisa ndeprok dengan mulut berbuih dan napasnya tersengal-sengal.

“Tadi memang bikin resah masyarakat sekitar pasar. Lho kok ana kaya ngene (lho kok ada seperti ini, Red). Takutnya menularkan, makanya diminta dibawa ke kandang. Kalau pasar kan memang ditutup. Tapi kalau transaksi luar pasar kita kesulitan menindak. Itu memang dari Lumajang, apalagi mendekati Idhul Adha. Jadi beli dari sana, terus sampai sini kok kondisi begitu. Takut menularkan di kandang, makanya ditaruh di pasar,” ucap kapolsek. (rgl/ria)






Reporter: Ragil Listiyo

BOYOLALI – Kemunculan sapi lempoh alias tergeletak di Pasar Hewan Jelok, Cepogo pada Kamis (23/6) pagi langsung ditindaklanjuti Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali. Ada lima sapi yang menunjukan gejala penyakit mulut dan kuku (PMK). Sapi-sapi asal Lumajang, Jawa Timur tersebut dipastikan tak memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).

Kabid Keswan Disnakan Boyolali  Afiany Rifdania mengatakan, satgas PMK langsung turun ke lokasi begitu mendapat laporan adanya sapiu lempoh. Setelah dicek, ditemukan lima sapi dengan gejala PMK. Saat dilakukan pengecekan, Afy melihat ada delapan sapi. Lima sapi ditaruh di kebun luar rumah, sedangkan tiga sapi diletakan di kandang.

“Kondisinya sudah ndeprok (tergeletak,Red), hipersalivasi dan sudah mengarah PMK. Nak ndeprok ki jelas kukune rusak (kalau sudah tergeletak jelas kukunya rusak,Red). Yang lima itu yang bergejala,” katanya, Kamis.

Sapi-sapi tersebut berasal dari daerah wabah, yakni Provinsi Jawa Timur. Afy memastikan, tidak ada SKKH dari sapi-sapi tersebut. Sebab, jika ada SKKH, sapi terpapar baru menunjukan gejala klinis setelah beberapa hari kemudian. Dikarenakan kemungkinan tertular saat perjalanan. Selain itu, dalam pemeriksaan untuk memperoleh SKKH, sapi juga harus terlihat sehat. Sementara, sapi-sapi dari Lumajang itu diperkirakan sudah mengalami gejala klinis jauh-jauh hari

Wong itu kondisi sudah ndeprok kok. Itu enggak ada (SKKH,red). Wong ditanyain juga enggak ada kok. Enggak ada SKKH itu ilegal. Kita tadi juga koordinasi dengan PMI, pasarnya sudah disemprot dan sapi sudah diobati. Kalau saran saya ya dikembalikan. Jangan nambahi kasus di Boyolali,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolsek Cepogo AKP Agung Setiawan mengatakan, pihaknya langsung mengecek ke lokasi. Dia mengamini kondisi sapi sudah mengarah pada gejala PMK. Karena sapi hanya bisa ndeprok dengan mulut berbuih dan napasnya tersengal-sengal.

“Tadi memang bikin resah masyarakat sekitar pasar. Lho kok ana kaya ngene (lho kok ada seperti ini, Red). Takutnya menularkan, makanya diminta dibawa ke kandang. Kalau pasar kan memang ditutup. Tapi kalau transaksi luar pasar kita kesulitan menindak. Itu memang dari Lumajang, apalagi mendekati Idhul Adha. Jadi beli dari sana, terus sampai sini kok kondisi begitu. Takut menularkan di kandang, makanya ditaruh di pasar,” ucap kapolsek. (rgl/ria)






Reporter: Ragil Listiyo

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/