alexametrics
26.3 C
Surakarta
Thursday, 9 December 2021

Peringati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Mahasiswa Turun ke Jalan

BOYOLALI Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Perempuan Merdeka (APPM) menggelar aksi memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan di simpang empat patung Soekarno, Kamis (25/11).

Mereka membawa poster berisikan penolakan kekerasan pada perempuan. Mereka juga membawa petisi 16 hari anti kekerasan pada perempuan dan perjuangan hak asasi manusia (HAM). Serta menuntut agar Rancangan Undang-Undang (RUU) penghapusan kekerasan seksual (PKS) segera disahkan.

Koordinator lapangan (Koorlap) aksi Restu Gustiana mengatakan, kegiatan ini akan digelar selama 16 hari ke depan. Menurutnya, aksi ini tak hanya menyampaikan aspirasi saja. Namun juga penyadaran bagi masyarakat. Pihaknya akan menggelar edukasi ke sekolah dan masyarakat umum sampai 10 Desember mendatang.

”Kami tergabung dalam APPM ingin masyarakat paham bahwa kekerasan seksual termasuk dalam pelanggaran HAM,” terangnya saat ditemui di lokasi.

Selain itu, pihaknya juga menuntut agar RUU PKS segera disahkan. Sehingga pelaku kekerasan seksual bisa dijerat hukum yang sesuai. Menurutnya, survei dari lembaga kajian transformasi sosial masih ditemui pernikahan dini berkedok budaya. Selain itu, masih minim masyarakat yang menyuarakan hak-hak perempuan. Stigma negatif tentang perempuan juga masih ditemukan.

Koordinator aksi, Siti Indun Khasanah mengatakan, tuntutan lainnya meminta penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, menghentikan eksploitasi perempuan dalam bentuk apapun, menghentikan pelecehan seksual di ranah pendidikan dan ketenagakerjaan.

”Kami juga meminta agar Bupati Boyolali menyediakan rumah aman yang mudah dijangkau oleh korban dan bisa memastikan keamanan korban kekerasan tersebut. Termasuk dalam membuka ruang-ruang pengaduan, penanganan serta pendampingan pada korban,” jelasnya.

Kasatlantas Polres Boyolali AKP Yulia Anggraeni mengatakan, pengamanan lalu lintas dilakukan dalam mengawal aksi damai ini. Menurutnya, unjuk rasa digelar tertib. Pengawalan ini dilakukan untuk memastikan aksi demo tidak mengganggu lalu lintas pengendara. Sebab, aksi digelar di selatan Jalan Solo-Semarang.

”Kami hanya pengamanan saja dan memastikan aksi ini tidak mengganggu para pengguna jalan,” katanya. (rgl/adi/dam)

BOYOLALI Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Perempuan Merdeka (APPM) menggelar aksi memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan di simpang empat patung Soekarno, Kamis (25/11).

Mereka membawa poster berisikan penolakan kekerasan pada perempuan. Mereka juga membawa petisi 16 hari anti kekerasan pada perempuan dan perjuangan hak asasi manusia (HAM). Serta menuntut agar Rancangan Undang-Undang (RUU) penghapusan kekerasan seksual (PKS) segera disahkan.

Koordinator lapangan (Koorlap) aksi Restu Gustiana mengatakan, kegiatan ini akan digelar selama 16 hari ke depan. Menurutnya, aksi ini tak hanya menyampaikan aspirasi saja. Namun juga penyadaran bagi masyarakat. Pihaknya akan menggelar edukasi ke sekolah dan masyarakat umum sampai 10 Desember mendatang.

”Kami tergabung dalam APPM ingin masyarakat paham bahwa kekerasan seksual termasuk dalam pelanggaran HAM,” terangnya saat ditemui di lokasi.

Selain itu, pihaknya juga menuntut agar RUU PKS segera disahkan. Sehingga pelaku kekerasan seksual bisa dijerat hukum yang sesuai. Menurutnya, survei dari lembaga kajian transformasi sosial masih ditemui pernikahan dini berkedok budaya. Selain itu, masih minim masyarakat yang menyuarakan hak-hak perempuan. Stigma negatif tentang perempuan juga masih ditemukan.

Koordinator aksi, Siti Indun Khasanah mengatakan, tuntutan lainnya meminta penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, menghentikan eksploitasi perempuan dalam bentuk apapun, menghentikan pelecehan seksual di ranah pendidikan dan ketenagakerjaan.

”Kami juga meminta agar Bupati Boyolali menyediakan rumah aman yang mudah dijangkau oleh korban dan bisa memastikan keamanan korban kekerasan tersebut. Termasuk dalam membuka ruang-ruang pengaduan, penanganan serta pendampingan pada korban,” jelasnya.

Kasatlantas Polres Boyolali AKP Yulia Anggraeni mengatakan, pengamanan lalu lintas dilakukan dalam mengawal aksi damai ini. Menurutnya, unjuk rasa digelar tertib. Pengawalan ini dilakukan untuk memastikan aksi demo tidak mengganggu lalu lintas pengendara. Sebab, aksi digelar di selatan Jalan Solo-Semarang.

”Kami hanya pengamanan saja dan memastikan aksi ini tidak mengganggu para pengguna jalan,” katanya. (rgl/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru