alexametrics
23.3 C
Surakarta
Wednesday, 17 August 2022

Kasus Dugaan Korupsi di BUMDes Berjo

Lengkapi Bukti, Kejari Karanganyar Bakal Periksa Tiga Bank

KARANGANYAR – Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar berencana meminta keterangan tiga bank yang diduga digunakan untuk menyimpan dan mencairkan pengelolaan dana Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berjo, Ngargoyoso. Hal itu untuk memperkuat bukti-bukti kasus dugaan korupsi di BUMDes Berjo.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karanganyar Mulyadi Sajaen melalui Kasi Pidsus Tubagus Gilang Hidayatullah mengungkapkan, sejauh ini pihaknya belum menentukan tersangka dalam kasus tersebut. Kejaksaan masih melakukan penyidikan tahap akhir.

Selain memeriksa kepala desa, mantan pengurus BUMDes yang lama serta pengurus dan bendahara BUMDes yang baru, Kejari juga bakal meminta keterangan tiga bank sekaligus. Bank tersebut milik pemerintah daerah maupun provinsi.

”Hasil pemeriksaan kemarin ada tiga bank yang digunakan untuk menyimpan dana tersebut. Nah kami mau tanyakan itu ke masing-masing bank terkait mekanisme pengambilan uangnya seperti apa. Wewenang untuk bisa mengambil uang itu siapa saja,” terang Gilang.

Ditanya apakah segera menyita barang bukti, Gilang mengaku belum bisa dilakukan. Lantaran belum menetapkan tersangka. Meski sudah mendapatkan laporan dari Inspektorat terkait kerugian sebesar Rp 1,1 miliar.

”Penyitaan barang bukti belum, karena itu nanti juga harus ada persetujuan dari pihak pengadilan negeri (PN) yang akan menyidangkan kasus,” singkatnya.

Sementara itu, disinggung terkait permintaan kejaksaan ke inspektorat untuk melakukan penyelidikan terhadap penggunaan anggaran Rp 700 juta di luar kerugian Rp 1,1 miliar, Gilang menjelaskan, inspektorat masih melakukan penyelidikan.

”Kami itukan minta ke inspektorat untuk menyelidiki atau menghitung anggaran yang Rp 700 juta itu. Kalaupun itu nanti tidak masuk dalam temuan, ya nanti tidak akan kami pakai sebagai temuan, yang kami gunakan adalah yang Rp 1,1 miliar itu,” tegas Gilang.

Di sisi lain, dengan adanya kasus yang menimpa BUMDes Berjo, tidak mengganggu jumlah kunjungan wisatawan di objek wisata yang dikelola BUMDes tersebut.

”Justru malah terjadi peningkatan. Dulu yang awalnya hanya sekitar 10 sampai 15 ribu pengunjung tiap bulannya, dua bulan kemarin naik jadi 25 hingga 30 ribu pengunjung,” kata Direktur BUMDes Berjo Arif Suharno. (rud/adi/dam)

KARANGANYAR – Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar berencana meminta keterangan tiga bank yang diduga digunakan untuk menyimpan dan mencairkan pengelolaan dana Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berjo, Ngargoyoso. Hal itu untuk memperkuat bukti-bukti kasus dugaan korupsi di BUMDes Berjo.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karanganyar Mulyadi Sajaen melalui Kasi Pidsus Tubagus Gilang Hidayatullah mengungkapkan, sejauh ini pihaknya belum menentukan tersangka dalam kasus tersebut. Kejaksaan masih melakukan penyidikan tahap akhir.

Selain memeriksa kepala desa, mantan pengurus BUMDes yang lama serta pengurus dan bendahara BUMDes yang baru, Kejari juga bakal meminta keterangan tiga bank sekaligus. Bank tersebut milik pemerintah daerah maupun provinsi.

”Hasil pemeriksaan kemarin ada tiga bank yang digunakan untuk menyimpan dana tersebut. Nah kami mau tanyakan itu ke masing-masing bank terkait mekanisme pengambilan uangnya seperti apa. Wewenang untuk bisa mengambil uang itu siapa saja,” terang Gilang.

Ditanya apakah segera menyita barang bukti, Gilang mengaku belum bisa dilakukan. Lantaran belum menetapkan tersangka. Meski sudah mendapatkan laporan dari Inspektorat terkait kerugian sebesar Rp 1,1 miliar.

”Penyitaan barang bukti belum, karena itu nanti juga harus ada persetujuan dari pihak pengadilan negeri (PN) yang akan menyidangkan kasus,” singkatnya.

Sementara itu, disinggung terkait permintaan kejaksaan ke inspektorat untuk melakukan penyelidikan terhadap penggunaan anggaran Rp 700 juta di luar kerugian Rp 1,1 miliar, Gilang menjelaskan, inspektorat masih melakukan penyelidikan.

”Kami itukan minta ke inspektorat untuk menyelidiki atau menghitung anggaran yang Rp 700 juta itu. Kalaupun itu nanti tidak masuk dalam temuan, ya nanti tidak akan kami pakai sebagai temuan, yang kami gunakan adalah yang Rp 1,1 miliar itu,” tegas Gilang.

Di sisi lain, dengan adanya kasus yang menimpa BUMDes Berjo, tidak mengganggu jumlah kunjungan wisatawan di objek wisata yang dikelola BUMDes tersebut.

”Justru malah terjadi peningkatan. Dulu yang awalnya hanya sekitar 10 sampai 15 ribu pengunjung tiap bulannya, dua bulan kemarin naik jadi 25 hingga 30 ribu pengunjung,” kata Direktur BUMDes Berjo Arif Suharno. (rud/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/