alexametrics
27.1 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Pemkab Usulkan Tiga Tradisi di Karanganyar Jadi Warisan Budaya

KARANGANYAR Tradisi Wahyu Kliyu di Dusun Kendal, Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro sudah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak berbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kini, tiga tradisi lain akan diusulkan untuk mendapatkan status tersebut.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar kembali mengusulkan tiga tradisi kebudayaan masyarakat untuk jadi warisan budaya tahun ini. Yakni Dukutan di Kelurhan Nglurah, Kecamatan Tawangmangu; Mondosiyo di Desa Pancot, Kecamatan Tawangmangu; dan Batik Girilayu di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih.

Kasi Cagar Budaya Disdikbud Karanganyar Hastutiningdiyah Wijayatmi menyampaikan, dinas masih menunggu jadwal sidang penetapan tiga warisan budaya tak benda itu dari kementerian.

Mengingat masih dalam situasi pandemi Covid-19, kemungkinan sidang penetapan dengan menghadirkan tokoh maupun pengusul akan digelar secara daring seperti tahun sebelumnya.

”Mondosiyo dan Dukutan dilanjutkan ke tahap sidang penetapan. Tapi Batik Girilayu masih ada catatan. Diharapkan kekurangan disampaikan waktu sidang penetapan. Pengajuan kami lakukan pada akhir 2020 lalu,” katanya.

Dia menjelaskan, Batik Girilayu menjadi tradisi turun temurun yang masih dilestarikan masyarakat Desa Girilayu. Lokasinya dekat dengan makam penguasa Pura Mangkunegaran Surakarta baik Astana Girilayu maupun Astana Mangadeg. Sejarah mengenai Mangkunegaran menjadi catatan dari juri terkait Batik Girilayu. Sehingga nantinya diharapkan muatan mengenai batik itu sendiri lebih ditonjolkan saat sidang penetapan warisan budaya tak benda.

Hastuti sapaan akrab Hastutiningdiyah menambahkan, tiga warisan budaya tak benda itu diusulkan karena muatan tradisinya yang unik. Di sisi lain hingga saat ini masyarakat masih menggelar tradisi tersebut turun temurun, terutama Mondosiyo dan Dukutan.

”Sidang penetapan jurinya tingkat nasional. Yang sudah lolos tahap ini belum tentu ditetapkan (menjadi warisan budaya tak benda). Tapi rata-rata ditetapkan,” terangnya.

Kepala Disdikbud Kabupaten Karanganyar Tarsa mengaku dengan adanya hal tersebut maka nantinya pemerintah akan mensupport dan mendukung semua kegiatan. Tidak hanya menjadi agenda tahunan, tapi juga mendapatkan fasilitas dari pemerintah kabupaten melalui dinas terkait.

”Ya kami akan berikan fasilitasi untuk pengembangan kegiatan tersebut,” singkat Tarsa. (rud/adi/dam)

KARANGANYAR Tradisi Wahyu Kliyu di Dusun Kendal, Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro sudah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak berbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kini, tiga tradisi lain akan diusulkan untuk mendapatkan status tersebut.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar kembali mengusulkan tiga tradisi kebudayaan masyarakat untuk jadi warisan budaya tahun ini. Yakni Dukutan di Kelurhan Nglurah, Kecamatan Tawangmangu; Mondosiyo di Desa Pancot, Kecamatan Tawangmangu; dan Batik Girilayu di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih.

Kasi Cagar Budaya Disdikbud Karanganyar Hastutiningdiyah Wijayatmi menyampaikan, dinas masih menunggu jadwal sidang penetapan tiga warisan budaya tak benda itu dari kementerian.

Mengingat masih dalam situasi pandemi Covid-19, kemungkinan sidang penetapan dengan menghadirkan tokoh maupun pengusul akan digelar secara daring seperti tahun sebelumnya.

”Mondosiyo dan Dukutan dilanjutkan ke tahap sidang penetapan. Tapi Batik Girilayu masih ada catatan. Diharapkan kekurangan disampaikan waktu sidang penetapan. Pengajuan kami lakukan pada akhir 2020 lalu,” katanya.

Dia menjelaskan, Batik Girilayu menjadi tradisi turun temurun yang masih dilestarikan masyarakat Desa Girilayu. Lokasinya dekat dengan makam penguasa Pura Mangkunegaran Surakarta baik Astana Girilayu maupun Astana Mangadeg. Sejarah mengenai Mangkunegaran menjadi catatan dari juri terkait Batik Girilayu. Sehingga nantinya diharapkan muatan mengenai batik itu sendiri lebih ditonjolkan saat sidang penetapan warisan budaya tak benda.

Hastuti sapaan akrab Hastutiningdiyah menambahkan, tiga warisan budaya tak benda itu diusulkan karena muatan tradisinya yang unik. Di sisi lain hingga saat ini masyarakat masih menggelar tradisi tersebut turun temurun, terutama Mondosiyo dan Dukutan.

”Sidang penetapan jurinya tingkat nasional. Yang sudah lolos tahap ini belum tentu ditetapkan (menjadi warisan budaya tak benda). Tapi rata-rata ditetapkan,” terangnya.

Kepala Disdikbud Kabupaten Karanganyar Tarsa mengaku dengan adanya hal tersebut maka nantinya pemerintah akan mensupport dan mendukung semua kegiatan. Tidak hanya menjadi agenda tahunan, tapi juga mendapatkan fasilitas dari pemerintah kabupaten melalui dinas terkait.

”Ya kami akan berikan fasilitasi untuk pengembangan kegiatan tersebut,” singkat Tarsa. (rud/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru