23.8 C
Surakarta
Tuesday, 30 May 2023

Omzet Sebagian Pedagang Kemuning Melempem, Minta Loket Jembatan Kaca Dibongkar

RADARSOLO.ID-Sejumlah pedagang di kawasan wisata jembatan kaca Kemuning, Ngargoyoso meminta pengelola wisata membongkar loket penarikan tiket masuk. Lantaran omzet mereka menurun drastis sejak loket tersebut. Bahkan sejak diberlakukan tiket masuk kawasan Kemuning, banyak wisatawan putar balik.

”Januari kemarin mulai diberlakukan tiket masuk kawasan sebesar Rp 10.000 ribu itu plus parkir Rp 3.000. Banyak pedagang yang berjualan di kawasan jembatan kaca ini mengeluh, karena pemasukan mereka turun dari sebelumnya,” kata Sri Pardi salah seorang pedagang.

Senada diungkapkan Siti Sophi. Dia mengungkapkan, sejak kawasan Kemuning dikelola pihak ketiga, justru penghasilannya tidak sebaik sebelum adanya jembatan kaca.

”Kalau dulu itu seminggu kotor bisa Rp 400 ribu, tapi saat ini paling hanya Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu. Padahal akses jalan untuk menuju ke jembatan kaca itukan merupakan akses jalan warga, kenapa kok dipasang bangunan untuk penarikan karcis masuk kawasan,” kata Siti.

Dia mengaku sudah hampir 10 tahun berjualan di kawasan Kemuning. Jika pengembang menarik retribusi, diharapkan membangun aksesnya sendiri.

”Ya bayangkan saja mas, masuk ke kawasan saja sudah ditarik Rp 10 ribu per orang. Kemudian ditambah untuk biaya parkir Rp 3.000. Padahal rata-rata wisatawan itu kalau main ke sini (kawasan Kemuning, Red), paling minum kopi sambil melihat pemandangan. Lha sekarang masuk saja sudah bayar Rp 10.000 per orang,” ungkapnya. (rud/adi)






Reporter: Rudi Hartono

RADARSOLO.ID-Sejumlah pedagang di kawasan wisata jembatan kaca Kemuning, Ngargoyoso meminta pengelola wisata membongkar loket penarikan tiket masuk. Lantaran omzet mereka menurun drastis sejak loket tersebut. Bahkan sejak diberlakukan tiket masuk kawasan Kemuning, banyak wisatawan putar balik.

”Januari kemarin mulai diberlakukan tiket masuk kawasan sebesar Rp 10.000 ribu itu plus parkir Rp 3.000. Banyak pedagang yang berjualan di kawasan jembatan kaca ini mengeluh, karena pemasukan mereka turun dari sebelumnya,” kata Sri Pardi salah seorang pedagang.

Senada diungkapkan Siti Sophi. Dia mengungkapkan, sejak kawasan Kemuning dikelola pihak ketiga, justru penghasilannya tidak sebaik sebelum adanya jembatan kaca.

”Kalau dulu itu seminggu kotor bisa Rp 400 ribu, tapi saat ini paling hanya Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu. Padahal akses jalan untuk menuju ke jembatan kaca itukan merupakan akses jalan warga, kenapa kok dipasang bangunan untuk penarikan karcis masuk kawasan,” kata Siti.

Dia mengaku sudah hampir 10 tahun berjualan di kawasan Kemuning. Jika pengembang menarik retribusi, diharapkan membangun aksesnya sendiri.

”Ya bayangkan saja mas, masuk ke kawasan saja sudah ditarik Rp 10 ribu per orang. Kemudian ditambah untuk biaya parkir Rp 3.000. Padahal rata-rata wisatawan itu kalau main ke sini (kawasan Kemuning, Red), paling minum kopi sambil melihat pemandangan. Lha sekarang masuk saja sudah bayar Rp 10.000 per orang,” ungkapnya. (rud/adi)






Reporter: Rudi Hartono

Populer

Berita Terbaru

spot_img