alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

Sisihkan BLT dan Tunda Urus Sertifikat, Kakek Pemulung Bisa Berkurban

KARANGANYAR – Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Peribahasa tersebut tampak nyata jika melihat usaha dan jerih payah yang dilakukan Sunarto, 66, warga Bangsri, Karangpandan, Karanganyar, yang setiap hari bekerja sebagai pemulung. Tabungan yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit, akhirnya bisa untuk membeli hewan kurban. Keinginan untuk mengurus sertifikat tanah pun dia pupus dulu, demi bisa berkurban dan membantu sesama.

Ditemui di sela – sela kesibukannya mengumpulkan rosok, Selasa (20/7), Sunarto menceritakan, niatnya untuk ikut berkurban lantaran prihatin dengan kondisi saat ini, di mana banyak masyarakat yang membutuhkan. Awalnya, Mbah Nar–sapaan akrab Sunarto– yang setiap bulan mendapat bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah tersebut, menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Tujuan awalnya, tabungan itu akan digunakan untuk biaya balik nama tanah yang saat ini dia tempati.

Namun, lantaran melihat kondisi saat ini, di mana banyak warga yang sulit mencari uang di masa pandemi, Mbah Nar akhirnya memutuskan untuk berkurban. Dengan harapan agar bisa membantu sesama.

“Saya sudah punya tabungan Rp 6 juta. Uang hasil penjualan rosok dan bantuan dari pemerintah itu saya sisihkan. Rencananya memamg mau saya gunakan untuk biaya swalik nama (balik nama) sertifikat tanah. Tapi karena pandemi seperti ini dan banyak masyarakat yang susah mencari rejeki, saya berubah pikiran, dan saya ingin berkurban saja,” terang Mbah Nar.

Mbah Nar yang saat ini berstatus duda tersebut membeli kambing dari temannya yang berprofesi sebagai pedagang kambing seharga Rp 3 juta. Diakui Mbah Nar, sebelumnya dia sempat dilarang bekurban kambing karena melihat kondisi perekonomiannya yang masih sangat kurang. Tapi tekad Mbah Narto untuk berkurban tetap bulat.

“Ya nggak apa – apa, niat saya kan berbagi sesama. Toh nanti kalao ada rezeki lagi, bisa untuk biaya swalik sertifikat tanah ini,” ucap Mbah Narto yang mengaku sudah puluhan tahun berprofesi sebagai pemulung tersebut.

Sontak saja, aksi yang dilakukan oleh Mbah Nar di Hari Raya Idul Adha kali ini membuat warga Desa Bangsri terkejut. Mereka tak menduga jika Mbah Nar yang setiap harinya menjadi pemulung itu mampu menyisihkan sebagian hartanya untuk berkurban.

“Mbah Nar bawa sendiri kambingnya ke masjid untuk disembelih. Warga sebelumnya menduga kalau kambing yang dibawa Mbah Nar itu kemungkinan titipan dari warga atau siapa gitu. Tapi saat ditanya, Mbah Nar mengatakan kalau kambing itu ia beli sendiri dan memang berniat untuk kurban,” ucap Ikhsan Nur Isfiyanto, tetangga Mbah Nur. (rud/ria)

KARANGANYAR – Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Peribahasa tersebut tampak nyata jika melihat usaha dan jerih payah yang dilakukan Sunarto, 66, warga Bangsri, Karangpandan, Karanganyar, yang setiap hari bekerja sebagai pemulung. Tabungan yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit, akhirnya bisa untuk membeli hewan kurban. Keinginan untuk mengurus sertifikat tanah pun dia pupus dulu, demi bisa berkurban dan membantu sesama.

Ditemui di sela – sela kesibukannya mengumpulkan rosok, Selasa (20/7), Sunarto menceritakan, niatnya untuk ikut berkurban lantaran prihatin dengan kondisi saat ini, di mana banyak masyarakat yang membutuhkan. Awalnya, Mbah Nar–sapaan akrab Sunarto– yang setiap bulan mendapat bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah tersebut, menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Tujuan awalnya, tabungan itu akan digunakan untuk biaya balik nama tanah yang saat ini dia tempati.

Namun, lantaran melihat kondisi saat ini, di mana banyak warga yang sulit mencari uang di masa pandemi, Mbah Nar akhirnya memutuskan untuk berkurban. Dengan harapan agar bisa membantu sesama.

“Saya sudah punya tabungan Rp 6 juta. Uang hasil penjualan rosok dan bantuan dari pemerintah itu saya sisihkan. Rencananya memamg mau saya gunakan untuk biaya swalik nama (balik nama) sertifikat tanah. Tapi karena pandemi seperti ini dan banyak masyarakat yang susah mencari rejeki, saya berubah pikiran, dan saya ingin berkurban saja,” terang Mbah Nar.

Mbah Nar yang saat ini berstatus duda tersebut membeli kambing dari temannya yang berprofesi sebagai pedagang kambing seharga Rp 3 juta. Diakui Mbah Nar, sebelumnya dia sempat dilarang bekurban kambing karena melihat kondisi perekonomiannya yang masih sangat kurang. Tapi tekad Mbah Narto untuk berkurban tetap bulat.

“Ya nggak apa – apa, niat saya kan berbagi sesama. Toh nanti kalao ada rezeki lagi, bisa untuk biaya swalik sertifikat tanah ini,” ucap Mbah Narto yang mengaku sudah puluhan tahun berprofesi sebagai pemulung tersebut.

Sontak saja, aksi yang dilakukan oleh Mbah Nar di Hari Raya Idul Adha kali ini membuat warga Desa Bangsri terkejut. Mereka tak menduga jika Mbah Nar yang setiap harinya menjadi pemulung itu mampu menyisihkan sebagian hartanya untuk berkurban.

“Mbah Nar bawa sendiri kambingnya ke masjid untuk disembelih. Warga sebelumnya menduga kalau kambing yang dibawa Mbah Nar itu kemungkinan titipan dari warga atau siapa gitu. Tapi saat ditanya, Mbah Nar mengatakan kalau kambing itu ia beli sendiri dan memang berniat untuk kurban,” ucap Ikhsan Nur Isfiyanto, tetangga Mbah Nur. (rud/ria)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/