alexametrics
33.5 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Lapas Kelas IIB Klaten Manfaatkan Sampah Organik untuk Budi Daya Maggot

KLATEN – Di tangan para warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Klaten, sampah organik dimanfaatkan untuk budi daya maggot. Hasilnya, untuk pakan ternak yang mereka kembangkan di lapas tersebut.

Kepala Lapas Kelas IIB Klaten Ahmad Fauzi mengatakan, maggot yang dihasilkan juga untuk pakan ternak yang dikembangkan warga binaan. Seperti ikan lele, bebek, kalkun, dan ayam. Hal ini bentuk kemandirian sekaligus sarana edukasi.

”Kebutuhan sampah organik per hari sebenarnya 150 kilogram hingga 200 kilogram. Bahkan karena kurangnya sampah organik untuk bahan makanan ulat maggot, harus mendatangkan dari luar. Kami mengambil sampah organik yang dihasilkan oleh pasar tradisional di sekitar lapas,” jelas Ahmad Fauzi, Rabu (3/8).

Ahmad menjelaskan, sampah yang diambil dan dimanfaatkan di antaranya buah-buahan dan sayur-sayuran. Sampah yang sudah dipilah nantinya akan digiling menjadi bahan makanan untuk ulat maggot. Sementara kebutuhan maggot sebagai pakan ternak yang dikembangkan warga binaan mencapai 1 kuintal untuk tiga hari.

”Pelatihan budi daya maggot setelah pelatihan ternak lele dan bebek. Pesertanya 20 warga binaan setiap pelatihan,” ucap Ahmad.

Saat ini, jumlah warga binaan Lapas Kelas IIB Klaten mencapai 324 orang. Kedepannya, akan memberikan pelatihan secara berkesinambungan kepada warga binaan.

”Untuk sementara hasil dari budi daya maggot belum dipasarkan keluar lapas. Mengingat kebutuhan ulat maggot sebagai alternatif pakan ternak sangat banyak. Jadi untuk menghemat pembelian pakan juga,” tandasnya. (ren/adi/dam)

KLATEN – Di tangan para warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Klaten, sampah organik dimanfaatkan untuk budi daya maggot. Hasilnya, untuk pakan ternak yang mereka kembangkan di lapas tersebut.

Kepala Lapas Kelas IIB Klaten Ahmad Fauzi mengatakan, maggot yang dihasilkan juga untuk pakan ternak yang dikembangkan warga binaan. Seperti ikan lele, bebek, kalkun, dan ayam. Hal ini bentuk kemandirian sekaligus sarana edukasi.

”Kebutuhan sampah organik per hari sebenarnya 150 kilogram hingga 200 kilogram. Bahkan karena kurangnya sampah organik untuk bahan makanan ulat maggot, harus mendatangkan dari luar. Kami mengambil sampah organik yang dihasilkan oleh pasar tradisional di sekitar lapas,” jelas Ahmad Fauzi, Rabu (3/8).

Ahmad menjelaskan, sampah yang diambil dan dimanfaatkan di antaranya buah-buahan dan sayur-sayuran. Sampah yang sudah dipilah nantinya akan digiling menjadi bahan makanan untuk ulat maggot. Sementara kebutuhan maggot sebagai pakan ternak yang dikembangkan warga binaan mencapai 1 kuintal untuk tiga hari.

”Pelatihan budi daya maggot setelah pelatihan ternak lele dan bebek. Pesertanya 20 warga binaan setiap pelatihan,” ucap Ahmad.

Saat ini, jumlah warga binaan Lapas Kelas IIB Klaten mencapai 324 orang. Kedepannya, akan memberikan pelatihan secara berkesinambungan kepada warga binaan.

”Untuk sementara hasil dari budi daya maggot belum dipasarkan keluar lapas. Mengingat kebutuhan ulat maggot sebagai alternatif pakan ternak sangat banyak. Jadi untuk menghemat pembelian pakan juga,” tandasnya. (ren/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/