alexametrics
25.5 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Penampakan Dusun Ngentak di Klaten yang Jadi Kampung Mati, Ada Apa?

KLATEN – Sebuah dusun di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten berubah menjadi kampung mati. Para penghuninya mulai meninggalkan rumah mereka, dengan menyisakan puing-puing material bangunan yang berserakan.

Kampung mati di Desa Kranggan itu berada di Dusun Ngentak. Para penghuni sebelumnya adalah warga terdampak proyek tol Solo-Jogja yang sudah meninggalkan kampung halamannya.

Memang, setelah warga terdampak tol Solo-Jogja menerima uang ganti rugi (UGR), mereka lalu berinisiatif melakukan pembongkaran rumah secara mandiri. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan dusun itu untuk mencari tempat tinggal lain. Kondisi tersebut membuat kampung menjadi sepi ditinggalkan para penghuninya.

Saat ini, para miliarder baru di Dusun Ngentak itu sudah mulai menempati kediaman barunya. Ada yang masih dalam satu wilayah desa maupun kecamatan. Namun, ada pula yang memilih pindah ke luar kota, mengikuti saudara lainnya.

Jawa Pos Radar Solo sempat menyusuri Dusun Ngentak yang ada di Desa Kranggan tersebut. Total ada sekitar 22 rumah yang telah dibongkar oleh warga terdampak tol. Kini tinggal sekitar tiga orang saja yang masih bertahan di kampung yang hendak dilintasi proyek strategis nasional (PSN) tersebut.

Sisa-sisa bangunan yang telah diruntuhkan warga di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten. (ANGGA P/RADAR SOLO)

“Sudah satu bulan ini warga yang terdampak jalan tol mulai meninggalkan rumahnya. Mereka mulai menempati rumah barunya yang ada di desa tetangga. Tidak jadi satu, mereka pada menyebar,” ucap salah satu warga yang masih bertahan di Kampung Ngentak, Rukminto, 70, kemarin.

Lebih lanjut Rukminto,mengungkapkan, sebelumnya kampung itu cukup ramai dengan warga yang hidup berdampingan. Tetapi sudah satu bulan ini suasananya jauh berbeda, tak ada lagi ingar bingar dan aktivitas warga. Mereka yang terdampak tol sudah memulai kehidupan baru di lokasi berbeda.

Saat ini, Rukminto masih memilih tinggal di rumahnya seorang diri karena merasa berat untuk pergi. Apalagi seluruh kehidupannya dihabiskan di rumahnya yang sebentar lagi menjadi jalan bebas hambatan tersebut. Dia akan meninggalkan rumahnya itu jika ada perintah untuk mengosongkan.

“Kalau barang-barang di dalam rumah sebenarnya sudah dipindahkan. Hanya menyisakan kasur dan bantal saja. Tetapi kalau sewaktu-waktu diminta pindah, saya siap untuk pindah,” pungkasnya. (ren/ria)

KLATEN – Sebuah dusun di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten berubah menjadi kampung mati. Para penghuninya mulai meninggalkan rumah mereka, dengan menyisakan puing-puing material bangunan yang berserakan.

Kampung mati di Desa Kranggan itu berada di Dusun Ngentak. Para penghuni sebelumnya adalah warga terdampak proyek tol Solo-Jogja yang sudah meninggalkan kampung halamannya.

Memang, setelah warga terdampak tol Solo-Jogja menerima uang ganti rugi (UGR), mereka lalu berinisiatif melakukan pembongkaran rumah secara mandiri. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan dusun itu untuk mencari tempat tinggal lain. Kondisi tersebut membuat kampung menjadi sepi ditinggalkan para penghuninya.

Saat ini, para miliarder baru di Dusun Ngentak itu sudah mulai menempati kediaman barunya. Ada yang masih dalam satu wilayah desa maupun kecamatan. Namun, ada pula yang memilih pindah ke luar kota, mengikuti saudara lainnya.

Jawa Pos Radar Solo sempat menyusuri Dusun Ngentak yang ada di Desa Kranggan tersebut. Total ada sekitar 22 rumah yang telah dibongkar oleh warga terdampak tol. Kini tinggal sekitar tiga orang saja yang masih bertahan di kampung yang hendak dilintasi proyek strategis nasional (PSN) tersebut.

Sisa-sisa bangunan yang telah diruntuhkan warga di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten. (ANGGA P/RADAR SOLO)

“Sudah satu bulan ini warga yang terdampak jalan tol mulai meninggalkan rumahnya. Mereka mulai menempati rumah barunya yang ada di desa tetangga. Tidak jadi satu, mereka pada menyebar,” ucap salah satu warga yang masih bertahan di Kampung Ngentak, Rukminto, 70, kemarin.

Lebih lanjut Rukminto,mengungkapkan, sebelumnya kampung itu cukup ramai dengan warga yang hidup berdampingan. Tetapi sudah satu bulan ini suasananya jauh berbeda, tak ada lagi ingar bingar dan aktivitas warga. Mereka yang terdampak tol sudah memulai kehidupan baru di lokasi berbeda.

Saat ini, Rukminto masih memilih tinggal di rumahnya seorang diri karena merasa berat untuk pergi. Apalagi seluruh kehidupannya dihabiskan di rumahnya yang sebentar lagi menjadi jalan bebas hambatan tersebut. Dia akan meninggalkan rumahnya itu jika ada perintah untuk mengosongkan.

“Kalau barang-barang di dalam rumah sebenarnya sudah dipindahkan. Hanya menyisakan kasur dan bantal saja. Tetapi kalau sewaktu-waktu diminta pindah, saya siap untuk pindah,” pungkasnya. (ren/ria)

Populer

Berita Terbaru