alexametrics
26.3 C
Surakarta
Thursday, 9 December 2021

Rekonstruksi Pembunuhan di Desa Granting, Polisi Tak Temukan Fakta Baru

KLATEN Polres Klaten menggelar rekonstruksi pembunuhan di Desa Granting, Kecamatan Jogonalan pada akhir Oktober lalu, kemarin (25/11). Ada 18 reka adegan yang diperagakan tersangka Soleman, 65 dalam menghabisi nyawa Trimo Luweng yang tak lain rekannya sendiri.

”Melalui rekonstruksi ini bisa tergambarkan kejadian yang sebenarnya. Mengingat kalau di berita acara pemeriksaan (BAP) hanya singkat saja,” kata Kapolres Klaten AKBP Eko Prasetyo melalui KBO Satreskrim Polres Klaten, Iptu Eko Pujiyanto.

Eko menjelaskan, melalui rekonstruksi juga untuk melengkapi bukti. Terlebih lagi bisa menjadi dasar jaksa penuntut umum (JPU) dalam menentukan tuntutan kepada tersangka. Atas rekonstruksi itu seluruh adegan masih sesuai dengan BAP seperti yang diungkapkan para saksi dan pelaku.

”Kalau untuk rekonstruksi masih sesuai dengan keterangan. Tidak ada yang baru. Dari hasil konstruksi ini nantinya akan memberikan masukan dan membuat terang benderang untuk tindak pidana tersebut,” jelasnya.

Kepala Seksi (Kasi) Pidana Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Klaten, Adi Nugraha menjelaskan, dalam rekonstruksi yang dilakukan tidak ditemukan fakta baru. Meski begitu, dari 18 reka adegan yang menjadi poin terkait kedatangan korban yakni Trimo Luweng yang memang datang sudah dalam kondisi mabuk.

”Jadi korban ini datang ke rumah tersangka setelah meminum minuman keras. Kemudian keduanya melakukan perbincangan hingga terjadi percecokan dan perkelahian. Sebelum akhirnya pelaku mengambil parang di atas lemari dan disabetkan ke leher korban sebanyak tiga kali,” ucapnya.

Adi mengungkapkan, dengan adanya rekonstruksi tersebut semakin menguatkan jika pelaku telah melakukan pembunuhan. Ada pun yang disangkakan kepada pelaku yakni Pasal 338 KUHP dan Pasal 351 KUHP ayat 3 terkait penganiayaan yang menyebabkan kematian. (ren/adi/dam)

KLATEN Polres Klaten menggelar rekonstruksi pembunuhan di Desa Granting, Kecamatan Jogonalan pada akhir Oktober lalu, kemarin (25/11). Ada 18 reka adegan yang diperagakan tersangka Soleman, 65 dalam menghabisi nyawa Trimo Luweng yang tak lain rekannya sendiri.

”Melalui rekonstruksi ini bisa tergambarkan kejadian yang sebenarnya. Mengingat kalau di berita acara pemeriksaan (BAP) hanya singkat saja,” kata Kapolres Klaten AKBP Eko Prasetyo melalui KBO Satreskrim Polres Klaten, Iptu Eko Pujiyanto.

Eko menjelaskan, melalui rekonstruksi juga untuk melengkapi bukti. Terlebih lagi bisa menjadi dasar jaksa penuntut umum (JPU) dalam menentukan tuntutan kepada tersangka. Atas rekonstruksi itu seluruh adegan masih sesuai dengan BAP seperti yang diungkapkan para saksi dan pelaku.

”Kalau untuk rekonstruksi masih sesuai dengan keterangan. Tidak ada yang baru. Dari hasil konstruksi ini nantinya akan memberikan masukan dan membuat terang benderang untuk tindak pidana tersebut,” jelasnya.

Kepala Seksi (Kasi) Pidana Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Klaten, Adi Nugraha menjelaskan, dalam rekonstruksi yang dilakukan tidak ditemukan fakta baru. Meski begitu, dari 18 reka adegan yang menjadi poin terkait kedatangan korban yakni Trimo Luweng yang memang datang sudah dalam kondisi mabuk.

”Jadi korban ini datang ke rumah tersangka setelah meminum minuman keras. Kemudian keduanya melakukan perbincangan hingga terjadi percecokan dan perkelahian. Sebelum akhirnya pelaku mengambil parang di atas lemari dan disabetkan ke leher korban sebanyak tiga kali,” ucapnya.

Adi mengungkapkan, dengan adanya rekonstruksi tersebut semakin menguatkan jika pelaku telah melakukan pembunuhan. Ada pun yang disangkakan kepada pelaku yakni Pasal 338 KUHP dan Pasal 351 KUHP ayat 3 terkait penganiayaan yang menyebabkan kematian. (ren/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru