alexametrics
27.1 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Polres Klaten Kembali Ungkap Pembuat Tembakau Gorila

KLATEN Satuan Narkoba Polres Klaten kembali berhasil mengungkap home industri tembakau gorila, setelah sebelumnya di Kecamatan Karangnongko pada Agustus lalu. Kali ini jajaran kepolisian berhasil mengungkap pada sebuah ruko di Desa Jebugan, Kecamatan Klaten Utara. Total ada empat tersangka yang berhasil ditangkap pada awal September lalu itu.

Ada pun para tersangka yang berhasil ditangkap adalah Krisna Yudha Aditama, 23, dan Deva Ahmad Fathoni, 23 warga Desa Manjung, Kecamatan Ngawen. Lalu Munawir Rohmadi, 26, warga Desa Jagalan, Kecamatan Karangnong yang selama ini membantu memproduksi. Kemudian Jodhi Hermawan, 21, asal Karanganyar sebagai pengguna.

”Jadi tersangka Krisna ini yang memproduksi dan mengedarkan tembakau gorila. Ada pun barang bukti berupa tembakau gorila yang berhasil kita amankan sekitar 1,5 Kg. Untuk harganya sendiri untuk 1 Kg bisa mencapai Rp 60 juta,” jelas Kasatnarkoba Polres Klaten, AKP Mulyanto, kemarin (27/9).

Mulyanto menambahkan, seluruh bahan untuk memproduksi tembakau gorila tersebut dipasok dari Jakarta. Termasuk bahan campuran lainnya seperti obat dan alkahol 80 persen juga didatangkan dari ibu kota. Mengingat di Klaten sendiri tidak tersedia bahan tersebut.

Setiap kali tembakau gorila diproduksi langsung dikemas dalam bentuk lintingan menyerupai rokok. Setiap linting dijual dengan harga Rp 150.000 yang ditawarkan secara online melalui media sosial. Antara penjual dan pembeli tidak saling mengenal, sehingga merupakan jaringan terputus.

”Kalau sudah dikemas dalam bentuk lintingan sudah ada pembelinya dari luar kota. Terutama daerah eks Karesidenan Surakarta dan Jogjakarta. Mereka mengaku sudah enam bulan memproduksi dan mengedarkan tembakau gorila melalu media sosial,” ucapnya.

Sementara itu, satu seorang tersangka Jodhi Hermawan tidak sekadar pengguna. Tetapi juga membeli sehingga juga menjadi target penangkapan pihak kepolisian. Mengingat tersangka hendak mengedarkan lagi ke daerah lainnya.

”Tersangka bisa meracik karena belajar secara online. Dalam memproduksi ini tersangka juga merasakan hasil produksi tembakau gorila. Kalau dirasa sudah pas rasanya langsung dikemas. Untuk efeknya sendiri yang menggunakannya bisa kecanduan,” ucapnya.

Sementara itu, Krisna mengaku untuk memproduksi tembakau gorila seberat Rp 1 Kg membutuhkan modal sekitar Rp 26 juta. Sedangkan dia menjual tembakau gorila 1 Kg sekitar Rp 40 juta sehingga untung hingga Rp 14 juta per Kg.

”Jadi semua bahan di masukan dalam gelas takar kaca kemudian diberikan bahan kimia. Kemudian dioplos dengan alkohol ditunggu sampai larut kemudian dimasukan dalam wadah semprotan. Lalu disiapkan tembakau lalu disemprotkan dengan bahan tadi, semuanya saya belajar dari media sosial,” ucap Krisna.

Krisna mengaku tidak tahu siapa saja pembeli produksi tembakau gorilanya. Meski begitu, dalam enam bulan itu pernah memproduksi hingga 2 Kg tembakau gorila tetapi tetap terjual habis. Seluruh keuntungan yang didapatnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena dirinya hanya sebagai pengangguran.

Atas perbuatannya memproduksi tembakau gorila itu, Krisna dan tersangka lainnya  disangkakan dengan Pasal 113 ayat (2) Sub Pasal 114 ayat (2) Sub Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 (1) Undang –undang (UU) RI No.35 Tahun 2009 tentang narkoba dengan ancaman pidana paling singkat lima tahun, pidana seumur hidup hingga pidana mati. Sedangkan denda paling sedikit Rp 1.000.000.000 dan paling banyak Rp 10.000.000.000. (ren/adi/dam)

KLATEN Satuan Narkoba Polres Klaten kembali berhasil mengungkap home industri tembakau gorila, setelah sebelumnya di Kecamatan Karangnongko pada Agustus lalu. Kali ini jajaran kepolisian berhasil mengungkap pada sebuah ruko di Desa Jebugan, Kecamatan Klaten Utara. Total ada empat tersangka yang berhasil ditangkap pada awal September lalu itu.

Ada pun para tersangka yang berhasil ditangkap adalah Krisna Yudha Aditama, 23, dan Deva Ahmad Fathoni, 23 warga Desa Manjung, Kecamatan Ngawen. Lalu Munawir Rohmadi, 26, warga Desa Jagalan, Kecamatan Karangnong yang selama ini membantu memproduksi. Kemudian Jodhi Hermawan, 21, asal Karanganyar sebagai pengguna.

”Jadi tersangka Krisna ini yang memproduksi dan mengedarkan tembakau gorila. Ada pun barang bukti berupa tembakau gorila yang berhasil kita amankan sekitar 1,5 Kg. Untuk harganya sendiri untuk 1 Kg bisa mencapai Rp 60 juta,” jelas Kasatnarkoba Polres Klaten, AKP Mulyanto, kemarin (27/9).

Mulyanto menambahkan, seluruh bahan untuk memproduksi tembakau gorila tersebut dipasok dari Jakarta. Termasuk bahan campuran lainnya seperti obat dan alkahol 80 persen juga didatangkan dari ibu kota. Mengingat di Klaten sendiri tidak tersedia bahan tersebut.

Setiap kali tembakau gorila diproduksi langsung dikemas dalam bentuk lintingan menyerupai rokok. Setiap linting dijual dengan harga Rp 150.000 yang ditawarkan secara online melalui media sosial. Antara penjual dan pembeli tidak saling mengenal, sehingga merupakan jaringan terputus.

”Kalau sudah dikemas dalam bentuk lintingan sudah ada pembelinya dari luar kota. Terutama daerah eks Karesidenan Surakarta dan Jogjakarta. Mereka mengaku sudah enam bulan memproduksi dan mengedarkan tembakau gorila melalu media sosial,” ucapnya.

Sementara itu, satu seorang tersangka Jodhi Hermawan tidak sekadar pengguna. Tetapi juga membeli sehingga juga menjadi target penangkapan pihak kepolisian. Mengingat tersangka hendak mengedarkan lagi ke daerah lainnya.

”Tersangka bisa meracik karena belajar secara online. Dalam memproduksi ini tersangka juga merasakan hasil produksi tembakau gorila. Kalau dirasa sudah pas rasanya langsung dikemas. Untuk efeknya sendiri yang menggunakannya bisa kecanduan,” ucapnya.

Sementara itu, Krisna mengaku untuk memproduksi tembakau gorila seberat Rp 1 Kg membutuhkan modal sekitar Rp 26 juta. Sedangkan dia menjual tembakau gorila 1 Kg sekitar Rp 40 juta sehingga untung hingga Rp 14 juta per Kg.

”Jadi semua bahan di masukan dalam gelas takar kaca kemudian diberikan bahan kimia. Kemudian dioplos dengan alkohol ditunggu sampai larut kemudian dimasukan dalam wadah semprotan. Lalu disiapkan tembakau lalu disemprotkan dengan bahan tadi, semuanya saya belajar dari media sosial,” ucap Krisna.

Krisna mengaku tidak tahu siapa saja pembeli produksi tembakau gorilanya. Meski begitu, dalam enam bulan itu pernah memproduksi hingga 2 Kg tembakau gorila tetapi tetap terjual habis. Seluruh keuntungan yang didapatnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena dirinya hanya sebagai pengangguran.

Atas perbuatannya memproduksi tembakau gorila itu, Krisna dan tersangka lainnya  disangkakan dengan Pasal 113 ayat (2) Sub Pasal 114 ayat (2) Sub Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 (1) Undang –undang (UU) RI No.35 Tahun 2009 tentang narkoba dengan ancaman pidana paling singkat lima tahun, pidana seumur hidup hingga pidana mati. Sedangkan denda paling sedikit Rp 1.000.000.000 dan paling banyak Rp 10.000.000.000. (ren/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru