alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Pelaku Perusakan Makam TPU Cemoro Kembar Bakal di SP3

SOLO Satreskrim Polresta Surakarta menetapkan tujuh tersangka pelaku perusakan makam di kompleks pemakaman TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon. Penetapan tersangka ini setelah penyidik melakukan gelar perkara.

Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak mengatakan, para tersangka adalah anak-anak murid kuttab yang melakukan perusakan, sedangan para pengasuh yang sebelumnya sempat dilakukan pemeriksaan hanya sebagai saksi.

Sesuai amanat Undang-Undang Sistem Peradilan Anak, mereka yang belum berumur 18 tahun akan dilakukan langkah-langkah diversi. Penanganannya melibatkan Satreskrim Polresta Surakarta, pekerja sosial, dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kota Surakarta.

Ade menjelaskan, Bapas melakukan penelitian dari kasus ini dan memutuskan mengembalikan anak-anak usia di bawah 12 tahun tersebut kepada orang dua.

“Keputusan tiga pilar (satreskrim, pekerja sosial, dan Bapas) maupun kesepakatan diversi, nantinya kami ajukan ke Pengadilan Negeri (PN) Surakarta untuk mendapatkan penetapan dan menjadi dasar kepolisian melakukan SP3 (surat penghentian penyidikan perkara),” tuturnya.

Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Surakarta Hidayat Maskur memastikan kuttab tempat belajar anak sudah pindah. Tidak terpantau adanya aktivitas. Meski demikian, Kemenag tetap menginvestigasi persoalan itu untuk mencari faktor-faktor penyebab perusakan makam. Termasuk pertimbangan memilih kuttab bukan sekolah di bawah naungan dinas pendidikan maupun Kemenag.

“Kami berkoordinasi dengan polisi, karena (keluarga anak) tidak hanya Solo. Bentuk assessment masih disusun tim,” kata Hidayat.

Ditambahkannya, assessment itu juga mencari solusi jika para keluarga terpaksa menyekolahkan anaknya di kuttab karena kekurangan biaya.

Lebih lanjut diterangkan Hidayat, tercatat ada empat kuttab yang telah teridentifikasi. Salah satunya kuttab Mojo. “Kuttab Mojo dipastikan tidak memiliki izin dari Kemenag. Berdiri sendiri, tidak di bawah naungan ponpes lain,” tuturnya. (atn/wa/dam)


SOLO Satreskrim Polresta Surakarta menetapkan tujuh tersangka pelaku perusakan makam di kompleks pemakaman TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon. Penetapan tersangka ini setelah penyidik melakukan gelar perkara.

Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak mengatakan, para tersangka adalah anak-anak murid kuttab yang melakukan perusakan, sedangan para pengasuh yang sebelumnya sempat dilakukan pemeriksaan hanya sebagai saksi.

Sesuai amanat Undang-Undang Sistem Peradilan Anak, mereka yang belum berumur 18 tahun akan dilakukan langkah-langkah diversi. Penanganannya melibatkan Satreskrim Polresta Surakarta, pekerja sosial, dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kota Surakarta.

Ade menjelaskan, Bapas melakukan penelitian dari kasus ini dan memutuskan mengembalikan anak-anak usia di bawah 12 tahun tersebut kepada orang dua.

“Keputusan tiga pilar (satreskrim, pekerja sosial, dan Bapas) maupun kesepakatan diversi, nantinya kami ajukan ke Pengadilan Negeri (PN) Surakarta untuk mendapatkan penetapan dan menjadi dasar kepolisian melakukan SP3 (surat penghentian penyidikan perkara),” tuturnya.

Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Surakarta Hidayat Maskur memastikan kuttab tempat belajar anak sudah pindah. Tidak terpantau adanya aktivitas. Meski demikian, Kemenag tetap menginvestigasi persoalan itu untuk mencari faktor-faktor penyebab perusakan makam. Termasuk pertimbangan memilih kuttab bukan sekolah di bawah naungan dinas pendidikan maupun Kemenag.

“Kami berkoordinasi dengan polisi, karena (keluarga anak) tidak hanya Solo. Bentuk assessment masih disusun tim,” kata Hidayat.

Ditambahkannya, assessment itu juga mencari solusi jika para keluarga terpaksa menyekolahkan anaknya di kuttab karena kekurangan biaya.

Lebih lanjut diterangkan Hidayat, tercatat ada empat kuttab yang telah teridentifikasi. Salah satunya kuttab Mojo. “Kuttab Mojo dipastikan tidak memiliki izin dari Kemenag. Berdiri sendiri, tidak di bawah naungan ponpes lain,” tuturnya. (atn/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru