alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Radikalisme Sasar Generasi Milenial

SOLO – Kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan dan upaya penyerangan di Mabes Polri beberapa waktu lalu memunculkan beberapa fakta baru. Salah satu yang menjadi sorotan adalah dua peristiwa itu melibatkan generasi milenial. Sebut saja ZA, 25, pelaku penyerangan Mabes Polri dan L pelaku bom yang berusia 26 tahun.

Kondisi itu menjadi catatan tersendiri dari berbagai pihak, termasuk mantan narapidana terorisme (napiter) Joko Suroso atau yang akrab disapa Joko Padang. Dia menilai diperlukan peran banyak pihak untuk bisa mencegahnya.

Menurutnya, idealisme kaum milenial cukup tinggi. Jadi akan memperjuangkan sesuatu hingga bisa tercapai. Termasuk jika sampai masuk dalam sebuah paham terorisme.

“Apalagi jika dikaitkan dengan sentimen agama, maka sangat muda sekali untuk dimasuki,” ungkap Joko dalam diskusi dengan tema Membendung Radikalisme di Kalangan Anak Muda tersebut.

Dia memaparkan, orang tua wajib memperhatikan berbagai aktivitas anak mulai pergaulan, sekolah, hingga tempat ibadah. Mengingat, lanjut dia, semua anak bisa menjadi sasaran. “Semua anak bisa jadi sasaran. Tidak harus itu orang Muhammadiyah maupun NU. Siapa saja bisa direkrut,” tegasnya.

“Jika ada semangat dan momentum yang tepat, misalnya isu ketidakadilan dan penindasan, maka semakin mudah untuk masuk,” tambah sosok yang pernah masuk jaringan teroris Noordin M. Top dan Dr Azhari tersebut.

Lalu bagaimana cara membendungnya? Joko tak memungkiri butuh waktu lama dan tidak bisa secara instan. Orang tua harus bisa mengarahkan anak untuk memilih komunitas pergaulan. “Seperti anaknya menghadiri diskusi, kok mengarahnya semakin keras dan orang tua tidak didengarkan. Nah itu ada indikasi. Ini harus diperhatikan,” paparnya.

Direktur Amir Machmud Center (AMC) Dr Amir Machmud juga tak menampik jika radikalisme sudah masuk semua kalangan. Mulai ASN, pelajar, mahasiswa, anak, hingga beberapa instansi.

“Paham radikalisme ini masuk ke beberapa level kalangan. Jangan sampai kita biarkan, karena radikalisme tidak akan hilang, mengingat ini adalah ideologi,” ujar Amir.

Sementara itu, Dirintelkam Polda Jateng Kombes Pol Jati Wiyoto Abadi mewakili Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Luthfi mengapresiasi kegiatan silaturahmi tersebut. Menurutnya, diperlukan sinergitas antarpihak dan stakeholder untuk membendung radikalisme dan terorisme di Tanah Air.

“Tugas polri tidak hanya penegaskan hukum saja, namun juga membangun sinergitas untuk membendung terorisme. Butuh dukungan semua pihak. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini setidaknya kita bisa berbuat ke negara untuk memerangi radikalisme dan terorisme,” ujar Jati. (atn/nik)


SOLO – Kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan dan upaya penyerangan di Mabes Polri beberapa waktu lalu memunculkan beberapa fakta baru. Salah satu yang menjadi sorotan adalah dua peristiwa itu melibatkan generasi milenial. Sebut saja ZA, 25, pelaku penyerangan Mabes Polri dan L pelaku bom yang berusia 26 tahun.

Kondisi itu menjadi catatan tersendiri dari berbagai pihak, termasuk mantan narapidana terorisme (napiter) Joko Suroso atau yang akrab disapa Joko Padang. Dia menilai diperlukan peran banyak pihak untuk bisa mencegahnya.

Menurutnya, idealisme kaum milenial cukup tinggi. Jadi akan memperjuangkan sesuatu hingga bisa tercapai. Termasuk jika sampai masuk dalam sebuah paham terorisme.

“Apalagi jika dikaitkan dengan sentimen agama, maka sangat muda sekali untuk dimasuki,” ungkap Joko dalam diskusi dengan tema Membendung Radikalisme di Kalangan Anak Muda tersebut.

Dia memaparkan, orang tua wajib memperhatikan berbagai aktivitas anak mulai pergaulan, sekolah, hingga tempat ibadah. Mengingat, lanjut dia, semua anak bisa menjadi sasaran. “Semua anak bisa jadi sasaran. Tidak harus itu orang Muhammadiyah maupun NU. Siapa saja bisa direkrut,” tegasnya.

“Jika ada semangat dan momentum yang tepat, misalnya isu ketidakadilan dan penindasan, maka semakin mudah untuk masuk,” tambah sosok yang pernah masuk jaringan teroris Noordin M. Top dan Dr Azhari tersebut.

Lalu bagaimana cara membendungnya? Joko tak memungkiri butuh waktu lama dan tidak bisa secara instan. Orang tua harus bisa mengarahkan anak untuk memilih komunitas pergaulan. “Seperti anaknya menghadiri diskusi, kok mengarahnya semakin keras dan orang tua tidak didengarkan. Nah itu ada indikasi. Ini harus diperhatikan,” paparnya.

Direktur Amir Machmud Center (AMC) Dr Amir Machmud juga tak menampik jika radikalisme sudah masuk semua kalangan. Mulai ASN, pelajar, mahasiswa, anak, hingga beberapa instansi.

“Paham radikalisme ini masuk ke beberapa level kalangan. Jangan sampai kita biarkan, karena radikalisme tidak akan hilang, mengingat ini adalah ideologi,” ujar Amir.

Sementara itu, Dirintelkam Polda Jateng Kombes Pol Jati Wiyoto Abadi mewakili Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Luthfi mengapresiasi kegiatan silaturahmi tersebut. Menurutnya, diperlukan sinergitas antarpihak dan stakeholder untuk membendung radikalisme dan terorisme di Tanah Air.

“Tugas polri tidak hanya penegaskan hukum saja, namun juga membangun sinergitas untuk membendung terorisme. Butuh dukungan semua pihak. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini setidaknya kita bisa berbuat ke negara untuk memerangi radikalisme dan terorisme,” ujar Jati. (atn/nik)

Populer

Berita Terbaru