alexametrics
23.3 C
Surakarta
Thursday, 18 August 2022

Desain TSTJ Jurug Berubah, Gibran Klaim Lebih Mewah

SOLO – Penutupan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) kembali molor. Lagi-lagi dengan alasan jumlah pengunjung masih tinggi sehingga takut kehilangan pendapatan. Namun, pemkot mengklaim proyek revitalisasi ini tetap jalan. Bahkan akan lebih mewah dibanding desain sebelumnya.

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka memastikan bahwa rencana revitalisasi TSTJ atau Solo Zoo tetap sesuai jadwal. Dalam waktu dekat akan dilakukan ceremonial ground breaking.

“Nanti sebelum 17 Agustus kawan-kawan media saya ajak untuk ground breaking TSTJ. Nanti saya perlihatkan grand design-nya. Agak berubah dari yang saya perlihatkan dulu, lebih mewah,” kata dia, Kamis (4/8).

Gibran mengungkapkan, adanya perubahan sejumlah hal terkait revitalisasi yang melibatkan pihak investor itu. Sebelumnya, Gibran sempat memaparkan konsep penataan TSTJ yang nanti akan dibuat meyerupai Taman Safari Indonesia. Dalam paparan itu pengelolaan satwa akan lebih baik. Tidak ditempatkan di kandang seperti saat ini. Konsepnya akan dibuat nyaman seperti di alam liar.

Selain urusan konservasi, wajah TSTJ yang baru juga akan dilengkapi dengan wahana hiburan dan permainan.

“Ada perubahan desain, yang pasti lebih mewah. Nanti masalah tiket (harga tiket baru), kebutuhan tambahan pegawai, dan lain-lain akan dibahas waktu ground breaking. Tidak bisa saya bocorkan sekarang,” beber dia.

Selain perubahan desain, rencana penutupan TSTJ juga telah mundur beberapa kali. Awalnya kunjungan wisata akan distop pada Juli, namun belakangan diundur ke Agustus karena alasan kunjungan wisata masih ramai. Dengan alasan yang sama, penutupan objek wisata itu kembali diundur hingga September.

“Eman-eman kalau ditutup sekarang, karena uang dari tiket banyak. Masih ramai pengunjungnya. Akhir September baru tutup. Ini tetap buka dulu tapi bukan berarti pekerjaan berhenti. Tetap jalan secara pararel. Ini mengerjakan perbaikan danau. Desember kami upayakan selesai,” tegas Gibran.

Terpisah, Dirut TSTJ Bimo Wahyu Widodo membenarkan, target revitalisasi tahap pertama masih sama seperti sebelumnya. Target selesai Desember 2022. Sejak Juli lalu, penataan danau dan pulau di TSTJ telah dilakukan sebagai salah satu tahapan penataan dalam revitalisasi ini.

“Targetnya masih sama karena yang diutamakan penataan danau dan pulaunya,” jelas dia.

Disinggung soal mundurnya penutupan kunjungan wisata, Bimo membenarkan bahwa hal itu dilakukan karena kunjungan wisata masih tinggi. Pada hari biasa minimal ada 200 wisatawan, namun jumlah kunjungan paling tinggi tetap terjadi di akhir pekan.

“Wisata masih tinggi. Kalau Sabtu minimal ada 2.000 pengunjung, Minggu 3.500 pengunjung. Soal revitalisasi dananya dari mana dan menyentuh area mana saja, nanti biar dijawab saat peletakan batu pertama oleh wali kota,” tutur Bimo. (ves/bun/dam)

SOLO – Penutupan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) kembali molor. Lagi-lagi dengan alasan jumlah pengunjung masih tinggi sehingga takut kehilangan pendapatan. Namun, pemkot mengklaim proyek revitalisasi ini tetap jalan. Bahkan akan lebih mewah dibanding desain sebelumnya.

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka memastikan bahwa rencana revitalisasi TSTJ atau Solo Zoo tetap sesuai jadwal. Dalam waktu dekat akan dilakukan ceremonial ground breaking.

“Nanti sebelum 17 Agustus kawan-kawan media saya ajak untuk ground breaking TSTJ. Nanti saya perlihatkan grand design-nya. Agak berubah dari yang saya perlihatkan dulu, lebih mewah,” kata dia, Kamis (4/8).

Gibran mengungkapkan, adanya perubahan sejumlah hal terkait revitalisasi yang melibatkan pihak investor itu. Sebelumnya, Gibran sempat memaparkan konsep penataan TSTJ yang nanti akan dibuat meyerupai Taman Safari Indonesia. Dalam paparan itu pengelolaan satwa akan lebih baik. Tidak ditempatkan di kandang seperti saat ini. Konsepnya akan dibuat nyaman seperti di alam liar.

Selain urusan konservasi, wajah TSTJ yang baru juga akan dilengkapi dengan wahana hiburan dan permainan.

“Ada perubahan desain, yang pasti lebih mewah. Nanti masalah tiket (harga tiket baru), kebutuhan tambahan pegawai, dan lain-lain akan dibahas waktu ground breaking. Tidak bisa saya bocorkan sekarang,” beber dia.

Selain perubahan desain, rencana penutupan TSTJ juga telah mundur beberapa kali. Awalnya kunjungan wisata akan distop pada Juli, namun belakangan diundur ke Agustus karena alasan kunjungan wisata masih ramai. Dengan alasan yang sama, penutupan objek wisata itu kembali diundur hingga September.

“Eman-eman kalau ditutup sekarang, karena uang dari tiket banyak. Masih ramai pengunjungnya. Akhir September baru tutup. Ini tetap buka dulu tapi bukan berarti pekerjaan berhenti. Tetap jalan secara pararel. Ini mengerjakan perbaikan danau. Desember kami upayakan selesai,” tegas Gibran.

Terpisah, Dirut TSTJ Bimo Wahyu Widodo membenarkan, target revitalisasi tahap pertama masih sama seperti sebelumnya. Target selesai Desember 2022. Sejak Juli lalu, penataan danau dan pulau di TSTJ telah dilakukan sebagai salah satu tahapan penataan dalam revitalisasi ini.

“Targetnya masih sama karena yang diutamakan penataan danau dan pulaunya,” jelas dia.

Disinggung soal mundurnya penutupan kunjungan wisata, Bimo membenarkan bahwa hal itu dilakukan karena kunjungan wisata masih tinggi. Pada hari biasa minimal ada 200 wisatawan, namun jumlah kunjungan paling tinggi tetap terjadi di akhir pekan.

“Wisata masih tinggi. Kalau Sabtu minimal ada 2.000 pengunjung, Minggu 3.500 pengunjung. Soal revitalisasi dananya dari mana dan menyentuh area mana saja, nanti biar dijawab saat peletakan batu pertama oleh wali kota,” tutur Bimo. (ves/bun/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/