alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

Miris, Rokok Intai Anak Usia 10-18 Tahun

SOLO – Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM) Ahmad Taufan Damanik waswas, tingginya angka perokok pemula dalam kurun setahun terakhir. Ironisnya, mayoritas di usia 10-18 tahun. Tak heran Komnas HAM mendorong agar pemerintah melarang segala bentuk iklan, promosi, hingga sponsor dari perusahaan rokok di berbagai event.

“Perokok pemula kategori usia 10-18  tahun, menjadi target utama industri rokok. Maka perlu ada tindakan tegas bagi para pelaku yang menyebabkan terpapar bahaya asap rokok,” katanya dalam webinar, Kamis (4/8).

Ahmad menambahkan, terdapat korelasi signifikan antara status anak yang merokok, dengan paparan iklan, sampel gratis, termasuk sponsor rokok di event olahraga, musik, dan sebagainya.

“Kami mendorong segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok dilarang secara tegas. Karena memengaruhi anak-anak kita. Serta mendesak pemerintah untuk menegakkan hukum, terkait peraturan kawasan bebas asap rokok,” imbuhnya.

Ahmad mengaku, larangan merokok di tempat-tempat umum, secara tidak langsung melindungi anak dari paparan asap rokok. Termasuk di dalam transportasi publik. Karena masih sering dijumpai, banyak orang yang merokok di sana.

“Mirisnya lagi, masih ditemui guru-guru yang di sekolah merokok pas jam istirahat. Apalagi di dalam kampus. Padahal kampus berisi orang-orang akademisi yang berilmu tinggi. Maka perlu adanya pembatasan yang lebih tegas dari pemerintah,” bebernya. (ian/fer/dam)

SOLO – Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM) Ahmad Taufan Damanik waswas, tingginya angka perokok pemula dalam kurun setahun terakhir. Ironisnya, mayoritas di usia 10-18 tahun. Tak heran Komnas HAM mendorong agar pemerintah melarang segala bentuk iklan, promosi, hingga sponsor dari perusahaan rokok di berbagai event.

“Perokok pemula kategori usia 10-18  tahun, menjadi target utama industri rokok. Maka perlu ada tindakan tegas bagi para pelaku yang menyebabkan terpapar bahaya asap rokok,” katanya dalam webinar, Kamis (4/8).

Ahmad menambahkan, terdapat korelasi signifikan antara status anak yang merokok, dengan paparan iklan, sampel gratis, termasuk sponsor rokok di event olahraga, musik, dan sebagainya.

“Kami mendorong segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok dilarang secara tegas. Karena memengaruhi anak-anak kita. Serta mendesak pemerintah untuk menegakkan hukum, terkait peraturan kawasan bebas asap rokok,” imbuhnya.

Ahmad mengaku, larangan merokok di tempat-tempat umum, secara tidak langsung melindungi anak dari paparan asap rokok. Termasuk di dalam transportasi publik. Karena masih sering dijumpai, banyak orang yang merokok di sana.

“Mirisnya lagi, masih ditemui guru-guru yang di sekolah merokok pas jam istirahat. Apalagi di dalam kampus. Padahal kampus berisi orang-orang akademisi yang berilmu tinggi. Maka perlu adanya pembatasan yang lebih tegas dari pemerintah,” bebernya. (ian/fer/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/