alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

PLP Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak UNS: Yang Urus Jeroan Stop Pegang Daging

SOLO – Tata cara penyembelihan dan penanganan daging maupun jeroan hewan kurban di masa mewabahnya penyakit mulut dan kuku (PMK), butuh perhatian ekstra. Salah satunya membagi personel secara khusus.

Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Program Studi (Prodi) Peternakan Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Sulistyo menuturkan, ada beberapa cara agar penyembelihan dan penanganan daging hewan kurban tetap aman.

Pertama, harus menyiapkan dandang-dandang besar saat penyembelihan. Hal ini akan memudahkan panitia jika ternyata hewan kurban yang disembelih mengidap PMK,” ungkap Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Program Studi (Prodi) Peternakan Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Sulistyo, kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (5/7).

Berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), hewan ternak yang terpapar PMK dalam taraf ringan, masih sah untuk kurban. Namun, pembagian hewan kurbannya dilakukan dengan cara khusus.

Sesuai edaran Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), bagian-bagian hewan ternak yang terkena PMK ringan harus direbus minimal 30 menit atau hingga matang sebelum dibagikan. Bagian-bagian tersebut yakni kepala, kaki, dan jeroan.

“Dandang-dandang besar tadi, fungsinya untuk melalukan perebusan daging hewan kurban yang terkena PMK ringan. Bagian-bagian yang terkena (virus) antara lain kepala, kaki, dan jeroan direbus sehingga aman dari virus PMK,” bebernya.

Kedua, panitia kurban diimbau mempersiapkan lubang khusus untuk membersihkan jeroan hewan kurban. Lubang tersebut khusus menampung air yang telah digunakan membersihkan jeroan.

Jika jeroan sudah bersih dan air cucian tertampung di lubang tersebut, panitia kurban diminta menambahkan asam sitrat atau deterjen sebelum menutup lubang. Tujuannya, agar air cucian tidak mencemari lingkungan.

“Biasanya ada panitia kurban yang membersihkan jeroan ke sungai. Ini kan kita tidak tahu kalau ternyata ada hewan terpapar PMK. Jadi tidak baik membersihkan jeroan di sungai,” sambung Sulistyo.

Selain itu, panitia kurban harus membedakan plastik daging, jeroan merah di antaranya hati dan jeroan hijau atau babat. Pembedaan wadah ini seharusnya juga dilakukan di luar mewabahnya PMK.

“Sebab jeroan merah dan jeroan hijau memiliki mikrobia yang sangat banyak. Sementara itu, mikrobia yang ada di daging sedikit. Jika jeroan dan daging digabung dalam satu plastik, mikrobia-mikrobia yang ada di jeroan berpindah dengan cepat ke daging. Jadi setidaknya ada tiga kantung plastik dalam satu paket daging kurban,” paparnya.

Terakhir, Sulistyo mengimbau panitia kurban membagi personelnya secara khusus. Di antaranya, yang mengurus jeroan tidak turut menangani bagian daging. Ini guna mengantipasi penularan PMK.

“Personel panitia kurban sebaiknya dipisah-pisahkan begitu. Personel yang mengurus bagian jeroan, cukup di situ terus, jadi jangan memegang di daging. Jeroan ya jeroan, tidak perlu pindah ke daging dan sebagainya. Jadi lebih aman,” pungkasnya. (aya/wa/dam)

SOLO – Tata cara penyembelihan dan penanganan daging maupun jeroan hewan kurban di masa mewabahnya penyakit mulut dan kuku (PMK), butuh perhatian ekstra. Salah satunya membagi personel secara khusus.

Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Program Studi (Prodi) Peternakan Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Sulistyo menuturkan, ada beberapa cara agar penyembelihan dan penanganan daging hewan kurban tetap aman.

Pertama, harus menyiapkan dandang-dandang besar saat penyembelihan. Hal ini akan memudahkan panitia jika ternyata hewan kurban yang disembelih mengidap PMK,” ungkap Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Program Studi (Prodi) Peternakan Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Sulistyo, kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (5/7).

Berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), hewan ternak yang terpapar PMK dalam taraf ringan, masih sah untuk kurban. Namun, pembagian hewan kurbannya dilakukan dengan cara khusus.

Sesuai edaran Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), bagian-bagian hewan ternak yang terkena PMK ringan harus direbus minimal 30 menit atau hingga matang sebelum dibagikan. Bagian-bagian tersebut yakni kepala, kaki, dan jeroan.

“Dandang-dandang besar tadi, fungsinya untuk melalukan perebusan daging hewan kurban yang terkena PMK ringan. Bagian-bagian yang terkena (virus) antara lain kepala, kaki, dan jeroan direbus sehingga aman dari virus PMK,” bebernya.

Kedua, panitia kurban diimbau mempersiapkan lubang khusus untuk membersihkan jeroan hewan kurban. Lubang tersebut khusus menampung air yang telah digunakan membersihkan jeroan.

Jika jeroan sudah bersih dan air cucian tertampung di lubang tersebut, panitia kurban diminta menambahkan asam sitrat atau deterjen sebelum menutup lubang. Tujuannya, agar air cucian tidak mencemari lingkungan.

“Biasanya ada panitia kurban yang membersihkan jeroan ke sungai. Ini kan kita tidak tahu kalau ternyata ada hewan terpapar PMK. Jadi tidak baik membersihkan jeroan di sungai,” sambung Sulistyo.

Selain itu, panitia kurban harus membedakan plastik daging, jeroan merah di antaranya hati dan jeroan hijau atau babat. Pembedaan wadah ini seharusnya juga dilakukan di luar mewabahnya PMK.

“Sebab jeroan merah dan jeroan hijau memiliki mikrobia yang sangat banyak. Sementara itu, mikrobia yang ada di daging sedikit. Jika jeroan dan daging digabung dalam satu plastik, mikrobia-mikrobia yang ada di jeroan berpindah dengan cepat ke daging. Jadi setidaknya ada tiga kantung plastik dalam satu paket daging kurban,” paparnya.

Terakhir, Sulistyo mengimbau panitia kurban membagi personelnya secara khusus. Di antaranya, yang mengurus jeroan tidak turut menangani bagian daging. Ini guna mengantipasi penularan PMK.

“Personel panitia kurban sebaiknya dipisah-pisahkan begitu. Personel yang mengurus bagian jeroan, cukup di situ terus, jadi jangan memegang di daging. Jeroan ya jeroan, tidak perlu pindah ke daging dan sebagainya. Jadi lebih aman,” pungkasnya. (aya/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/