alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

BPJS Kesehatan Bukukan Aset Neto Rp 38 Triliun

SOLO – BPJS Kesehatan mencatatkan kinerja positif sepanjang 2021. Terlihat dari kondisi dana jaminan sosial (DJS) 2021 yang telah dinyatakan positif. Terbukti dengan aset neto yang dimiliki hingga 2021 sebesar Rp 38,7 triliun. Posisi aset neto ini masuk dalam kategori sehat dan mampu memenuhi 5,15 bulan estimasi pembayaran klaim ke depan.

“Dengan capaian tersebut, BPJS Kesehatan juga senantiasa berupaya menciptakan inovasi, khususnya dari sisi finansial dan ekosistem digitalisasi, sehingga dapat mempercepat peningkatan mutu layanan,” ungkap Direktur Utama BPJS Kesehatan Ghufron Mukti dalam press conference virtual, Selasa (5/7).

Pada 2022, BPJS Kesehatan masih memiliki berbagai tantangan yang harus diperbaiki. Khususnya akses, mutu, efisiensi, ekuitas, dan sustainabilitas finansial.

Harapannya pemerintah, seluruh pemangku kepentingan, dan seluruh masyarakat bisa terus bersinergi dan berkolaborasi. Untuk menjawab tantangan dan bersama-sama menjaga penyelenggaraan program JKN berkualitas.

“Kami juga sukses mempertahankan predikat Wajar Tanpa Modifikasi (WTM) untuk laporan keuangan 2021 dari akuntan publik. Capaian ini merupakan predikat WTM ke-8 secara berturut-turut yang diraih sejak BPJS Kesehatan beroperasi pada 2014,” sambungnya.

Selain capaian WTM, sepanjang 2021, ada beberapa capaian yang berhasil diraih BPJS Kesehatan dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan.  Diwujudkan dalam beberapa indikator. Dari aspek kepesertaan, per Januari 2022, jumlah kepesertaan Program JKN mencapai 235,7 juta jiwa. Atau sekitar 86 persen dari total penduduk Indonesia.

Seiring dengan jumlah pertumbuhan kepesertaan JKN, BPJS Kesehatan juga memperluas akses layanan di fasilitas kesehatan. “Hingga akhir Desember 2021, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 23.608 fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan 2.810 fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (rumah sakit),” imbuh Ghufron.

Di masa pandemi, BPJS Kesehatan telah melakukan transformasi layanan dengan menghadirkan pelayanan secara digital dan pemanfaatan teknologi revolusi industri 4.0 yang bisa diakses peserta kapan saja dan di mana saja. Di antaranya Antrean Online, dan layanan telekonsultasi hingga Pelayanan Administrasi melalui WhatsApp (Pandawa).

“Sampai dengan akhir 2021, jumlah pemanfaatan pelayanan melalui Pandawa mencapai 4,3 juta pemanfaatan. Terdiri dari layanan administrasi kepesertaan dan informasi layanan. Selain itu, sistem antrean online yang terkoneksi dengan Mobile JKN sudah mencapai 21.066 FKTP dan 1.433 RS,” ungkap dia.

Program JKN juga semakin dirasakan kehadirannya oleh masyarakat yang sedang sakit dan membutuhkan pelayanan kesehatan. Hingga 31 Desember 2021, jumlah pemanfaatan pelayanan kesehatan terhadap kunjungan sakit dan kunjungan sehat sebanyak 392,9 juta kunjungan. Atau sebanyak 1,1 juta per hari, serta pemanfaatan skrining kesehatan selama 2021 sebanyak 2,2 juta skrining.

Potensi rebound dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan semakin terlihat pascapandemi. Berdasarkan aspek collecting iuran, BPJS Kesehatan mencatat total penerimaan iuran hingga 31 Desember 2021 sebesar Rp 143,3 triliun. Lebih besar dari target. Penerimaan iuran tiap tahunnya cenderung meningkat. Tercatat total penerimaan iuran 2020 sebesar Rp 139,8 triliun. (aya/wa/dam)

SOLO – BPJS Kesehatan mencatatkan kinerja positif sepanjang 2021. Terlihat dari kondisi dana jaminan sosial (DJS) 2021 yang telah dinyatakan positif. Terbukti dengan aset neto yang dimiliki hingga 2021 sebesar Rp 38,7 triliun. Posisi aset neto ini masuk dalam kategori sehat dan mampu memenuhi 5,15 bulan estimasi pembayaran klaim ke depan.

“Dengan capaian tersebut, BPJS Kesehatan juga senantiasa berupaya menciptakan inovasi, khususnya dari sisi finansial dan ekosistem digitalisasi, sehingga dapat mempercepat peningkatan mutu layanan,” ungkap Direktur Utama BPJS Kesehatan Ghufron Mukti dalam press conference virtual, Selasa (5/7).

Pada 2022, BPJS Kesehatan masih memiliki berbagai tantangan yang harus diperbaiki. Khususnya akses, mutu, efisiensi, ekuitas, dan sustainabilitas finansial.

Harapannya pemerintah, seluruh pemangku kepentingan, dan seluruh masyarakat bisa terus bersinergi dan berkolaborasi. Untuk menjawab tantangan dan bersama-sama menjaga penyelenggaraan program JKN berkualitas.

“Kami juga sukses mempertahankan predikat Wajar Tanpa Modifikasi (WTM) untuk laporan keuangan 2021 dari akuntan publik. Capaian ini merupakan predikat WTM ke-8 secara berturut-turut yang diraih sejak BPJS Kesehatan beroperasi pada 2014,” sambungnya.

Selain capaian WTM, sepanjang 2021, ada beberapa capaian yang berhasil diraih BPJS Kesehatan dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan.  Diwujudkan dalam beberapa indikator. Dari aspek kepesertaan, per Januari 2022, jumlah kepesertaan Program JKN mencapai 235,7 juta jiwa. Atau sekitar 86 persen dari total penduduk Indonesia.

Seiring dengan jumlah pertumbuhan kepesertaan JKN, BPJS Kesehatan juga memperluas akses layanan di fasilitas kesehatan. “Hingga akhir Desember 2021, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 23.608 fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan 2.810 fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (rumah sakit),” imbuh Ghufron.

Di masa pandemi, BPJS Kesehatan telah melakukan transformasi layanan dengan menghadirkan pelayanan secara digital dan pemanfaatan teknologi revolusi industri 4.0 yang bisa diakses peserta kapan saja dan di mana saja. Di antaranya Antrean Online, dan layanan telekonsultasi hingga Pelayanan Administrasi melalui WhatsApp (Pandawa).

“Sampai dengan akhir 2021, jumlah pemanfaatan pelayanan melalui Pandawa mencapai 4,3 juta pemanfaatan. Terdiri dari layanan administrasi kepesertaan dan informasi layanan. Selain itu, sistem antrean online yang terkoneksi dengan Mobile JKN sudah mencapai 21.066 FKTP dan 1.433 RS,” ungkap dia.

Program JKN juga semakin dirasakan kehadirannya oleh masyarakat yang sedang sakit dan membutuhkan pelayanan kesehatan. Hingga 31 Desember 2021, jumlah pemanfaatan pelayanan kesehatan terhadap kunjungan sakit dan kunjungan sehat sebanyak 392,9 juta kunjungan. Atau sebanyak 1,1 juta per hari, serta pemanfaatan skrining kesehatan selama 2021 sebanyak 2,2 juta skrining.

Potensi rebound dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan semakin terlihat pascapandemi. Berdasarkan aspek collecting iuran, BPJS Kesehatan mencatat total penerimaan iuran hingga 31 Desember 2021 sebesar Rp 143,3 triliun. Lebih besar dari target. Penerimaan iuran tiap tahunnya cenderung meningkat. Tercatat total penerimaan iuran 2020 sebesar Rp 139,8 triliun. (aya/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/