alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Soal Sterilisasi PKL Car Free Day di Citywalk, Dewan Minta Kaji Ulang

SOLO – Komisi II DPRD Surakarta menyoroti rencana pemkot melarang pedagang car free day (CFD) berjualan di citywalk dan memindahkan ke halaman Loji Gandrung serta perkantoran di kawasan Sriwedari. Selain pertimbangan tempat juga kebersihan. Karena itu dewan minta ini dikaji ulang

Ketua Komisi II DPRD Kota Surakarta Honda Hendarto menilai, zonasi pedagang kali lima (PKL) yang akan masuk di halaman perkantoran milik pemkot perlu dikaji ulang.

“Lha apa muat itu menampung pedagang dari Purwosari sampai Gladak?,” ujar Honda kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (12/5).

Honda juga mempertanyakan terkait kebersihan lokasi tersebut. Mengingat aktivitas perniagaan ini bisa meninbulkan sampah. Belum lagi risiko lain yang mungkin saja muncul yaitu rusaknya aset atau sarana prasarana. Hingga perlu ada kajian lebih lanjut terkait hal itu.

“Dari sisi kebersihan halaman kantor nanti siapa yang bertanggung jawab? Kedua, kan masyarakat tidak hanya dari Solo saja, kalau ada aset yang rusak, siapa yang akan bertanggung jawab,” urai dia.

Politisi senior PDIP ini mengatakan, akan lebih baik bila para PKL tetap menggelar dagangannya di citywalk sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Sebab, untuk olahraga biasanya ketika CFD digelar masyarakat akan menggunakan ruas jalan.

“Trotoar fungsinya memang untuk pejalan kaki, tapi kalau digunakan untuk CFD kan yang jalan raya ditutup jadi bisa untuk jalan kaki. Kan ada imbal baliknya,” ungkapnya.

Meski begitu, pihaknya tetap setuju dengan mulai digelar CFD setelah sempat ditutup selama 2 tahun sejak terjadinya pandemi Covid-19. Dengan kembalinya digelar kembali CFD, bisa mendorong percepatan ekonomi masyarakat, terutama UMKM yang menggantungkan hidupnya lewat gelaran CFD.

“Agus membuka kembali ruang publik untuk berkativitas, berolahraga, mungkin juga pemulihan ekonomi bagi UMKM yang biasanya berjualan di CFD,” ujar dia.

Tapi Honda berpesan agar gelaran CFD di Jalan Slamet Riyadi tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) sesuai imbauan pemerintah pusat. “Kasus boleh melandai, tapi tetap harus waspada,” tegasnya.

Di sisi lain, Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka berjanji akan mencarikan lokasi bagi pedagang yang biasa berjualan di CFD.

“Kalau nanti nggak cukup saya minta support dari pengusaha swasta dan BUMN untuk mau meminjamkan spacenya. Misal parkiran Toserba Luwes, atau Novotel itu juga bisa,” ujarnya.

Tapi dia menegaskan wacana ini belum final karena masih akan dibahas. “Ini belum klir lho ya, masih akan dirapatkan dulu soal zonasinya. Kami tetap upayakan semua pedagang tertampung semua. Paguyuban kami fasilitasi, tenang saja,” ujar Gibran. (atn/bun/dam)

SOLO – Komisi II DPRD Surakarta menyoroti rencana pemkot melarang pedagang car free day (CFD) berjualan di citywalk dan memindahkan ke halaman Loji Gandrung serta perkantoran di kawasan Sriwedari. Selain pertimbangan tempat juga kebersihan. Karena itu dewan minta ini dikaji ulang

Ketua Komisi II DPRD Kota Surakarta Honda Hendarto menilai, zonasi pedagang kali lima (PKL) yang akan masuk di halaman perkantoran milik pemkot perlu dikaji ulang.

“Lha apa muat itu menampung pedagang dari Purwosari sampai Gladak?,” ujar Honda kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (12/5).

Honda juga mempertanyakan terkait kebersihan lokasi tersebut. Mengingat aktivitas perniagaan ini bisa meninbulkan sampah. Belum lagi risiko lain yang mungkin saja muncul yaitu rusaknya aset atau sarana prasarana. Hingga perlu ada kajian lebih lanjut terkait hal itu.

“Dari sisi kebersihan halaman kantor nanti siapa yang bertanggung jawab? Kedua, kan masyarakat tidak hanya dari Solo saja, kalau ada aset yang rusak, siapa yang akan bertanggung jawab,” urai dia.

Politisi senior PDIP ini mengatakan, akan lebih baik bila para PKL tetap menggelar dagangannya di citywalk sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Sebab, untuk olahraga biasanya ketika CFD digelar masyarakat akan menggunakan ruas jalan.

“Trotoar fungsinya memang untuk pejalan kaki, tapi kalau digunakan untuk CFD kan yang jalan raya ditutup jadi bisa untuk jalan kaki. Kan ada imbal baliknya,” ungkapnya.

Meski begitu, pihaknya tetap setuju dengan mulai digelar CFD setelah sempat ditutup selama 2 tahun sejak terjadinya pandemi Covid-19. Dengan kembalinya digelar kembali CFD, bisa mendorong percepatan ekonomi masyarakat, terutama UMKM yang menggantungkan hidupnya lewat gelaran CFD.

“Agus membuka kembali ruang publik untuk berkativitas, berolahraga, mungkin juga pemulihan ekonomi bagi UMKM yang biasanya berjualan di CFD,” ujar dia.

Tapi Honda berpesan agar gelaran CFD di Jalan Slamet Riyadi tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) sesuai imbauan pemerintah pusat. “Kasus boleh melandai, tapi tetap harus waspada,” tegasnya.

Di sisi lain, Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka berjanji akan mencarikan lokasi bagi pedagang yang biasa berjualan di CFD.

“Kalau nanti nggak cukup saya minta support dari pengusaha swasta dan BUMN untuk mau meminjamkan spacenya. Misal parkiran Toserba Luwes, atau Novotel itu juga bisa,” ujarnya.

Tapi dia menegaskan wacana ini belum final karena masih akan dibahas. “Ini belum klir lho ya, masih akan dirapatkan dulu soal zonasinya. Kami tetap upayakan semua pedagang tertampung semua. Paguyuban kami fasilitasi, tenang saja,” ujar Gibran. (atn/bun/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/