alexametrics
23.3 C
Surakarta
Thursday, 18 August 2022

Menuju Kesiapan Tuan Rumah ASEAN Para Games

Terapkan Sistem Bubble untuk Setiap Cabor, Aktivitas Atlet Dibatasi

SOLO – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mulai menurunkan tim untuk melihat sejumlah persiapan terkait tenaga kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan (puskesmas dan rumah sakit) jelang ASEAN Para Games di Kota Solo. Ini penting dilakukan mengingat pelayanan kesehatan, kebersihan lingkungan, hingga keamanan makanan perlu disiapkan dalam ajang oleh raga internasional itu.

Direktur Kesehatan Usia Produktif dan Lanjut Usia Kemenkes Kartini Rustandi mengungkapkan, koordinasi yang dilakukan ini sebagai langkah awal dalam menyiapkan segala kebutuhan dari aspek kesehatan ASEAN Para Games. Dalam penyelenggaraan event olahraga itu, petugas kesehatan selalu standby di setiap lokasi penyelenggaraan cabang olahraga yang diperlombakan.

“Setiap venue pasti ada petugas yang diterjunkan bersama sejumlah sarana dan prasarana penunjangnya. Selain itu, puskesmas dan rumah sakit di eks Karesidenan Surakarta dan Semarang kami cek juga kesiapannya,” kata dia usai koordinasi di Balai Kota Surakarta, Selasa (21/6).

Disinggung soal berapa fasilitas layanan (fayankes) yang akan ditunjuk, Kartini masih belum memutuskan karena harus dicek kesiapannya terlebih dahulu. Meski demikian, Kemenkes memastikan bahwa tenaga medis yang khusus menangani cedera, syaraf, dan lainnya yang dibutuhkan sesuai standar penanganan event olahraga harus ada.

“Yang pasti kami timbang kemampuan rumah sakit, sarpras penunjangnya, hingga aksesbilitas dari venue ke fayankes. Di luar itu penanganan untuk atlet pasti sudah disesuaikan dengan standar pelaksanaan kegiatan. Sementara penonton tetap harus sudah vaksin, prokes, pakai masker, ukur suhu tubuh, PeduliLindungi,  dan lainnya. Karena itu kami koordinasi juga dengan dinas kesehatan dan NPC (National Paralympic Commitee) setempat,” papar Kartini.

Selain menyiapkan nakes dan fayankes penunjang ASEAN Para Games, pihaknya juga bakal meninjau tiap venue dan hotel yang digunakan atlet untuk menginap selama event berlangsung. Ini penting dilakukan karena pelaksanaannya nanti akan menggunakan sistem bubble (gelembung) untuk setiap cabor.

“Otomatis semua hal yang berkaitan seperti venue, lokasi penginapan, dan lainnya nanti akan disesuaikan lagi dengan arahan Kementerian Dalam Negeri dam BNPB terkait penanganan pandemi,” beber dia.

Ketua Panitia Penyelenggara ASEAN Para Games 2022 Gibran Rakabuming Raka mengatakan sistem bubble bertujuan untuk membagi sejumlah orang (pelaku perjalanan) dalam kelompok berbeda untuk memisahkan dengan orang-orang berisiko dalam ranah pencegahan Covid-19. Khusus ASEAN ara Games kali ini para atlet akan digabungkan jadi satu dalam satu hotel sesuai cabor yang diperlombakan.

“Satu cabang olahraga satu hotel, beda dengan dulu yang satu negara satu hotel. Ini lebih gampang pengelolaannya (antisipasi Covid-19),” kata dia.

Soal keterlibatan penonton dalam penyelenggaraan event itu, Gibran memastikan bahwa aturan pastinya akan menunggu dari pemerintah pusat dengan menimbang fenomena pandemi yang terbaru.

“Pembatasan penonton tergantung kasus di Juli nanti. Sementara ini kapasitas 50 persen untuk opening dan closing ceremony. Makanya kami bikin bubble ini untuk antisipasi. Kan atlet ini tidak kemana-mana. Mereka datang, masuk hotel, pelatihan, dan seterusnya,” tutur Gibran. (ves/bun/dam)

SOLO – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mulai menurunkan tim untuk melihat sejumlah persiapan terkait tenaga kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan (puskesmas dan rumah sakit) jelang ASEAN Para Games di Kota Solo. Ini penting dilakukan mengingat pelayanan kesehatan, kebersihan lingkungan, hingga keamanan makanan perlu disiapkan dalam ajang oleh raga internasional itu.

Direktur Kesehatan Usia Produktif dan Lanjut Usia Kemenkes Kartini Rustandi mengungkapkan, koordinasi yang dilakukan ini sebagai langkah awal dalam menyiapkan segala kebutuhan dari aspek kesehatan ASEAN Para Games. Dalam penyelenggaraan event olahraga itu, petugas kesehatan selalu standby di setiap lokasi penyelenggaraan cabang olahraga yang diperlombakan.

“Setiap venue pasti ada petugas yang diterjunkan bersama sejumlah sarana dan prasarana penunjangnya. Selain itu, puskesmas dan rumah sakit di eks Karesidenan Surakarta dan Semarang kami cek juga kesiapannya,” kata dia usai koordinasi di Balai Kota Surakarta, Selasa (21/6).

Disinggung soal berapa fasilitas layanan (fayankes) yang akan ditunjuk, Kartini masih belum memutuskan karena harus dicek kesiapannya terlebih dahulu. Meski demikian, Kemenkes memastikan bahwa tenaga medis yang khusus menangani cedera, syaraf, dan lainnya yang dibutuhkan sesuai standar penanganan event olahraga harus ada.

“Yang pasti kami timbang kemampuan rumah sakit, sarpras penunjangnya, hingga aksesbilitas dari venue ke fayankes. Di luar itu penanganan untuk atlet pasti sudah disesuaikan dengan standar pelaksanaan kegiatan. Sementara penonton tetap harus sudah vaksin, prokes, pakai masker, ukur suhu tubuh, PeduliLindungi,  dan lainnya. Karena itu kami koordinasi juga dengan dinas kesehatan dan NPC (National Paralympic Commitee) setempat,” papar Kartini.

Selain menyiapkan nakes dan fayankes penunjang ASEAN Para Games, pihaknya juga bakal meninjau tiap venue dan hotel yang digunakan atlet untuk menginap selama event berlangsung. Ini penting dilakukan karena pelaksanaannya nanti akan menggunakan sistem bubble (gelembung) untuk setiap cabor.

“Otomatis semua hal yang berkaitan seperti venue, lokasi penginapan, dan lainnya nanti akan disesuaikan lagi dengan arahan Kementerian Dalam Negeri dam BNPB terkait penanganan pandemi,” beber dia.

Ketua Panitia Penyelenggara ASEAN Para Games 2022 Gibran Rakabuming Raka mengatakan sistem bubble bertujuan untuk membagi sejumlah orang (pelaku perjalanan) dalam kelompok berbeda untuk memisahkan dengan orang-orang berisiko dalam ranah pencegahan Covid-19. Khusus ASEAN ara Games kali ini para atlet akan digabungkan jadi satu dalam satu hotel sesuai cabor yang diperlombakan.

“Satu cabang olahraga satu hotel, beda dengan dulu yang satu negara satu hotel. Ini lebih gampang pengelolaannya (antisipasi Covid-19),” kata dia.

Soal keterlibatan penonton dalam penyelenggaraan event itu, Gibran memastikan bahwa aturan pastinya akan menunggu dari pemerintah pusat dengan menimbang fenomena pandemi yang terbaru.

“Pembatasan penonton tergantung kasus di Juli nanti. Sementara ini kapasitas 50 persen untuk opening dan closing ceremony. Makanya kami bikin bubble ini untuk antisipasi. Kan atlet ini tidak kemana-mana. Mereka datang, masuk hotel, pelatihan, dan seterusnya,” tutur Gibran. (ves/bun/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/