alexametrics
21.2 C
Surakarta
Wednesday, 28 July 2021

Produksi Garmen Rutan Kelas IA Surakarta Terganjal PPKM Darurat

SOLO Warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IA Surakarta menyelesaikan pelatihan menjahit di Jogjakarta. Namun, untuk proses produksi masal produk garmen terpaksa tertunda hingga pemberlakukan PPKM darurat selesai.

Kasi Pelayanan Rumah Tahanan (Rutan) Klas IA Surakarta David Sapto Aji mengatakan, pelatihan menjahit warga binaan menggandeng Balai Dilkat Industri Jogjakarta. “Mereka mengikuti pelatihan selama 18 hari. Sudah dilakukan ujian juga, tinggal menunggu sertifikatnya terbit,” jelasnya, kemarin.

Pihak Rutan Solo mengaku telah bekerja sama dengan salah satu perusahaan garmen asal Makassar yang akan membantu quality control, hingga pendistribusian produk. “Sebenarya sudah ada pesanan 1,000 tas jinjing. Tapi karena PPKM darurat, produksi kami hentikan dulu,” ujar David.

Meski begitu, bukan berarti warga binaan berdiam diri. Mereka diminta terus mengasah kemampuan di bidang jahit memanfaatkan peralatan yang telah tersedia. Dengan adanya program ini, diharapkan warga binaan dapat  meningkatkan taraf hidup dan mampu mandiri setelah bebas.

Produksi garmen di Rutan Solo mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Jateng A. Yuspahrudin. “Ketika lokasi usaha di luar sana mulai berguguran, kita bisa bangkit. Meskipun kita di dalam (rutan), harus tetap produktif. Di sini ada 500 orang tenaga potensial,” katanya.

Banyak manfaat yang diperoleh warga binaan dari produksi garmen. Selain secara ekonomi, mereka memiliki skill dan dilengkapi sertifikat. “Mau nanti ikut orang, melamar di pabrik, atau membuka usaha jahit sendiri, bisa. Jadi tidak ada alasan lagi melakukan tindak kriminal karena di luar tidak memiliki pekerjaan,” tegasnya.

Yuspahrudin berharap masyarakat tidak memberikan stigma kepada warga binaan yang telah bebas. “Beri mereka kesempatan berubah,” pungkasya. (atn/wa)


SOLO Warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IA Surakarta menyelesaikan pelatihan menjahit di Jogjakarta. Namun, untuk proses produksi masal produk garmen terpaksa tertunda hingga pemberlakukan PPKM darurat selesai.

Kasi Pelayanan Rumah Tahanan (Rutan) Klas IA Surakarta David Sapto Aji mengatakan, pelatihan menjahit warga binaan menggandeng Balai Dilkat Industri Jogjakarta. “Mereka mengikuti pelatihan selama 18 hari. Sudah dilakukan ujian juga, tinggal menunggu sertifikatnya terbit,” jelasnya, kemarin.

Pihak Rutan Solo mengaku telah bekerja sama dengan salah satu perusahaan garmen asal Makassar yang akan membantu quality control, hingga pendistribusian produk. “Sebenarya sudah ada pesanan 1,000 tas jinjing. Tapi karena PPKM darurat, produksi kami hentikan dulu,” ujar David.

Meski begitu, bukan berarti warga binaan berdiam diri. Mereka diminta terus mengasah kemampuan di bidang jahit memanfaatkan peralatan yang telah tersedia. Dengan adanya program ini, diharapkan warga binaan dapat  meningkatkan taraf hidup dan mampu mandiri setelah bebas.

Produksi garmen di Rutan Solo mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Jateng A. Yuspahrudin. “Ketika lokasi usaha di luar sana mulai berguguran, kita bisa bangkit. Meskipun kita di dalam (rutan), harus tetap produktif. Di sini ada 500 orang tenaga potensial,” katanya.

Banyak manfaat yang diperoleh warga binaan dari produksi garmen. Selain secara ekonomi, mereka memiliki skill dan dilengkapi sertifikat. “Mau nanti ikut orang, melamar di pabrik, atau membuka usaha jahit sendiri, bisa. Jadi tidak ada alasan lagi melakukan tindak kriminal karena di luar tidak memiliki pekerjaan,” tegasnya.

Yuspahrudin berharap masyarakat tidak memberikan stigma kepada warga binaan yang telah bebas. “Beri mereka kesempatan berubah,” pungkasya. (atn/wa)

Populer

Berita Terbaru