alexametrics
31.8 C
Surakarta
Sunday, 25 September 2022

Pasca Bullying Siswa SD di Laweyan

Agar Tak Terulang Intensifkan Patroli Guru di Jam Istirahat

SOLO – Predikat kota layak anak bagi Kota Solo mendapat ujian. Seorang siswi kelas 4 di salah satu sekolah dasar di Laweyan menjadi korban bullying atau mendapat kekerasan sesama temannya. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta pun berjanji kasus ini merupakan yang terakhir. Agar tidak terulang, guru piket setiap sekolah diminta patroli saat jam istirahat.

Kepala Disdik Kota Surakarta Dian Rineta menjelaskan, kasus tersebut bermula akibat kesalahpahaman antara kedua siswa pada akhir Agustus lalu. Akibat kesalahpahaman tersebut siswa inisial S menendang N hingga mengenai tubuh bagian tubuh korban.

“Jadi sebenarnya tidak berantem, hanya salah paham saja. Besok paginya teman-teman dari dua anak ini lapor ke guru. Mereka  bilang si N (ditendang) pipis darah. Baru setelah itu pihak sekolah menghubungi orang tua mereka dan diperiksakan ke bidan,” ujarnya, Kamis (22/9).

Berdasarkan laporan tersebut, kedua orang tua korban kemudian dipanggil ke sekolah untuk dipertemukan. Setelah pertemuan orang tua korban merasa belum lega dan menginginkan S untuk dikeluarkan dari sekolah. Dengan alasan takut jika kejadian tersebut akan terjadi lagi. Namun kepala sekolah meyakinkan bahwa kejadian itu tidak akan terjadi lagi. Guna mencegah dampak buruk lainnya, pendampingan psikologis dari guru BK juga dilakukan untuk kedua siswa.

“Kami memastikan bahwa kejadian itu tidak akan terulang lagi. Secara umum kami ingatkan sekolah untuk meningkatkan piket-piket guru dan mendekati para siswa pada jam-jam istirahat. Sekarang anaknya sudah main bareng, makan bareng dan outing kelas bareng,” ujar Kepala Disdik Kota Surakarta Dian Rineta, Kamis (22/9).

Dian menegaskan, tidak ada tindakan perkelahian antara dua siswa hingga muncul kasus bullying di sekolah. Kedua siswa memang sejak TK sudah berteman, dan pada jenjang SD selalu bersaing mendapatkan nilai yang bagus. Namun, lantaran ada sedikit salah paham, salah satu menendang temannya itu. Kesalahpahaman itu dinilai wajar terjadi di lingkungan anak-anak.

“Kami tegaskan kedua siswa tidak dikeluarkan, dan tidak terjadi perkelahian antar keduanya. Tidak ada juga itu visum-visum seperti di berita. Sekarang anak juga sudah baik-baik saja. Kalau diungkit lagi kasihan psikologis anak, mereka masih kelas IV SD,” tegasnya.

Di sisi lain, kedua orang tua siswa sebenarnya juga menerima jika harus dikeluarkan dari sekolah. Namun, Dian menekankan, bahwa sistem pendidikan yang baik bukan menempuh jalan tersebut. Berpandangan pada kurikulum yang baru, penguatan profil pelajar pancasila sudah terangkum di dalamnya. Terkait bagaimana menguatkan nilai keagamaannya dan budi pekerti yang harus terus ditingkatkan.

“Sebenarnya kemarin itu kedua orang tua juga legawa jika harus keluar. Yang satu (orang tua pelaku) legawa jika harus dikeluarkan. Dan orang tua korban juga inginnya keluar. Tapi bukan begitu pendidikan yang baik, takutnya akan timbul dendam pada diri anak setelah dewasa nanti,” jelas Dian

Dinas juga mengimbau agar orang tua siswa dan sekolah untuk melaporkan kendala-kendala atau temuan yang tidak sesuai prosedur pendidikan kepada disdik. Ruang komunikasi dan evaluasi juga dibuka secara lebar untuk masyarakat yang ingin konsultasi dan melapor terkait keluh kesah dalam dunia pendidikan. Dian juga menyarankan, kepada masyarakat agar lebih peka kepada dunia pendidikan anak.

“Kami sadar tidak mungkin semua proses itu excellent pasti ada titik-titik seperti ini. Tapikan masih bisa dikomunikasikan, apalagi SD. Kami minta kepada kepala sekolah atau guru jika ada kasus seperti ini segera laporkan kepada kami agar cepat diselesaikan,” tandasnya.

Di bagian lain, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3APPKB) Kota Surakarta Purwanti siap melakukan mediasi ulang jika ada pihak yang merasa belum puas dengan solusi saat ini. Sebelumnya mediasi sudah dilakukan oleh pihak sekolah dengan kedua orang tua siswi korban dan pelaku.

“Kalau memang masih ada rasa ketidakpuasan dari salah satu pihak orang tua ya kami perannya akan memediasi. Kalau tidak perlu pindah sekolah mengapa pindah sekolah. Hari ini (kemarin) kami sudah koordinasi dengan disdik, nanti kami tindaklajuti perkembangannya,” kata dia, Kamis (22/9).

Menurutnya fenomena kekerasan pada anak memang menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah, siswa, dan pemerintah. Pemkot terus mencoba melakukan pengawasan dan pencegahan bullying dan kekerasan anak di tingkat sekolah dengan berbagai roadshow. Namun kembali lagi fenomena itu tetap bisa muncul sekalipun upaya pencegahan sudah dilakukan.

“Yang tidak kalah pentingnya juga sisi orang tua. Kadang anak lebih mudah memaafkan dan bermain bersama lagi, tapi orang tua yang belum rela. Anak ini akhirnya jadi korban,” ujar Purwanti.

Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Surakarta, sedikit ada 17 kasus kekerasan terhadap anak di Kota Solo. Rinciannya 13 kasus kekerasan fisik, 4 lainnya kasus kekerasan seksual. Penanganan setiap kasus ilakukan dengan cara dan tahapan yang berbeda berdasar kasus.

“Penanganan suatu kasus itu tidak hanya sekali jalan, bahkan bisa berkali kali tergantung kasus yang terjadi,” jelas Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Surakarta Evi Maharani. (ves/bun/ian/dam)

SOLO – Predikat kota layak anak bagi Kota Solo mendapat ujian. Seorang siswi kelas 4 di salah satu sekolah dasar di Laweyan menjadi korban bullying atau mendapat kekerasan sesama temannya. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta pun berjanji kasus ini merupakan yang terakhir. Agar tidak terulang, guru piket setiap sekolah diminta patroli saat jam istirahat.

Kepala Disdik Kota Surakarta Dian Rineta menjelaskan, kasus tersebut bermula akibat kesalahpahaman antara kedua siswa pada akhir Agustus lalu. Akibat kesalahpahaman tersebut siswa inisial S menendang N hingga mengenai tubuh bagian tubuh korban.

“Jadi sebenarnya tidak berantem, hanya salah paham saja. Besok paginya teman-teman dari dua anak ini lapor ke guru. Mereka  bilang si N (ditendang) pipis darah. Baru setelah itu pihak sekolah menghubungi orang tua mereka dan diperiksakan ke bidan,” ujarnya, Kamis (22/9).

Berdasarkan laporan tersebut, kedua orang tua korban kemudian dipanggil ke sekolah untuk dipertemukan. Setelah pertemuan orang tua korban merasa belum lega dan menginginkan S untuk dikeluarkan dari sekolah. Dengan alasan takut jika kejadian tersebut akan terjadi lagi. Namun kepala sekolah meyakinkan bahwa kejadian itu tidak akan terjadi lagi. Guna mencegah dampak buruk lainnya, pendampingan psikologis dari guru BK juga dilakukan untuk kedua siswa.

“Kami memastikan bahwa kejadian itu tidak akan terulang lagi. Secara umum kami ingatkan sekolah untuk meningkatkan piket-piket guru dan mendekati para siswa pada jam-jam istirahat. Sekarang anaknya sudah main bareng, makan bareng dan outing kelas bareng,” ujar Kepala Disdik Kota Surakarta Dian Rineta, Kamis (22/9).

Dian menegaskan, tidak ada tindakan perkelahian antara dua siswa hingga muncul kasus bullying di sekolah. Kedua siswa memang sejak TK sudah berteman, dan pada jenjang SD selalu bersaing mendapatkan nilai yang bagus. Namun, lantaran ada sedikit salah paham, salah satu menendang temannya itu. Kesalahpahaman itu dinilai wajar terjadi di lingkungan anak-anak.

“Kami tegaskan kedua siswa tidak dikeluarkan, dan tidak terjadi perkelahian antar keduanya. Tidak ada juga itu visum-visum seperti di berita. Sekarang anak juga sudah baik-baik saja. Kalau diungkit lagi kasihan psikologis anak, mereka masih kelas IV SD,” tegasnya.

Di sisi lain, kedua orang tua siswa sebenarnya juga menerima jika harus dikeluarkan dari sekolah. Namun, Dian menekankan, bahwa sistem pendidikan yang baik bukan menempuh jalan tersebut. Berpandangan pada kurikulum yang baru, penguatan profil pelajar pancasila sudah terangkum di dalamnya. Terkait bagaimana menguatkan nilai keagamaannya dan budi pekerti yang harus terus ditingkatkan.

“Sebenarnya kemarin itu kedua orang tua juga legawa jika harus keluar. Yang satu (orang tua pelaku) legawa jika harus dikeluarkan. Dan orang tua korban juga inginnya keluar. Tapi bukan begitu pendidikan yang baik, takutnya akan timbul dendam pada diri anak setelah dewasa nanti,” jelas Dian

Dinas juga mengimbau agar orang tua siswa dan sekolah untuk melaporkan kendala-kendala atau temuan yang tidak sesuai prosedur pendidikan kepada disdik. Ruang komunikasi dan evaluasi juga dibuka secara lebar untuk masyarakat yang ingin konsultasi dan melapor terkait keluh kesah dalam dunia pendidikan. Dian juga menyarankan, kepada masyarakat agar lebih peka kepada dunia pendidikan anak.

“Kami sadar tidak mungkin semua proses itu excellent pasti ada titik-titik seperti ini. Tapikan masih bisa dikomunikasikan, apalagi SD. Kami minta kepada kepala sekolah atau guru jika ada kasus seperti ini segera laporkan kepada kami agar cepat diselesaikan,” tandasnya.

Di bagian lain, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3APPKB) Kota Surakarta Purwanti siap melakukan mediasi ulang jika ada pihak yang merasa belum puas dengan solusi saat ini. Sebelumnya mediasi sudah dilakukan oleh pihak sekolah dengan kedua orang tua siswi korban dan pelaku.

“Kalau memang masih ada rasa ketidakpuasan dari salah satu pihak orang tua ya kami perannya akan memediasi. Kalau tidak perlu pindah sekolah mengapa pindah sekolah. Hari ini (kemarin) kami sudah koordinasi dengan disdik, nanti kami tindaklajuti perkembangannya,” kata dia, Kamis (22/9).

Menurutnya fenomena kekerasan pada anak memang menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah, siswa, dan pemerintah. Pemkot terus mencoba melakukan pengawasan dan pencegahan bullying dan kekerasan anak di tingkat sekolah dengan berbagai roadshow. Namun kembali lagi fenomena itu tetap bisa muncul sekalipun upaya pencegahan sudah dilakukan.

“Yang tidak kalah pentingnya juga sisi orang tua. Kadang anak lebih mudah memaafkan dan bermain bersama lagi, tapi orang tua yang belum rela. Anak ini akhirnya jadi korban,” ujar Purwanti.

Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Surakarta, sedikit ada 17 kasus kekerasan terhadap anak di Kota Solo. Rinciannya 13 kasus kekerasan fisik, 4 lainnya kasus kekerasan seksual. Penanganan setiap kasus ilakukan dengan cara dan tahapan yang berbeda berdasar kasus.

“Penanganan suatu kasus itu tidak hanya sekali jalan, bahkan bisa berkali kali tergantung kasus yang terjadi,” jelas Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Surakarta Evi Maharani. (ves/bun/ian/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/