alexametrics
31.8 C
Surakarta
Sunday, 25 September 2022

Pasca Kasus Bullying Siswa SD di Laweyan: Anak Masih Trauma, Orang Tua Waswas

SOLO – Hartini selaku orang tua siswa yang ditendang sesama temannya di sekolah mengaku masih waswas dengan kejadian yang menimpa putrinya. Sebab, sampai saat ini anaknya terkadang masih takut ketika akan berangkat ke sekolah.

“Anak saya kadang masih trauma sejak kejadian itu. Malah sering tanya kapan pindah sekolah,” ujar Hartini ditemui koran ini bersama sejumlah orang tua siswa lainnya.

Warga Baturan, Colomadu, Karanganyar ini pun menceritakan apa yang dialami putrinya. Pada 23 Agustus lalu, beberapa jam setelah dia mengantar putrinya masuk sekolah, dia mendapat telepon pihak sekolah yang menginformasikan bahwa anaknya syok. Tak lama kemudian dia datang ke sekolah, dia bertanya ke putrinya katanya sempat ditendang oleh salah satu teman sekelas.

“Waktu itu saya tanya hanya bilang ditendang, sebatas itu saja. Karena sepertinya tidak apa-apa, saya lanjut ikut rapat orang tua karena kebetulan siang itu memang jadwalnya rapat orang tua,” kata dia.

Yang membuat pikirannya tidak tenang putrinya bilang takut ketika buang air kecil karena sebelumnya sempat berdarah. Setibanya di rumah dia langsung menanyakan asal mula kejadian itu. Dari keterangan putrinya itu, Hartini baru tahu kalau tendangan dari temannya itu mengenai alat vital putrinya. Malamnya, dia langsung membawa putrinya ke bidan.

“Kata bidan memang ada pembengkakan. Bidannya tanya kenapa sampai seperti ini saya ceritakan dan akhirnya diberi obat,” beber Hartini.

Keesokan harinya, Hartini mengantar putrinya masuk sekolah. Dia juga berkomunikasi dengan sekolah terkait kejadian yang menimpa putrinya itu. Sayang dia merasa tidak mendapat jawaban tak memuaskan dari pihak sekolah. Hartini pun kembali memeriksakan putrinya ke rumah sakit agar lebih mendalam.

“Saat di bidan itukan hanya diperiksa dibagian luarnya saja, saya takut terjadi sesuatu. Makanya saya periksakan ke dokter kandungan untuk di USG. Untung hasilnya normal dan tidak ada gangguan,” jelas dia.

Di luar fenomena kekerasan yang dialami putrinya itu, ada hal yang membuat Hartini tidak puas dengan pihak sekolah karena putrinya justru ditawari pindah sekolah jika sudah tidak kerasan di sekolah itu.

“Memang anak saya sempat curhat ke salah satu guru kalau pengin pindah setelah kejadian itu. Saya juga sudah lapor ke sekolah, katanya mau ditindaklanjuti tapi sampai sekarang belum ada hasilnya,” beber Hartini.

Hartini sadar anak sesuai putrinya kadang sering nakal dengan sesama temannya.  Namun, dia sulit menerima jika sudah mengarah kepada kekerasan fisik seperti yang dialami putrinya itu.

“Namanya anak kecil kan kadang ya berteman kadang juga berantem, tapi kalau sampai seperti ini jelas tidak benar,” ujar dia.

Di bagian lain, pihak sekolah korban di Laweyan memilih tidak banyak berkomentar karena semua sudah dilaporkan kepada Dinas Pendidikan Kota Surakarta.

“Mohon maaf kami tidak bisa memberikan komentar. Kami sudah laporkan semuanya kepada dinas. Kami mengikuti arahan dari dinas. Kepala sekolah juga tugas di luar,” ungkap salah satu guru yang tidak mau disebutkan namanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta Dian Rineta membenarkan, arahan kepada sekolah untuk tidak memberikan statement terkait kasus dugaan bullying tersebut. Hal ini dilakukan untuk memberikan kenyaman dan keamanan bagi siswa dan guru selama proses kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Memang saya arahkan untuk lewat satu pintu saja (disdik) agar tidak ada spekulasi-spekulasi yang lainnya. Kami juga sudah panggil kepala sekolahnya untuk dimintai kronologis yang sebenarnya. Dan itu juga sudah selesai tidak ada yang perlu dibesarkan,” tutur Dian. (ian/ves/bun)

SOLO – Hartini selaku orang tua siswa yang ditendang sesama temannya di sekolah mengaku masih waswas dengan kejadian yang menimpa putrinya. Sebab, sampai saat ini anaknya terkadang masih takut ketika akan berangkat ke sekolah.

“Anak saya kadang masih trauma sejak kejadian itu. Malah sering tanya kapan pindah sekolah,” ujar Hartini ditemui koran ini bersama sejumlah orang tua siswa lainnya.

Warga Baturan, Colomadu, Karanganyar ini pun menceritakan apa yang dialami putrinya. Pada 23 Agustus lalu, beberapa jam setelah dia mengantar putrinya masuk sekolah, dia mendapat telepon pihak sekolah yang menginformasikan bahwa anaknya syok. Tak lama kemudian dia datang ke sekolah, dia bertanya ke putrinya katanya sempat ditendang oleh salah satu teman sekelas.

“Waktu itu saya tanya hanya bilang ditendang, sebatas itu saja. Karena sepertinya tidak apa-apa, saya lanjut ikut rapat orang tua karena kebetulan siang itu memang jadwalnya rapat orang tua,” kata dia.

Yang membuat pikirannya tidak tenang putrinya bilang takut ketika buang air kecil karena sebelumnya sempat berdarah. Setibanya di rumah dia langsung menanyakan asal mula kejadian itu. Dari keterangan putrinya itu, Hartini baru tahu kalau tendangan dari temannya itu mengenai alat vital putrinya. Malamnya, dia langsung membawa putrinya ke bidan.

“Kata bidan memang ada pembengkakan. Bidannya tanya kenapa sampai seperti ini saya ceritakan dan akhirnya diberi obat,” beber Hartini.

Keesokan harinya, Hartini mengantar putrinya masuk sekolah. Dia juga berkomunikasi dengan sekolah terkait kejadian yang menimpa putrinya itu. Sayang dia merasa tidak mendapat jawaban tak memuaskan dari pihak sekolah. Hartini pun kembali memeriksakan putrinya ke rumah sakit agar lebih mendalam.

“Saat di bidan itukan hanya diperiksa dibagian luarnya saja, saya takut terjadi sesuatu. Makanya saya periksakan ke dokter kandungan untuk di USG. Untung hasilnya normal dan tidak ada gangguan,” jelas dia.

Di luar fenomena kekerasan yang dialami putrinya itu, ada hal yang membuat Hartini tidak puas dengan pihak sekolah karena putrinya justru ditawari pindah sekolah jika sudah tidak kerasan di sekolah itu.

“Memang anak saya sempat curhat ke salah satu guru kalau pengin pindah setelah kejadian itu. Saya juga sudah lapor ke sekolah, katanya mau ditindaklanjuti tapi sampai sekarang belum ada hasilnya,” beber Hartini.

Hartini sadar anak sesuai putrinya kadang sering nakal dengan sesama temannya.  Namun, dia sulit menerima jika sudah mengarah kepada kekerasan fisik seperti yang dialami putrinya itu.

“Namanya anak kecil kan kadang ya berteman kadang juga berantem, tapi kalau sampai seperti ini jelas tidak benar,” ujar dia.

Di bagian lain, pihak sekolah korban di Laweyan memilih tidak banyak berkomentar karena semua sudah dilaporkan kepada Dinas Pendidikan Kota Surakarta.

“Mohon maaf kami tidak bisa memberikan komentar. Kami sudah laporkan semuanya kepada dinas. Kami mengikuti arahan dari dinas. Kepala sekolah juga tugas di luar,” ungkap salah satu guru yang tidak mau disebutkan namanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta Dian Rineta membenarkan, arahan kepada sekolah untuk tidak memberikan statement terkait kasus dugaan bullying tersebut. Hal ini dilakukan untuk memberikan kenyaman dan keamanan bagi siswa dan guru selama proses kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Memang saya arahkan untuk lewat satu pintu saja (disdik) agar tidak ada spekulasi-spekulasi yang lainnya. Kami juga sudah panggil kepala sekolahnya untuk dimintai kronologis yang sebenarnya. Dan itu juga sudah selesai tidak ada yang perlu dibesarkan,” tutur Dian. (ian/ves/bun)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/