alexametrics
31.8 C
Surakarta
Sunday, 25 September 2022

Sahabat Kapas: Korban Bullying Wajib Dapat Perlindungan dan Pemulihan

SOLO  – Kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah kerap terjadi. Namun sayang jarang yang mau terbuka, bahkan menutupi kasus tersebut dan dianggap remeh atau kenakalan biasa. Padahal kalau dibiarkan bisa berpotensi pada perbuatan yang lebih parah.

Ketua Yayasan Sahabat Kapas Dian Sasmita menuturkan kasus bullying perlu direspon secara serius oleh semua pihak terutama lingkungan pendidikan.

“Pada intinya semua anak itu berhak dan bebas dilindungi dari segala bentuk kekerasan. Baik fisik, verbal, penelantaran, seksual dan lain sebagainya,” ujar Dian.

Dian mengatakan kasus bullying yang terjadi di SD Negeri di Laweyan ini, korban wajib mendapat perlindungan dan pemulihan. Hal ini agar luka fisik dan psikis bisa kembali ke sediakala. Sebab bagaimanpun juga, kejadian tersebut akan menimbulkan trauma, baik terhadap korban maupun keluarga.

“Untuk anak yang melakukan kenakalan juga harus mendapat perhatian. Perlu disadari, tumbuh kembang anak muncul dari segala sisi, tidak hanya pada kecerdasan intelektual, namun juga kederdasan mental, emosi juga perlu dibangun,” ujarnya.

Apabila anak melakukan serangan kepada temannya, lanjut Dian, berati ada sesuatu yang kurang tepat dalam pengasuhan. Sehingga anak yang melakukan kekerasan perlu mendapat intervensi dan pemulihan. Tujuannya tidak sekedar memulihkan perilaku, namun juga pola berfikir.

Pasalnya, anak memiliki perilaku yang menjadi pelaku bullying ini banyak faktor yang menyebabkan. Semisal pelaku ini merasa paling senior, paling pintar, menonjol dibandingan teman sebayanya, sehingga merasa memiliki kuasa terhadap korban.

Untuk itu, lanjut Dian perlu ada proses konseling terhadap korban dan pelaku secara terpisah karena kebutuhannya berbeda. Termasuk dengan kedua orangtua anak yang terlibat. Pasalnya anak melakukan kekerasan tidak muncul tiba-tiba.

“Dari pengalaman kami di sahabat kapas, anak yang melakukan bullying karena pola pengasuhan yang kurang tepat, karena perlu ada intervensi pada orangtua. Pendakatan yang humanis dan manusiawi yang perlu dibangun. Bukan untuk membuat anak jera, namun lebih pada memulihkan anak-anak ini tidak melakukan Kembali, bahkan bertindak yang lebih parah,” ujarnya.

Dian mengatakan proses yang tidak mudah ini harus dilakukan dan wajib mendapat dukungan dari lingkungan, sekolah dan pemerintah daerah. Bullying bukan kasus yang wajar dan dianggap sebagai kenakalan biasa, namun masuk kategori kekerasan. “Sehingga perlu support untuk menghentikan bullying,” imbuh Dian.

Untuk bentuk treatment, Dian mejelaskan tergantung dari masing-masing psikolog. Ada yang berbentuk diskusi, cerita bergambar, dan lain sebagainya. “Tekniknya banyak, yang penting bisa membuat para anak ini nyaman, mau terbuka dan lain sebagainya. Untum berapa lamanya tergantung si anak, tidak ada rumusnya, bisa sebulan, bahkan berbulan-bulan,” kata Dian.

Sementara itu, Direktur Yayasan Kakak Shoim Sahriyati kasus bullying menjadi salah satu persoalan yang ada di sekolah. Bahkan, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia Nadiem Makarim juga mengaku bullying masuk dalam tiga dosa pendidikan, selain kekerasan seksual dan intoleransi. Hal ini disebabkan karena sekolah belum banyak melakukan perannya untuk mencegah tiga hal tersebut.

Karena adanya hal tersebut, banyak sekolah yang menganggap bullying ini bukan persoalan yang besar. Karena kasus ini bisa belum terlalu terlihat, dan bagaimana peran sekolah mengatisipasi dan menangani itu menjadi hal yang sangat penting.

Disamping itu sekolah harus mengembangkan mekanisme pelaporan bila terjadi kasus bullying. Kalau itu sudah ada akan menjawab segala persoalan yang ada. “Kenapa kasus bullying berulang karena ada pembiaran. Kalau toh tidak ada pembiaran, sekolah tidak tahu, itu persoalan kan,” ujarnya.

“Maka siapkanlah SDM yang ramah anak dibagian pelaporan ini. Kenapa? Agar anak lebih terbuka dalam laporan. Karena Ketika anak laporan butuh sosok yang nyaman. Sehingga saat ini apakah SDM yaitu guru itu sendiri sudah ramah pada murid mereka Ketika ada kasus seperti ini,” imbuh Shoim.

Ketika sudah melapor, lanjut Shoim, Guru harus melihat dari perspektif anak. Karena ada juga kasus, disaat anak melapor malah guru yang menangani marah terhadap anak tersebut atau malah meremehkan. Shoim mengatakan hal ini akan menimbulkan rasa down pada si anak.

Ketika kasus tehadap sesama anak, yang mana keduanya butuh pendampingan, polanya juga berbeda. Jangan menyudutkan satu pihak, namun juga melihat dari semua sisi. “Kalau ada saksi itu malah lebih bagus. Sehingga guru bisa menjadi sosok yang berada ditengah. Kemudian orangtua juga wajib diberi tahu oleh sekolah,” jelasnya.

Kemudian dari kasus yang terjadi bisa menjadi bahan pembelajaran pihak sekolah. Tidak sekedar menyelesaikan kasus tersebut, namun bagaimana sekolah bisa mencegah kejadian serupa terulang kejadiannya.

“Karena bisa saja, ada anak lain yang melihat temannya melakukan aksi bullying, kemudian pelaku dibiarkan. Maka anak lain akan beranggapan kalau melakukan aksi bullying disekolah hal yang wajar. Ini yang nanti akan menjadi kasus yang lebih besar,”  pungkas Shoim. (atn/dam)

SOLO  – Kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah kerap terjadi. Namun sayang jarang yang mau terbuka, bahkan menutupi kasus tersebut dan dianggap remeh atau kenakalan biasa. Padahal kalau dibiarkan bisa berpotensi pada perbuatan yang lebih parah.

Ketua Yayasan Sahabat Kapas Dian Sasmita menuturkan kasus bullying perlu direspon secara serius oleh semua pihak terutama lingkungan pendidikan.

“Pada intinya semua anak itu berhak dan bebas dilindungi dari segala bentuk kekerasan. Baik fisik, verbal, penelantaran, seksual dan lain sebagainya,” ujar Dian.

Dian mengatakan kasus bullying yang terjadi di SD Negeri di Laweyan ini, korban wajib mendapat perlindungan dan pemulihan. Hal ini agar luka fisik dan psikis bisa kembali ke sediakala. Sebab bagaimanpun juga, kejadian tersebut akan menimbulkan trauma, baik terhadap korban maupun keluarga.

“Untuk anak yang melakukan kenakalan juga harus mendapat perhatian. Perlu disadari, tumbuh kembang anak muncul dari segala sisi, tidak hanya pada kecerdasan intelektual, namun juga kederdasan mental, emosi juga perlu dibangun,” ujarnya.

Apabila anak melakukan serangan kepada temannya, lanjut Dian, berati ada sesuatu yang kurang tepat dalam pengasuhan. Sehingga anak yang melakukan kekerasan perlu mendapat intervensi dan pemulihan. Tujuannya tidak sekedar memulihkan perilaku, namun juga pola berfikir.

Pasalnya, anak memiliki perilaku yang menjadi pelaku bullying ini banyak faktor yang menyebabkan. Semisal pelaku ini merasa paling senior, paling pintar, menonjol dibandingan teman sebayanya, sehingga merasa memiliki kuasa terhadap korban.

Untuk itu, lanjut Dian perlu ada proses konseling terhadap korban dan pelaku secara terpisah karena kebutuhannya berbeda. Termasuk dengan kedua orangtua anak yang terlibat. Pasalnya anak melakukan kekerasan tidak muncul tiba-tiba.

“Dari pengalaman kami di sahabat kapas, anak yang melakukan bullying karena pola pengasuhan yang kurang tepat, karena perlu ada intervensi pada orangtua. Pendakatan yang humanis dan manusiawi yang perlu dibangun. Bukan untuk membuat anak jera, namun lebih pada memulihkan anak-anak ini tidak melakukan Kembali, bahkan bertindak yang lebih parah,” ujarnya.

Dian mengatakan proses yang tidak mudah ini harus dilakukan dan wajib mendapat dukungan dari lingkungan, sekolah dan pemerintah daerah. Bullying bukan kasus yang wajar dan dianggap sebagai kenakalan biasa, namun masuk kategori kekerasan. “Sehingga perlu support untuk menghentikan bullying,” imbuh Dian.

Untuk bentuk treatment, Dian mejelaskan tergantung dari masing-masing psikolog. Ada yang berbentuk diskusi, cerita bergambar, dan lain sebagainya. “Tekniknya banyak, yang penting bisa membuat para anak ini nyaman, mau terbuka dan lain sebagainya. Untum berapa lamanya tergantung si anak, tidak ada rumusnya, bisa sebulan, bahkan berbulan-bulan,” kata Dian.

Sementara itu, Direktur Yayasan Kakak Shoim Sahriyati kasus bullying menjadi salah satu persoalan yang ada di sekolah. Bahkan, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia Nadiem Makarim juga mengaku bullying masuk dalam tiga dosa pendidikan, selain kekerasan seksual dan intoleransi. Hal ini disebabkan karena sekolah belum banyak melakukan perannya untuk mencegah tiga hal tersebut.

Karena adanya hal tersebut, banyak sekolah yang menganggap bullying ini bukan persoalan yang besar. Karena kasus ini bisa belum terlalu terlihat, dan bagaimana peran sekolah mengatisipasi dan menangani itu menjadi hal yang sangat penting.

Disamping itu sekolah harus mengembangkan mekanisme pelaporan bila terjadi kasus bullying. Kalau itu sudah ada akan menjawab segala persoalan yang ada. “Kenapa kasus bullying berulang karena ada pembiaran. Kalau toh tidak ada pembiaran, sekolah tidak tahu, itu persoalan kan,” ujarnya.

“Maka siapkanlah SDM yang ramah anak dibagian pelaporan ini. Kenapa? Agar anak lebih terbuka dalam laporan. Karena Ketika anak laporan butuh sosok yang nyaman. Sehingga saat ini apakah SDM yaitu guru itu sendiri sudah ramah pada murid mereka Ketika ada kasus seperti ini,” imbuh Shoim.

Ketika sudah melapor, lanjut Shoim, Guru harus melihat dari perspektif anak. Karena ada juga kasus, disaat anak melapor malah guru yang menangani marah terhadap anak tersebut atau malah meremehkan. Shoim mengatakan hal ini akan menimbulkan rasa down pada si anak.

Ketika kasus tehadap sesama anak, yang mana keduanya butuh pendampingan, polanya juga berbeda. Jangan menyudutkan satu pihak, namun juga melihat dari semua sisi. “Kalau ada saksi itu malah lebih bagus. Sehingga guru bisa menjadi sosok yang berada ditengah. Kemudian orangtua juga wajib diberi tahu oleh sekolah,” jelasnya.

Kemudian dari kasus yang terjadi bisa menjadi bahan pembelajaran pihak sekolah. Tidak sekedar menyelesaikan kasus tersebut, namun bagaimana sekolah bisa mencegah kejadian serupa terulang kejadiannya.

“Karena bisa saja, ada anak lain yang melihat temannya melakukan aksi bullying, kemudian pelaku dibiarkan. Maka anak lain akan beranggapan kalau melakukan aksi bullying disekolah hal yang wajar. Ini yang nanti akan menjadi kasus yang lebih besar,”  pungkas Shoim. (atn/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/