23.7 C
Surakarta
Saturday, 28 January 2023

Pemkot dan Tahir Foundation Bangun Museum Terbesar di Jateng, Jadi Ikon Wisata Edukatif

RADARSOLO.ID – Kota Bengawan akan memiliki museum yang diklaim terbesar se Jawa Tengah. Seiring peletakan batu pertama (ground breaking) Museum Budaya, Sains, dan Teknologi Bengawan Solo, yang akan berdiri di atas lahan Pedaringan, Jebres, Rabu siang (25/1/2023). Kehadiran museum baru ini digadang akan menjadi daya tarik tersebdiri bagi sektor kepariwisataan.

Ground breaking dilakukan Pemkot Surakarta bersama Dato Sri Tahir selaku investor. Dalam sambutannya, Dato Sri Tahir yang juga pendiri Tahir Foundation itu mengaku memiliki kedekatan dengan Kota Solo. Sehingga ingin berkontribusi dalam pembangunan Kota Bengawan.

“Jelek-jelek begini ada darah Solo. Ibu saya asli kelahiran Solo. Dulu waktu tinggal di Solo, keluarga kami hidup dengan ketidakmampuan. Hari ini (kemarin) kami kembali,” ucapnya.

Museum Budaya, Sains, dan Teknologi akan digarap di atas lahan seluas 5.000 meter persegi. Ditarget rampung 25 Februari 2024 mendatang.

“Kami bersyukur kepada Gusti. Dalam segala hal kami dicukupi. Enam bulan ini kami akan tentukan operatornya. Pengerjaannya wajib selesai dalam dua tahun terakhir,” beber Dato.

Setelah proyek museum kelar, keberadaannya diklaim akan meningkatkan daya tarik kepariwisataan di Kota Bengawan. Bukan hanya yang terbesar di Surakarta saja, melainkan juga yang terbesar di Jawa Tengah.

“Nanti akan dilengkapi plaza, inner gerden, nature science exhibit, rocket and aviation science exhibit, amphitheater, reception, flower garden, serta permaculture garden. Museum Budaya, Sains, dan Teknologi Bengawan Solo akan menjadi yang terbesar di Jateng,” bebernya.

Sementara itu, simbolisasi ground breaking diisi penandatanganan memorandum of understanding (MoU) oleh Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka bersama Dato Sri Tahir. Gibran mengaku ogah kalah dengan pembangunan di DI Jogjakarta dan Kota Semarang. Maka museum yang digadang jadi ikon wisata edukatif ini, akan berkolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi di Solo.

“Kalau Jogjakarta dan Semarang itu sumber pendanaanya besar. Kalau kami (Solo) kan nggak mencukupi. Makanya ada kerja sama dengan yang lainnya,” hemat Gibran. (ves/fer/dam)

RADARSOLO.ID – Kota Bengawan akan memiliki museum yang diklaim terbesar se Jawa Tengah. Seiring peletakan batu pertama (ground breaking) Museum Budaya, Sains, dan Teknologi Bengawan Solo, yang akan berdiri di atas lahan Pedaringan, Jebres, Rabu siang (25/1/2023). Kehadiran museum baru ini digadang akan menjadi daya tarik tersebdiri bagi sektor kepariwisataan.

Ground breaking dilakukan Pemkot Surakarta bersama Dato Sri Tahir selaku investor. Dalam sambutannya, Dato Sri Tahir yang juga pendiri Tahir Foundation itu mengaku memiliki kedekatan dengan Kota Solo. Sehingga ingin berkontribusi dalam pembangunan Kota Bengawan.

“Jelek-jelek begini ada darah Solo. Ibu saya asli kelahiran Solo. Dulu waktu tinggal di Solo, keluarga kami hidup dengan ketidakmampuan. Hari ini (kemarin) kami kembali,” ucapnya.

Museum Budaya, Sains, dan Teknologi akan digarap di atas lahan seluas 5.000 meter persegi. Ditarget rampung 25 Februari 2024 mendatang.

“Kami bersyukur kepada Gusti. Dalam segala hal kami dicukupi. Enam bulan ini kami akan tentukan operatornya. Pengerjaannya wajib selesai dalam dua tahun terakhir,” beber Dato.

Setelah proyek museum kelar, keberadaannya diklaim akan meningkatkan daya tarik kepariwisataan di Kota Bengawan. Bukan hanya yang terbesar di Surakarta saja, melainkan juga yang terbesar di Jawa Tengah.

“Nanti akan dilengkapi plaza, inner gerden, nature science exhibit, rocket and aviation science exhibit, amphitheater, reception, flower garden, serta permaculture garden. Museum Budaya, Sains, dan Teknologi Bengawan Solo akan menjadi yang terbesar di Jateng,” bebernya.

Sementara itu, simbolisasi ground breaking diisi penandatanganan memorandum of understanding (MoU) oleh Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka bersama Dato Sri Tahir. Gibran mengaku ogah kalah dengan pembangunan di DI Jogjakarta dan Kota Semarang. Maka museum yang digadang jadi ikon wisata edukatif ini, akan berkolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi di Solo.

“Kalau Jogjakarta dan Semarang itu sumber pendanaanya besar. Kalau kami (Solo) kan nggak mencukupi. Makanya ada kerja sama dengan yang lainnya,” hemat Gibran. (ves/fer/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img