alexametrics
31.1 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Disparpora Sragen Dorong 24 Embrio Desa Wisata Konsisten

SRAGEN – Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sragen mendata ada 24 embrio desa wisata dan empat desa rintisan. Potensi tersebut masih bisa dikembangkan dengan beragam konsep.

Kepala Disparpora Kabupaten Sragen Yuniarti menyampaikan, pengembangan konsep embrio desa wisata sesuai dengan karakteristik masing-masing. Misalnya wilayah Boyolayar disiapkan sailing atau berlayar dan makan ikan di Waduk Kedung Ombo (WKO).

”Jadi ide itu muncul dari potensi desa masing-masing. Setiap desa satu dengan yang lain tidak sama,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (3/8).

Seperti contoh desa yang sudah berjalan yakni Desa Karungan dengan pasar Bahulak. Dengan upaya yang sudah dilakukan, masuk ke dalam desa rintisan. Ada pula Siwur Emas di Gesi, Desa Batik di Kliwonan, dan Sangiran di Desa Krikilan. Dia meyakini masih ada desa-desa wisata yang akan bermunculan. Terlebih ada potensi yang masih bisa digali.

”Potensi ini bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Dia menekankan, pengelola desa wisata harus konsisiten mengembangkan wilayahnya. Disparpora siap mengajukan ke gubernur. Minimal desa tersebut sudah memiliki SK.

”Desa wisata itu dikelola masyarakat desa. Membangun komunitas yang memahami desa wisata harus dengan masyarakat,” terangnya.

Dia tidak memungkiri jika membentuk wisata buatan harus ada perawatan. Kemudian harus ada perhitungan agar balik modal terkait bangunan yang disiapkan. Sehingga dipikirkan cara untuk menjualnya. (din/adi/dam)

SRAGEN – Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sragen mendata ada 24 embrio desa wisata dan empat desa rintisan. Potensi tersebut masih bisa dikembangkan dengan beragam konsep.

Kepala Disparpora Kabupaten Sragen Yuniarti menyampaikan, pengembangan konsep embrio desa wisata sesuai dengan karakteristik masing-masing. Misalnya wilayah Boyolayar disiapkan sailing atau berlayar dan makan ikan di Waduk Kedung Ombo (WKO).

”Jadi ide itu muncul dari potensi desa masing-masing. Setiap desa satu dengan yang lain tidak sama,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (3/8).

Seperti contoh desa yang sudah berjalan yakni Desa Karungan dengan pasar Bahulak. Dengan upaya yang sudah dilakukan, masuk ke dalam desa rintisan. Ada pula Siwur Emas di Gesi, Desa Batik di Kliwonan, dan Sangiran di Desa Krikilan. Dia meyakini masih ada desa-desa wisata yang akan bermunculan. Terlebih ada potensi yang masih bisa digali.

”Potensi ini bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Dia menekankan, pengelola desa wisata harus konsisiten mengembangkan wilayahnya. Disparpora siap mengajukan ke gubernur. Minimal desa tersebut sudah memiliki SK.

”Desa wisata itu dikelola masyarakat desa. Membangun komunitas yang memahami desa wisata harus dengan masyarakat,” terangnya.

Dia tidak memungkiri jika membentuk wisata buatan harus ada perawatan. Kemudian harus ada perhitungan agar balik modal terkait bangunan yang disiapkan. Sehingga dipikirkan cara untuk menjualnya. (din/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/